Perbankan dan Dunia Usaha Berbagi Peran Hadapi Pandemi

Perbankan dan Dunia Usaha Berbagi Peran Hadapi Pandemi
Pedagang menunggu pembeli di sebuah pasar tradisional di Jakarta. (Foto: Beritasatu Photo / Joanito De Saojoao)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 22 Juni 2020 | 13:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi virus corona (Covid-19) membuat banyak pengusaha kesulitan memenuhi kewajiban kredit perbankan lantaran bisnisnya sepi. Tak jarang, mereka terpaksa mengurangi karyawannya demi mengurangi beban keuangan.

“Dalam pantauan kami memang secara NPL (Non Performing Loan/raso kredit bermasalah) sudah mulai ada sedikit kenaikan, yaitu dari 2,77 persen pada bulan sebelumnya menjadi 2,89 persen pada posisi saat ini. Namun dari segi recovery rate (kemampuan pemulihan) masih sangat aman, yaitu mencapai 212,05 persen,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Heru Kristiyana, dalam seminar bertema ‘Strategi Perbankan Bangkitkan Dunia Usaha di Tengah Pandemi Covid-19" secara virtual pekan lalu, seperti dikutip dalam keterangan yang diterima redaksi Senin (22/6/2020).

OJK Heru mengatakan, mengajak semua pihak tidak panik dalam menghadapi pandemi. Meski demikian tetap mengedepankan kewaspadaan. Pemerintah melalui OJK telah menyiapkan berbagai langkah sesuai perkembangan di pasar. "Paket relaksasi tahap pertama telah dijalankan lewat POJK Nomor 11. Bila memang diperlukan, paket-paket (relaksasi) lanjutan juga sudah siap (dijalankan),” tutur Heru.

Baca juga: BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2020 Berkisar 0,9 - 1,9%

Sejauh ini, menurut Heru, OJK telah menyediakan berbagai opsi restrukturisasi kredit yang bisa dijalankan perbankan terhadap nasabah yang sedang bermasalah. Beberapa opsi tersebut di antaranya pengembalian posisi bunga ke pokok, penyesuaian jangka waktu kredit, penambahan fasilitas hingga konversi nilai kredit ke penyertaan modal sementara. “Semua opsi itu kami serahkan sepenuhnya ke masing-masing bank dan lembaga pembiayaannya, agar bisa disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik nasabah," papar Heru.

Sementara dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, menyatakan bahwa persoalan likuiditas menjadi hal krusial yang harus benar-benar dijaga guna menyelamatkan industri perbankan dan perekonomian nasional.

Di tengah pandemi, Jahja mengajak seluruh bank untuk lebih mengutamakan likuiditas dibanding profitabilitas perusahaan. “Kita bisa banyak belajar dari krisis 1998 di mana perekonomian babak-belur gara-gara likuiditas tidak tersedia di pasar. Dolar dari Rp 2.000an melonjak drastis hingga Rp 15.000an, otomatis likuiditas kita terkuras,” ujar Jahja.

Dikisahkannya, periode awal krisis masuk Indonesia diawali dengan ditutupnya 16 bank-bank kecil. Karena saat itu belum ada sistem penjaminan yang saat ini diperankan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), maka penutupan bank membuat masyarakat panik. “Karena itu, dengan pengalaman yang ada, kita harus satukan semangat untuk menjaga likuiditas. Soal profitabilitas nanti dulu saja," kata Jahja.

Dengan adanya komitmen perbankan, para pengusaha berharap memiliki ruang lebih untuk berimprovisasi untuk dapat bertahan di tengah pandemi, termasuk opsi memanfaatkan fasilitas restrukturisasi kredit bagi para pengusaha yang cashflownya bermasalah.

“Mendengar komitmen Bapak Jahja bahwa yang utama saat ini adalah saling bahu-membahu menjaga likuiditas, kami dari dunia sangat senang. Artinya kita sudah sepaham bahwa jangan dulu mengedepankan profitabilitas. Mari kita saling berkolaborasi agar bisa menghadapi (kondisi pandemi) ini bersama-sama,” ujar Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaya Kamdani, dalam kesempatan yang sama.

Komitmen saling membantu tersebut, untuk mendorong pengusaha kecil dan menengah agar dapat bertahan di tengah keterbatasan modal. Misalnya saja dalam hal ketersediaan pasokan bahan baku, kondisi pasar yang sedang lesu, hingga penguasaan teknologi yang masih sangat terbatas di kalangan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). “Mungkin ajakan untuk going digital itu mudah bagi para pengusaha besar, tapi bagi mereka yang (usahanya) kecil-kecil ini, tidak mudah. Kami berkomitmen membantu mereka (UMKM) ini, karena kalau mereka bisa survive maka pasar juga akan kembali bagus," tegas Shinta.

 



Sumber: BeritaSatu.com