Wisata Desa Disiapkan untuk Dongkrak Ekonomi Pascapandemi

Wisata Desa Disiapkan untuk Dongkrak Ekonomi Pascapandemi
Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar. (Foto: Dok )
Herman / WBP Jumat, 12 Juni 2020 | 18:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemdes PDTT) telah menyiapkan formula untuk menyongsong reborn atau kebangkitan ekonomi desa pasca-Covid-19. Strategi itu mulai kebijakan Bantuan Langsung tunai (BLT) Dana Desa yang diperpanjang, hingga memaksimalkan desa wisata dan produk-produk pertanian.

Mendes Desa Abdul Halim Iskandar menyampaikan, untuk BLT Dana Desa, manfaatnya telah diperbesar dari sebelumnya untuk tiga bulan menjadi enam bulan, di mana setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) mendapatkan BLT Dana Desa Rp 600.000 per bulan selama tiga bulan mulai April 2020, kemudian di tiga bulan berikutnya mendapatkan Rp 300.000 per bulan.

“Mudah-mudahan tidak lagi harus diperpanjang karena kebutuhan yang lain dari Dana Desa juga masih menunggu berkaitan sektor ekonomi,” kata Abdul Halim dalam International Village Webinar yang mengangkat tema ‘Strategi Desa Mengahadapi New Normal’, Jumat (12/6/2020).

Baca juga: Ini Cara Mendes Bangkitkan Ekonomi Desa Pasca Pandemi

Bila dihitung secara kasar, dari total Dana Desa yang diterima setiap desa, sekitar 30 persen digunakan untuk BLT Dana Desa, untuk penanganan Covid-19 di tingkat desa 10 persen, Padat Karya Tunai 10 persen, kemudian tambahan manfaat BLT Dana Desa selama tiga bulan sekitar 15 persen, sehingga totalnya 65 persen.

“Dari perhitungan tersebut, masih ada kekuatan fiskal sekitar 35 persen dari total Dana Desa. Jadi kalau misalnya desa menerima Rp 1 miliar, berarti masih ada sekitar Rp 350 juta. Ini yang sedang kita upayakan untuk dilakukan pemetaan di masing-masing desa yang bisa membawa ke arah reborn ekonomi,” paparnya.

Abdul Halim memberi contoh pemanfaatan sisa Dana Desa tersebut untuk kegiatan Padat Karya Tunai terkait persiapan dibukanya kembali wisata desa, mulai pembersihan hingga pembenahan tempat wisata milik desa.

“Untuk menyongsong reborn ekonomi, dilakukan penataan wisata desa dengan menggunakan Dana Desa, sehingga nanti pada saat sudah dibuka, semua sudah siap karena pasti akan terjadi reborn kunjungan juga. Sudah sekian lama masyarakat menahan diri untuk tidak ke tempat wisata. Begitu dibuka, pasti akan banyak yang datang dan ini bisa memberikan banyak efek bagi perekonomian di desa,” kata Abdul Halim.

Berbagai produk yang dihasilkan UMKM di tingkat desa dan gerakan BUMDes menurutnya akan dioptimalkan, termasuk menyongsong ketahanan pangan dengan menyiapkan kegiatan intensifikasi hasil tanaman pangan mulai dari hulu hingga ke hilir.

“Kita sudah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan BUMN, Himbara (Himpunan Nank Negara), dan platform digital agar lebih memfasilitasi peningkatan penjualan berbagai produk unggulan desa melalui jalur online. Hal ini juga sudah berjalan sejak munculnya Covid-19,” ujar Mendes PDTT.

Menyosong tatanan kehidupan normal yang baru atau new normal, Abdul Halim mengatakan setiap desa juga juga sudah menyiapkan berbagai protokol kesehatan yang pada intinya adalah menekankan budaya bersih pada seluruh warga desa. “New normal ini juga bukan sekedar perubahan perilaku, tetapi juga perubahan paradigma, cara pandang kita terhadap lingkungan,” kata Abdul Halim.

Desa Tangguh
Berbagai desa saat ini tengah bersiap untuk reborn dengan menyiapkan berbagai strategi, salah satunya Kabupaten Pamekasan di Jawa Timur melalui program Desa Hebat atau Desa Tangguh. Bupati Pamekasan Baddrut Tamam yang juga menjadi pembicara dalam International Village Webinar menyampaikan, dalam menghadapi pandemi Covid-19, hal utama adalah menciptakan kesetiakawasan sosial dan gotong royong.

“Dalam menghadapi pandemi Covid-19, Pamekasan dengan cepat melakukan beberapa langkah dalam menyiapkan desa hebat atau desa tangguh, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap adanya penyebaran baru di klaster yang berbeda,” kata Baddrut Tamam.

Untuk mempersiapkan dibukanya kembali kegiatan pendidikan, termasuk kegiatan di pesantren, berbagai persiapan juga sudah dilakukan. Antara lain dengan memproduksi masker yang melibatkan warga untuk dibagikan secara gratis kepada para santri.

“Di Pamekasan ada 342 pesantren, di mana satu pesantrennya ada yang memiliki santri antara 10.000, 20.000, sampai yang terkecil hanya 50 santri. Untuk itu, imunitas para santri akan kita kuatkan dengan memberikan vitamin E dan C, termasuk untuk pengasuh pesantrennya. Kita juga menyiapkan masker gratis dan yang memproduksinya adalah masyarakat di sekitar pesantren. Termasuk juga memproduksi jamu untuk daya tahan para santri,” terang Baddrut Tamam.



Sumber: BeritaSatu.com