Kaum Milenial Belum Sadar Pentingnya Investasi

Kaum Milenial Belum Sadar Pentingnya Investasi
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Herman / FER Senin, 22 Juni 2020 | 16:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Berinvestasi merupakan langkah penting yang harus dimulai dari sekarang untuk melindungi aset dari penurunan nilai akibat inflasi. Namun, belum banyak yang paham akan pentingnya investasi. Karenanya, sosialisasi dan edukasi sangat penting untuk terus digaungkan, khususnya untuk kaum milenial.

Baca Juga: Milenial Minati Konsep Hunian Praktis dan Efisien

Vice President Wealth Management Division PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Martua Hanry Koestety Panggabean menyampaikan, selama ini kelompok milenial kebanyakan mengeluarkan uangnya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup seperti liburan atau hangout. Hanya 2 persen saja dari pendapatan mereka yang disisihkan untuk investasi.

“Kenapa hanya 2 persen? Karena ada tekanan gaya hidup. Misalnya, hari ini sudah ngopi belum ya? Hal-hal yang seperti ini, tetapi setiap hari. Alasan lainnya karena kurang pengetahuan akibat tingkat literasinya yang rendah, dan juga perilaku boros yang lebih ke spending karena lingkungan pertemananya seperti itu,” kata Martua Hanry Koestety Panggabean dalam acara Literasi Keuangan Goes to Campus yang diselenggarakan BeritaSatu Media Holdings bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank BRI, Avrist Assurance, dan Universitas Trisakti melalui tayangan webinar, Senin (22/6/2020).

Dikatakan Martua, investasi sebetulnya hal yang sederhana. Untuk memulainya, hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan tujuan dari investasi tersebut. Misalnya saja untuk kebutuhan dana pensiun di hari tua.

“Ketika nanti kita semakin berumur, kemungkinan besar pendapatan kita mulai menurun, tetapi pengeluaran untuk kesehatan malah meningkat. Makanya harus direncanakan dari sekarang. Jadi perlu direncanakan kebutuhan-kebutuhan kita ke depannya seperti apa dan langsung dieksekusi. Berapa bisanya setiap bulan, langsung saja eksekusi. Kalau bisanya 10 persen, eksekusi saja setiap bulan dan itu dilakukan secara teratur. Kalau memang ada kelebihan uang, masukkan lagi,” papar Martua.

Baca Juga: Saat Ini, Waktu yang Tepat Investasi Reksa Dana

Yang juga harus diperhitungkan adalah jangka waktu investasi. Martua menegaskan, semakin cepat kita berinvestasi, maka hasilnya akan semakin optimal. Sebab dengan menunda investasi, butuh tiga hingga empat kali lipat untuk mendapatkan hasil yang sama. “Jadi untuk mahasiswa, berapapun adanya, investasikan dan jangan ditunda-tunda,” pesan Martua.

Untuk merespon perilaku masyarakat yang saat ini lebih nyaman bertransaksi secara online, Martua menyampaikan Bank BRI juga sudah menyiapkan berbagai platform digital, salah satunya BRImo.

"Di Bank BRI sudah banyak sekali transaksi yang bisa dilakukan secara online. Mau investasi apapun atau menabung bisa lewat BRImo. Sekarang juga bisa membuka rekening tanpa harus datang ke kantor cabang, cukup melalui smartphone. Untuk investasi SBN ORI017 melalui Bank BRI juga bisa dilakukan secara online,” terang Martua.

Mayoritas Belum Berinvestasi

Gambaran yang sama juga terlihat dalam hasil survei yang dilakukan Universitas Trisaksi, di mana baru 21,2 persen responden yang disurvei mengaku sudah berinvestasi, utamanya adalah menambung emas dan saham. Sedangkan 75 persen belum berinvestasi, dan 3,8 persen mengaku tidak tahu cara berinvestasi.

“Edukasi terkait pentingnya investasi ini memang harus dilakukan terus menerus. Mahasiswa dituntut untuk mulai paham bagaimana mengelola keuangan,” kata Kepala Program Studi Sarjana Terapan D IV Keuangan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti, Tri Kunawangsih Purnamaningrum.

Universitas Trisakti saat ini juga sudah melengkapi kampusnya dengan Galeri Bursa Efek, di mana para mahasiswa bisa belajar atau berinvestasi saham. Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis juga ada beberapa mata kuliah yang mengajarkan tentang bagaimana berinvestasi hingga cara menghitung risiko dan return-nya, dengan harapan pengetahuan mahasiswa terhadap investasi semakin luas.

“Selama ini uang kita kebanyakan digunakan untuk memenuhi sesuatu yang sifatnya menyenangkan, tidak berpikir bahwa hidup kita itu masih panjang. Jadi saya kira edukasi literasi keuangan ini harus disampaikan terus-menerus kepada para mahasiswa agar nantinya mereka bisa mengelola keuangan dengan sebaik-baiknya,” kata Tri.

Asuransi

Selain investasi, pemahaman akan asuransi juga sangat penting untuk memproteksi masa depan. Apalagi masa depan itu penuh ketidakpastian, sehingga segala sesuatunya harus dipersiapkan.

“Pada saat usia produktif, kita tentu berharap semua kondisi akan berjalan seperti yang diharapkan. Semua cita-cita keuangan kita bisa terpenuhi. Tetapi ada hal-hal tak terduga yang bisa terjadi di tengah jalan saat kita tengah mempersiapkan kebutuhan untuk keluarga mapan. Misalnya mengalami kecelakaan atau sakit di usia produktif, atau tidak disangka terjadi risiko meninggal mendadak yang tentunya akan berisiko pada keluarga yang ditinggalkan,” kata Regional Chief Agency Officer PT Avrist Assurance, Ainun Wulandari.

Bila suatu hari terjadi risiko hidup tersebut tanpa adanya persiapan, investasi yang sudah dikumpulkan bisa hilang dalam sekejab. Karenanya, penting sekali memiliki asuransi untuk menjaga investasi kita tetap aman ketika risiko hidup terjadi.

"Investasi itu penting, dan menjaga aset atau diri kita dari risiko yang bisa terjadi juga sangat penting. Dari beberapa pengeluaran kita untuk gaya hidup yang banyak sekali, pasti ada beberapa yang bisa disisihkan,” kata Ainun.

Co-Founder dan CEO Lima Dua Group, Jimmy Dimas Wahyu, menambahkan, dalam melakukan perencanaan keuangan, umumnya yang dilakukan adalah mengubah gaya hidup. Atau bila hal ini tidak ingin dilakukan, berati harus menambah sumber-sumber pendapatan.

“Mungkin kita tidak perlu mengubah gaya hidup, tetapi yang diperlukan adalah menambah sumber pendapatan. Di jaman serba digital ini, sebetulnya banyak peluang yang bisa diraih untuk menambah pendapatan. Dan jangan pernah pesimis, khususnya untuk mahasiswa. Walaupun belum lulus kuliah dan belum bekerja, ada banyak peluang yang bisa diambil,” kata Jimmy.

Dari berbagai jenis investasi, menurut Jimmy, reksadana merupakan salah satu produk investasi yang ramah untuk mahasiswa. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui dalam memilih reksadana. Yang utama, pastikan kita berinvestasi pada manajer investasi yang profesional, dan pahami terlebih dahulu mengenai produk-produk reksadana, termasuk risiko dan return-nya.

"Reksadana secara umum biasanya dikenal dalam empat jenis, yaitu reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan reksadana saham. Tentunya masing-masing produk memilik karakteristik, risiko dan return yang berbeda-beda. Di sana lah kita perlu melakukan pembelajaran dan disesuaikan dengan profil kita,” kata Jimmy.



Sumber: BeritaSatu.com