Insa Nantikan Realisasi Stimulus Restrukturisasi Pinjaman

Insa Nantikan Realisasi Stimulus Restrukturisasi Pinjaman
Rapat Umum Anggota (RUA) Indonesian National Shipowner's Association (INSA) menetapkan Carmelita Hartoto sebagai Ketua Umum DPP INSA terpilih periode 2019-2023, di Jakarta, Selasa (10/12/2019). (Foto: Beritasatu.com / Thresa Sandra Desfika)
Thresa Sandra Desfika / FER Kamis, 25 Juni 2020 | 17:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesian National Shipowners Association (Insa) menanti realisasi stimulus untuk restrukturisasi pinjaman perusahaan pelayaran di tengah pandemi virus corona atau Covid-19. Stimulus tersebut sangat dibutuhkan untuk menjaga arus kas masing-masing badan usaha pelayaran.

Baca Juga: Muatan Tol Laut Butuh Sinergi Seluruh Pihak

Ketua Umum DPP Insa, Carmelita Hartoto menjelaskan, pemerintah menjanjikan restrukturisasi pinjaman. Namun, pelaksanaan di lapangan tak kunjung terjadi. Selain itu, kebijakan bank milik negara dan bank swasta pun berbeda.

"Sudah disampaikan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) petunjuk restrukturisasi untuk berbagai usaha termasuk pelayaran. Tapi realisasinya ini belum keluar. Pinjaman kita kan selama ini cukup tinggi. Kita minta modal kerja lagi dan lain-lain belum diberikan. Apalagi bank swasta berbeda lagi. Kalau bank swasta kalau mau restrukturisasi boleh tapi rating peminjam turun karena mengubah dan dilihat performance," kata Carmelita dalam diskusi online bersama wartawan, Kamis (25/6/2020).

Selain itu, terang Carmelita, Insa juga masih menanti stimulus keringanan pengenaan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari pemerintah bagi semua operator pelayaran. Dari informasi yang diperoleh, ujar Carmelita, stimulus keringanan PNBP ini regulasinya sedang disiapkan oleh Kementerian Perhubungan (Kemhub).

Baca Juga: Industri Pelayaran Berharap Stimulus Pemerintah

Di sisi lain, Carmelita mengakui, industri jasa pelayaran sudah mendapatkan beberapa stimulus, seperti keringanan pengurusan sertifikat dan docking bila tak terlalu mendesak dan tak mempengaruhi unsur keselamatan. Tak hanya itu, keringanan biaya pelabuhan juga sudah diterapkan operator kepelabuhanan.

Menurut Carmelita, para pelaku pelayaran sangat membutuhkan stimulus dari berbagai pihak guna menjaga keberlangsungan usahanya saat dan setelah pandemi Covid-19. Dia menuturkan, kinerja pelayaran nasional sangat terpukul akibat pandemi Covid-19.

Dampak Covid-19 dirasakan hampir merata pada seluruh sektor pelayaran. Carmelita menyebutkan, misalnya saja, pendapatan angkutan penumpang maupun kapal roro merosot 75 persen hingga 100 persen, sektor kontainer yang turun 10 persen hingga 25 persen, serta curah kering, liquid tanker, tug and barges yang juga mengalami penurunan pendapatan 25 persen hingga 50 persen.

Baca Juga: Temas Bagi Dividen 20% dari Laba

"Bukan hanya itu, akibat para pemilik barang kesulitan keuangan berdampak pada penaikkan piutang perusahaan pelayaran sehingga membuat cash flow perusahaan terganggu, khususnya pada sektor barang kontainer, curah kering, dan tug and barge," tandas Carmelita.

Carmelita menambahkan, operator pelayaran pun melakukan berbagai upaya efisiensi guna meredam dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerja usaha. Selain itu, perusahaan pelayaran melakukan penyetopan sementara operasi beberapa kapal karena kekurangan carter atau kargo angkutan serta melakukan negoisasi kontrak dengan pengguna jasa agar tak terjadi pemutusan kontrak.



Sumber: BeritaSatu.com