Luhut Bicara Suka Duka Handle Investasi Tiongkok

Luhut Bicara Suka Duka Handle Investasi Tiongkok
Luhut Pandjaitan. (Foto: Antara)
Markus Junianto Sihaloho / WBP Senin, 22 Juni 2020 | 18:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, di hadapan Badan Anggaran (Banggar) DPR berbicara mengenai kebijakan pemerintah menggenjot ekonomi termasuk investasi Tiongkok yang belakangan kerap menjadi bahan nyinyir di media sosial (medsos).

Di awal, Luhut menjelaskan soal perlambatan ekonomi global akibat pandemi Covid-19. Walau di tengah perlambatan, Bank Dunia (World Bank) sudah menyebut Indonesia sebaagi emerging market terbaik, secara makro maupun mikro.

Dalam kondisi itu, pemerintah terus memelihara hubungan baik dengan investor asing. Tiongkok termasuk di dalamnya, sebagai negara yang memegang 18 persen porsi ekonomi dunia. Secara geografis, Tiongkok dekat dengan Indonesia sehingga keseimbangan tetap harus dipelihara.

"Zaman pemerintahan Joko Widodo, hubungan kita dengan Timur Tengah, Tiongkok dan Amerika itu saya bisa katakan sangat baik. Dengan Abu Dhabi masuk investasi hampir US$ 20 miliar sepanjang sejarah republik dan itu on going. Dengan Tiongkok kita juga terus meningkat. Dan mereka mematuhi kriteria yang kita berikan. Jadi tidak sekadar dia masuk," tambahnya kata Luhut, Senin (22/6/2020).

Baca juga: Pemerintah Pastikan Pengembangan Kendaraan Listrik Berlanjut

Dijelaskannya, ada lima kriteria agar Tiongkok dibolehkan masuk ke Indonesia yakni harus bawa first class technology; ada technology transfer; masuk ke industri berbasis added value; skema pendanaan bussiness to bussiness untuk menghindari debt rate; dan menggunakan tenaga kerja Indonesia sebanyak mungkin.

Dalam konteks tenaga kerja, Indonesia tidak punya engineer yang cukup dalam bidang metodologi. Sehingga disiapkan politeknik bersama Pemerintah Indonesia. Sekarang ada tiga politeknik di Indonesia Timur yang berkelas. Di antaranya di Morowali dan Konawe. Para dosennya diambil dari kampus ternama seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Surabaya (ITS). "Itu adalah proses yang banyak tidak dipahami. Sekarang ini kita punya pegawai Indonesia itu 92 persen di sana. Masih ada 8 persen asing dari Tiongkok dan Prancis," kata dia.

Luhut lalu bicara soal misi mempercepat pemulihan ekonomi dan reformasi sosial. Fokus pembangunan itu dikaji dengan cermat.

Luhut menyatakan kementeriannya menyadari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) banyak di sektor pariwisata dan berkembang di UMKM. Sehingga ada pertumbuhan besar yaitu UMKM online baru 8 juta dan akan dinaikkan menjadi 10 juta. "Dan sekarang dalam satu bulan pertama sudah hampir 500.000 tambahan online. Dampaknya, selling-nya mereka itu sudah hampir 2.100 persen dan ini akan membuat UMKM di daerah terpencil bisa masuk dalam sistem ini," ulasnya.

Dalam pemulihan industri pariwisata, pihaknya banyak berbagi tugas dengan Kementerian Perekonomian yang dipimpin Airlangga Hartarto.

Mengenai kedaulatan maritim, Luhut menyatakan pemerintah tidak pernah kompromi dengan siap apun. Di Natuna, pemerintah memberikan pesan yang jelas kepada tetangga, bahwa Indonesia tidak pernah kompromi terkait integritas teritorial. "Itu jelas. Jadi berteman boleh tapi jangan sampai mengusik kita. Kau boleh investasi di negeriku, tapi kalau soal teritori integritas, kita tidak akan pernah diskusi mengenai itu," kata Luhut.

Yang jelas, lanjutnya, selama berpuluh-puluh tahun Indonesia selalu mengekspor material mentah, tidak pernah dengan nilai tambah (value added). Sekarang Indonesia mencoba agar bahan mentah nikel diolah di dalam negeri menjadi baterai litium.

"Kita punya cadangan 49 persen litium baterai dunia dan itu kelas atas. 2024 kita targetkan kita punya industri litium battery dan masuk pada global supply chain. Karena pada 2025 itu di Eropa akan menggunakan baterai litium dan sumbernya adalah Indonesia. Jadi Indonesia akan memainkan peran penting," ulasnya.

Selama ini, ekspor bahan mentah nikel itu 98 persennya ke Tiongkok. Pihaknya sedang mengusulkan agar ekspor itu dilarang. Namun, pintu akan dibuka jika bersedia investasi pengolahan di Indonesia.

Luhut mengatakan, skema yang sama akan diberlakukan untuk komoditas bahan mentah tembaga, yang selama ini hanya diekspor secara mentah. "Sekarang kita paksa harus ada. Jadi dengan Kementerian BUMN, Inalum kongsi dengan Sing Sang dari Tiongkok dan kemudian nanti Freeport membangun smelter di Wedabei Halmahera Tengah. Ini penting karena nanti kita akan punya copper, pipa tembaga sampai ke industri elektronik," urainya.

Dari sisi iklim investasi, Indonesia merupakan negara yang sedang dilihat banyak pihak. Kebanyakan masuk untuk sovereign wealth fund. 

Luhut mengaku pihaknya dikejar banyak calon investor yang ingin segera berproses cepat berinvestasi. "Dan saya laporkan ke mereka kami masih fokus pada covid-19 dan akan segera masuk ke situ," ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com