Bea Masuk 575 Produk Naik, Ekspor ke Arab Bisa Tertekan

Bea Masuk 575 Produk Naik, Ekspor ke Arab Bisa Tertekan
Ilustrasi ekspor. (Foto: Antara)
Herman / WBP Selasa, 23 Juni 2020 | 16:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Menyusul kenaikan bea masuk 575 jenis produk yang diberlakukan Pemerintah Arab Saudi melalui General Authority of Saudi Customs pada 18 Juni 2020 lalu, Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto menegaskan, Kementerian Perdagangan (Kemdag) segera menyusun langkah antisipatif untuk menjaga kinerja ekspor nasional.

Kenaikan bea masuk ini diakibatkan jatuhnya harga minyak dunia yang menyebabkan berkurangnya penerimaan negara, sehingga Pemerintah Arab Saudi berupaya mengoptimalkan penerimaan dari pajak. Kenaikan bea masuk ini meliputi 575 jenis antara lain produk hewan dan makanan; bahan kimia, plastik dan turunannya; barang kulit dan turunannya; produk jerami; produk kertas dan turunannya; karpet, pakaian, kain, benang penutup kepala, dan sepatu; produk marmer dan keramik, kaca, besi, nikel, tembaga, alumunium, seng dan seluruh produknya; mesin dan produk mesin, peralatan dan suku cadang listrik, sebagian produk otomotif dan suku cadangnya; produk peralatan optik, bingkai kaca mata, sebagian produk furnitur, sebagian produk permainan (game), serta sebagian produk manufaktur.

“Kenaikan bea masuk yang ditetapkan Arab Saudi berpotensi menekan ekspor negara-negara mitra Arab Saudi, termasuk Indonesia. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang telah memukul perekonomian negara-negara di dunia,” kata Agus Suparmanto dalam keterangan resminya, Selasa (23/6/2020).

Dia mengatakan, langkah strategis yang tengah disusun untuk menjaga kinerja ekspor nasional dengan meningkatkan kolaborasi dengan para perwakilan perdagangan yang bertugas di Timur Tengah, dan kerja sama bilateral. Pasalnya, negara-negara mitra Arab Saudi yang telah memiliki kerja sama bilateral dikecualikan dari kenaikan bea masuk tersebut.

“Kami juga berupaya melakukan pendekatan bilateral dengan negara-negara mitra dagang agar produk Indonesia kompetitif di negara tujuan ekspor. Dalam hal ini, kami akan melihat peluang untuk bekerja sama dengan Dewan Kerja Sama Negara-negara Teluk (Gulf Cooperation Council). Segala upaya akan kami lakukan untuk terus menjaga kinerja ekspor Indonesia,” jelas Mendag.

Mendag menyampaikan agar para pelaku ekspor tetap mempertahankan optimismenya menghadapi tantangan ini. “Kami meminta pelaku ekspor terus mengelaborasi peluang untuk masuk ke wilayah Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, dengan meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia,” imbuhnya.

Baca juga: Dubes Berperan Genjot Ekspor Produk Industri

Sementara Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemdag, Kasan menjelaskan, kenaikan bea masuk Arab Saudi akan berdampak terhadap kinerja ekspor nonmigas Indonesia. Beberapa produk yang terdampak, antara lain produk otomotif (HS 87) yang bea masuknya naik dari 5 persen menjadi 7 persen, produk kertas dan turunannya (HS 48) naik dari 5 persen menjadi 8-10 persen; serta besi, baja, dan barang dari besi/baja (HS 72 dan HS 73) naik dari 5 persen menjadi 8-20 persen.

“Nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi untuk produk-produk tersebut mencapai lebih dari US$ 624 juta dan belum termasuk produk-produk lainnya. Pemerintah Arab Saudi menetapkan besaran kenaikan bea masuk untuk produk tersebut berkisar dari 0,5 persen hingga 15 persen. Hal ini tentunya akan berdampak langsung terhadap ekspor Indonesia ke Arab Saudi,” jelas Kasan.

Namun, lanjut Kasan, ada produk-produk ekspor unggulan Indonesia yang tidak terdampak kenaikan bea masuk tersebut. Di antaranya, produk sawit dan turunannya (HS 15), produk kayu (HS 44), serta produk daging dan ikan (HS 16). Selain itu, produk vitamin, makanan laut, beras, sayur dan buah-buahan, serta berbagai macam produk yang mendukung peningkatan imunitas tubuh masih diberikan relaksasi impor oleh Pemerintah Arab Saudi. “Kita harus bisa memanfaatkan peluang pasar dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan ekspor produk-produk unggulan yang tidak terkena kenaikan bea masuk tersebut,” ujar Kasan.

Pada periode Januari-April 2020, total perdagangan Indonesia Arab Saudi tercatat sebesar US$ 1,55 miliar. Pada 2019 total perdagangan kedua negara tercatat sebesar US$ 5,07 miliar dan pada 2018 tercatat sebesar US$ 6,13 miliar. Sementara ekspor Indonesia ke Arab Saudi pada periode Januari-April 2020 tercatat sebesar US$ 519,86 juta. Pada 2019 total ekspor Indonesia ke Arab Saudi tercatat sebesar US$ 1,50 miliar dan pada 2018 tercatat sebesar US$ 1,22 miliar. Adapun produk ekspor utama Indonesia ke Arab Saudi meliputi otomotif, produk ikan, sawit dan turunannya, produk kayu, karet, dan produk kertas.

Pada periode Januari – Mei 2020, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus sebesar US$ 4,31 miliar dengan sumbangan terbesar berasal dari surplus nonmigas senilai USD 7,67 miliar. Pada periode tersebut, ekspor Indonesia mencapai US$ 64,46 miliar dengan nilai ekspor nonmigas sebesar US$ 60,97 miliar. Adapun lima negara tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia yaitu India, Singapura, Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok.



Sumber: BeritaSatu.com