BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2020 Berkisar 0,9 - 1,9%

BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2020 Berkisar 0,9 - 1,9%
Perry Warjiyo. (Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia)
Herman / FER Kamis, 18 Juni 2020 | 16:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan ekonomi Indonesia pada tahun ini masih bisa tumbuh positif, di tengah hantaman pandemi virus corona atau Covid-19 yang memengaruhi banyak sektor. Prediksi ini berbeda dengan versi pemerintah, di mana ekonomi Indonesia pada skenario berat akan tumbuh 2,3 persen, sedangkan pada skenario sangat berat bisa minus 0,4 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini diperkirakan turun pada kisaran 0,9 persen hingga 1,9 persen, namun akan kembali meningkat pada kisaran 5,0 persen hingga 6,0 persen pada 2021 yang didorong dampak perbaikan ekonomi global dan stimulus kebijakan pemerintah.

"Kami mencermati berbagai perkembangan yang ada, baik dari sisi global maupun domestik. Kami juga mencermati turunnya penjualan ritel, demikian juga penurunan pendapatan masyarakat. Sebagaimana polanya, kuartal II ada kecenderungan paling rendah, sebelum kemudian meningkat di triwulan III maupun IV. Sehingga kami memperkirakan untuk keseluruhan tahun pertumbuhan ekonomi Indonesia kisarannya 0,9 persen hingga 1,9 persen,” kata Perry Warjiyo dalam live streaming hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (18/6/2020).

Ke depan, lanjut Perry, BI terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait agar berbagai kebijakan yang ditempuh dapat semakin efektif dalam mendorong pemulihan ekonomi selama dan setelah pandemi Covid-19.

"Untuk proses pemulihannya, ke depan tentu saja akan sangat tergantung pada bagaimana pola nanti mengarah pada new normal. Yang saya pahami dari garis kebijakan Presiden, new normal itu bukan berarti kembali pada kebiasaan lama, tetapi bagaimana secara bertahap 9 sektor sudah diputuskan oleh pemerintah untuk dibuka secara bertahap dengan tetap menerapkan protokol Covid-19 yang produktif dan aman. Tentu saja secara bertahap ini akan meningkatkan aktivitas ekonomi dan dunia usaha. Faktor kedua adalah seberapa cepat stimulus fiskal bisa diadopsi kepada masyarakat,” kata Perry.

Ketahanan Eksternal

Sementara itu, lanjut Perry, ketahanan sektor eksternal ekonomi Indonesia kuartal II 2020 tetap baik. Defisit transaksi berjalan diprakirakan rendah didukung prospek perbaikan neraca perdagangan akibat penurunan impor sejalan permintaan domestik yang lemah dan berkurangnya kebutuhan input produksi untuk kegiatan ekspor.

Data Mei 2020 menunjukkan neraca perdagangan mencatat surplus US$ 2,09 miliar, membaik dari kondisi bulan April yang mengalami defisit US$ 372,1 juta. Selain itu, aliran masuk modal asing juga kembali berlanjut dipengaruhi meredanya ketidakpastian pasar keuangan global serta tetap tingginya daya tarik aset keuangan domestik dan tetap baiknya prospek perekonomian Indonesia.

"Aliran modal asing dalam bentuk investasi portofolio pada triwulan II 2020 hingga 15 Juni 2020 tercatat net inflows sebesar US$ 7,3 miliar. Posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2020 meningkat menjadi US$ 130,5 miliar, setara pembiayaan 8,3 bulan impor atau 8,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” papar Perry.

Ke depan, lanjut Perry, terdapat kecenderungan defisit transaksi berjalan akan lebih rendah, dan terdapat kemungkinan akan berada di sekitar 1,5 persen PDB pada 2020, jauh di bawah prakiraan semula 2,5 persen hingga 3,0 persen PDB. Demikian pula defisit transaksi berjalan pada 2021 diprakirakan akan berada di bawah 2,5 persen hingga 3,0 persen PDB.



Sumber: BeritaSatu.com