Harga Minyak Menguat 2% Didorong Optimisme Pemotongan Produksi

Harga Minyak Menguat 2% Didorong Optimisme Pemotongan Produksi
Ilustrasi eksplorasi minyak lepas pantai. (Foto: AFP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Sabtu, 20 Juni 2020 | 06:04 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak mentah dunia naik pada perdagangan Jumat (19/6/2020) setelah sempat menguat signifikan ke level tertinggi di awal sesi di tengah kekhawatiran bahwa penyebaran lanjutan virus corona (Covid-19) dapat menghambat rebound ekonomi Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Pagi Ini, Harga Minyak di Perdagangan Asia Menguat

Minyak mentah Brent naik 61 sen menjadi US$ 42,12 per barel, setelah sempat menguat ke US$ 42,92 per barel dan kemudian berbalik negatif. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate naik 2,34 persen atau 91 sen, menjadi US$ 39,75 per barel.

Patokan harga minyak melemah dari posisi tertinggi setelah Presiden Federal Reserve Boston Eric Rosengren mengatakan ekonomi AS banyak membutuhkan lebih banyak dukungan fiskal dan moneter.

Rosengren mengulangi pandangannya bahwa tingkat pengangguran AS kemungkinan akan berada pada tingkat dua digit pada akhir 2020. Dia juga memperingatkan agar tidak membuka kembali ekonomi terlalu cepat untuk mengatasi penyebaran virus.

Meningkatkan kekhawatiran, Apple mengumumkan akan menutup kembali toko-toko tertentu ketika virus menyebar lebih lanjut.

"Ini menakuti semua orang di North dan South Carolina," kata mitra di hedge fund energi Again Capital John Kilduff, New York.

Penguatan harga minyak di awal sesi setelah Irak dan Kazakhstan, selama pertemuan panel OPEC+ pada Kamis, berjanji mematuhi pemotongan minyak yang lebih baik, kata sumber. Ini berarti pembatasan produksi OPEC+, dapat lebih banyak lagi pada bulan Juli.

Sementara stok minyak mentah AS mencapai rekor lain minggu ini, tetapi persediaan bahan bakar turun. Hitungan rig minyak dan gas AS, indikator awal output masa depan, jatuh ke rekor terendah selama tujuh minggu berturut-turut, menurut data perusahaan jasa energi Baker Hughes Co.



Sumber: CNBC