Harga Minyak Menguap Hampir 6% karena Kebangkitan Covid-19

Harga Minyak Menguap Hampir 6% karena Kebangkitan Covid-19
Ilustrasi eksplorasi minyak lepas pantai. (Foto: AFP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 25 Juni 2020 | 05:48 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak turun hampir 6 persen pada perdagangan Rabu (24/6/2020) setelah penyimpanan minyak mentah AS mencapai rekor. Pelemahan juga dipicu jumlah kasus Covid-19 yang melonjak tajam di sejumlah negara seperti Jerman dan wilayah padat penduduk Amerika Serikat (AS).

Kasus corona di AS yang mengalami peningkatan infeksi baru terbesar kedua sejak krisis dimulai, telah membuat para investor gelisah dan menekan harga minyak. Belum lagi ada peningkatan kasus di Tiongkok, Amerika Latin, dan India

“Ini semua adalah pusat permintaan minyak utama. Gelombang kedua infeksi dan penguncian akan menggagalkan pemulihan ekonomi global termasuk permintaan dan harga minyak,” kata Stephen Brennock dari broker PVM.

Minyak mentah Brent turun US$ 2,29, atau 5,5 persen, menjadi US$ 40,29 per barel, sehari setelah mencapai level tertinggi sejak awal Maret, tepat sebelum perang harga Saudi-Rusia menghantam pasar. Minyak mentah West Texas Intermediate melemah US$ 2,36, atau 5,85 persen, ke US$ 38,01 per barel.

Administrasi Informasi Energi mengatakan, persediaan minyak mentah AS melonjak pekan lalu sebesar 1,4 juta barel, melebihi ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters sebesar 299.000 barel. Itu menandai rekor ketiga berturut-turut penyimpanan minyak mentah AS.

"Hal yang paling saya khawatirkan adalah rebound (kenaikan) produksi dalam negeri dan itu naik, mampu melakukan beberapa kerusakan pasar," kata Director of Energy Futures Mizuho, Bob Yawger.

Dana Moneter Internasional mengatakan virus corona menyebabkan kerusakan lebih luas dan lebih dalam pada aktivitas ekonomi dari yang diperkirakan. Hal itu memangkas proyeksi output global 2020 lebih lanjut.

Impor minyak India pada bulan Mei mencapai level terendah sejak Oktober 2011 karena kilang persediaan minyak mentah penuh sehingga mengurangi pembelian.

Tiongkok, importir minyak mentah utama dunia, juga diperkirakan akan memperlambat impornya pada kuartal ketiga, setelah mencatat pembelian dalam beberapa bulan terakhir.



Sumber: CNBC