Tiga Syarat Agar Berhasil dalam Investasi

Tiga Syarat Agar Berhasil dalam Investasi
Keynote Speech oleh Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tirta Segara saat acara Webinar Seminar Literasi Keuangan, Goes To Campus dengan tema “Cerdasnya Berinvestasi Saat Pandemi Covid-19”” live streaming di Beritasatu.com, investor.id, youtube, medsos Beritasatu Media di Jakarta, Senin (22/6/2020). (Foto: Beritasatu Photo / Uthan AR)
Herman / FER Senin, 22 Juni 2020 | 16:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen (OJK), Tirta Segara menegaskan, literasi keuangan yang memadai merupakan hal yang perlu dimiliki oleh seluruh masyarakat sejak dini. Hal tersebut merupakan sebuah proses, di mana pada awalnya adalah untuk meningkatkan awareness, kemudian nantinya akan menjadi pengetahuan, dan bila sudah dipahami maka perilakunya akan menjadi lebih positif.

Baca Juga: Kaum Milenial Belum Sadar Pentingnya Investasi

Adapun tahap yang terakhir adalah advokasi, di mana tidak hanya mulai berinvestasi saja, tetapi juga mengedukasi orang-orang di sekelilingnya untuk ikut berinvestasi.

“Literasi keuangan merupakan sebuah proses panjang yang harus dimulai sejak dini. Jadi para mahasiswa juga harus paham,” kata Tirta Segara saat menyampaikan keynote speech dalam acara Literasi Keuangan Goes to Campus yang diselenggarakan BeritaSatu Media Holdings bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank BRI, Avrist Assurance, dan Universitas Trisakti melalui webinar, Senin (22/6/2020).

Agar berhasil dalam berinvestasi atau mengelola keuangan pribadi, Tirta menyampaikan ada tiga hal utama yang harus diperhatikan. Pertama adalah menentukan tujuan keuangan dalam jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang, sehingga investasi yang dilakukan bisa sesuai.

Baca Juga: Milenial Harus Tetap Aktif dan Berkarya di Masa Pandemi

Kedua, memiliki pemahaman terhadap produk investasi. Tidak hanya keuntungannya, tetapi juga risiko-risikonya. "Ketiga harus disiplin dalam menjalankan rencana keuangan yang ditetapkan," jelas Tirta.

Meskipun dalam situasi pandemi Covid-19, menurut Tirta, edukasi mengenai literasi keuangan harus tetap berjalan karena sangat penting untuk meningkatkan keterampilan keuangan dan juga kesadaran investasi. Pada akhirnya hal ini akan meningkatkan ketahanan keuangan, sehingga bisa menyiapkan masa depan dengan lebih baik.

Tirta menambahkan, anak-anak muda lebih rentan dengan finansial karena mereka umumnya lebih banyak menghabiskan uang untuk kenyamanan atau memenuhi gaya hidup. Pengalaman dianggap lebih penting dibandingkan value possession.

Baca Juga: Milenial Minati Konsep Hunian Praktis dan Efisien

"Dari hasil survei literasi keuangan tahun 2019 yang dilakukan OJK, hanya 6 persen masyarakat Indonesia yang memiliki dana pensiun. Selebihnya, menggantungkan pada ahli waris atau pesangon. Padahal, tanpa program pensiun yang memadai, kita hanya akan menjadi generasi sandwitch. Karenanya, peningkatan pemahaman keuangan dan kepemilikan produk investasi di kalangan anak muda menjadi hal yang sangat krusial,” kata Tirta.

Rektor Universitas Trisakti Ali Ghufron Mukti juga menyampaikan, literasi keuangan merupakan sebuah rangkaian proses dan juga aktifitas untuk meningkatkan pengetahuan, keyakinan, serta keterampilan masyarakat untuk mampu mengelola keuangan dengan lebih baik.

“Bila kita memiliki pengetahuan tentang keuangan, kita bisa (lebih baik) mengambil keputusan untuk apa uang kita, apakah untuk ditabung, investasi, asuransi, dan sebagainya,” kata Ali Ghufron.



Sumber: BeritaSatu.com