Konsep Gig Economy pada Grab Dukung Ketangguhan Ekonomi RI

Konsep Gig Economy pada Grab Dukung Ketangguhan Ekonomi RI
Pengemudi Grab Bike yang mengenakan GrabProtect membonceng penumpang di hari pertama diijinkannya ojek online membonceng penumpang saat PSBB Transisi, Jakarta, Selasa 9 Juni 2020. Aplikator Grab Indonesia mewajibkan para mitra pengemudi motor untuk mengenakan GrabProtect dalam rangka mendukung pencegahan penyebaran virus Covid - 19. (Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 25 Juni 2020 | 12:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Penelitian terbaru Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics menemukan bahwa perekonomian pekerja lepas (gig worker) dengan dukungan teknologi Grab mampu memperkuat daya tahan dan daya lenting ekonomi Indonesia. Mitra GrabBike, GrabCar, GrabFood, dan agen GrabKios yang disurvei di 12 kota melaporkan bahwa Grab tidak hanya menyediakan kesempatan kerja yang lebih baik bagi pekerja informal—yang berjumlah 56,5 persen dari angkatan kerja—tapi juga mendorong pertumbuhan usaha mikro kecil menangah (UMKM) serta menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak, bahkan di luar platform Grab.

Gig worker di empat layanan yakni GrabBike, GrabCar, GrabFood, dan GrabKios secara keseluruhan berkontribusi Rp 77,4 triliun pada perekonomian Indonesia di tahun 2019, atau meningkat 58,3 persen dari Rp 48,9 triliun di 2018. Mitra Grab yang disurvei juga melaporkan adanya peningkatan kualitas hidup mereka setelah bergabung dengan Grab.

“Sektor gig economy melalui platform digital seperti Grab memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi negara secara lebih luas," kata Kepala Departemen Ekonomi CSIS, Yose Rizal Damuri, dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis (26/6/2020).

Dia mengatakan studi ini juga menunjukkan bahwa selain memberikan pekerja informal kesempatan pendapatan yang lebih baik, pertumbuhan pada platform Grab juga menciptakan lebih banyak kesempatan ekonomi dalam ekosistem Grab dan dapat menciptakan pekerjaan di luar ekosistem. "Kami menemukan bahwa GrabFood telah membantu merchant mendirikan bisnis baru dan mempekerjakan karyawan saat bisnis mereka bertumbuh. Gig work melalui platform Grab juga telah meningkatkan kualitas hidup pekerja sektor informal dan meningkatkan inklusi keuangan mereka. Ini adalah faktor penting yang akan berkontribusi pada kemajuan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang,” kata Rizal.

Baca juga: GrabMerchant Bantu UMKM Kembangkan Bisnis Secara Daring

Studi ini mengungkapkan bahwa kontribusi mitra merchant GrabFood terhadap perekonomian Indonesia melonjak sebesar 79 persen ke Rp 37,3 triliun di 2019 dari Rp 20,8 triliun di 2018 yang membuatnya sebagai kontributor ekonomi terbesar sejak tahun lalu. Seiring itu, kontribusi mitra pengemudi GrabBike tumbuh 67 persen ke Rp 26,2 triliun dari Rp 15,6 triliun.

Sementara kontribusi mitra GrabCar tumbuh 11 persen ke Rp 10,8 triliun dari Rp 9,7 triliun dan kontribusi mitra GrabKios meningkat sebesar 17 persen ke Rp 3,1 triliun dari Rp 2,7 triliun.

Penelitian ini juga menemukan bahwa mitra merchant GrabFood dan agen GrabKios melihat adanya peningkatan penjualan masing-masing sebesar 35 persen dan 17 persen setelah bergabung dengan Grab. Studi ini mengungkap sebanyak 12 persen dari mitra merchant GrabFood mengatakan mereka menjadikan GrabFood sebagai alasan utama memulai bisnis kuliner, sedangkan 16 persen mengatakan mereka bergabung dengan platform GrabFood sejak hari pertama mereka memulai bisnisnya.

Baca juga: Percepat Digitalisasi UMKM, GrabMerchant Dipuji Teten Masduki

Survei ini menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan pendapatan bulanan mitra pengemudi GrabBike tumbuh sebesar 124 persen dari Rp 2,1 juta ke Rp 4,6 juta setelah bergabung dengan Grab. Sebagai perbandingan, rata-rata upah minimum secara nasional di tahun 2019 berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja adalah Rp 2,5 juta per bulan.

Studi ini lebih lanjut menemukan bahwa pertumbuhan bisnis yang dirasakan merchant pada ekosistem Grab, juga memampukan mereka menciptakan lapangan pekerjaan di luar platform. Seiring dengan tumbuhnya bisnis mitra merchant GrabFood dan agen GrabKios, mereka dapat merekrut lebih banyak pekerja dari lingkungan sekitarnya. Sebanyak 27 persen mitra merchant GrabFood menambah pegawai baru sejak bergabung dengan Grab.

GrabFood rata-rata menambah dua tambahan pegawai pada tahun 2019 saja. Sedangkan, 6 persen dari agen GrabKios merekrut pegawai baru sejak bergabung dengan Grab dan secara rata-rata menambah dua tambahan pegawai untuk dapat
melayani permintaan konsumen yang meningkat.

Studi ini menemukan bahwa di tahun 2019, 31 persen dari mitra pengemudi GrabBike dan 26 persen dari mitra pengemudi GrabCar tidak memiliki pendapatan sebelum bergabung dengan Grab. Agen GrabKios yang sebelumnya menganggur, kini bahkan dapat menghasilkan Rp 10,4 juta dari penjualan per bulan setelah bergabung dengan Grab. "Studi ini mengungkapkan bahwa 65 persen dari mitra pengemudi GrabBike dan 73 persen dari mitra pengemudi GrabCar menjadikan Grab sebagai profesi utamanya," kata dia.

Berdasarkan pengukuran dari skala 10-poin untuk enam dimensi kesejahteraan, yakni sosial, psikologis, ekonomi, lingkungan, spiritual, dan fisik, mitra Grab di seluruh layanan secara umum menunjukkan adanya peningkatan kualitas hidup sebesar 13 persen setelah bergabung dengan Grab.

Lebih spesifik, mitra pengemudi GrabBike melaporkan peningkatan paling tinggi pada kualitas hidupnya sebesar 21 persen, dari skala 6,3 ke 7,6. Sedangkan mitra merchant GrabFood melaporkan nilai kualitas hidup paling tinggi setelah bergabung dengan Grab yakni 8,0.

Survei ini menunjukkan bahwa dengan menjadi bagian dari ekosistem Grab akan meningkatkan akses mitra kepada layanan jasa keuangan. Sebanyhak 18 persen dari mitra pengemudi GrabBike dan 12 persen dari mitra pengemudi GrabCar membuka rekening tabungan pertama mereka ketika bergabung dengan Grab.

Lebih penting lagi, kesempatan pemasukan yang ditawarkan Grab telah memungkinkan lebih banyak mitra untuk menabung secara rutin. Sebanyak 75 persen mitra pengemudi GrabBike dan 69 persen mitra pengemudi GrabCar sekarang rutin menabung di bank dengan rata-rata tabungan masing-masing Rp 890.000 hingga Rp 1,4 juta. Sebagai tambahan, 46 persen dari mitra pengemudi GrabBike, 34 persen mitra pengemudi GrabCar, dan 50 persen mitra merchant GrabFood mengatakan bahwa mereka dapat meminjam uang dengan lebih mudah setelah bergabung dengan Grab, karena penyedia jasa keuangan lebih memercayai mereka. Hal ini memberi mereka kesempatan untuk mengajukan pinjaman agar dapat mengembangkan bisnisnya atau berinvestasi
pada motor atau mobil baru.

Studi ini mengkombinasikan metode kualitatif dan kuantitatif melalui survei secara langsung (face-to-face) dengan 5.008 mitra GrabBike, GrabCar, GrabFood, dan GrabKios di 12 kota Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, Semarang, Yogyakarta, Denpasar, Palembang, Bandar Lampung, Balikpapan, dan Manado. Lebih lanjut, pengambilan data studi ini menggunakan strategi pengambilan sampel acak sistematis dan kemudian melakukan call-back pada 50 persen responden untuk memastikan hasilnya.

 



Sumber: BeritaSatu.com