Pandemi Jadi Momentum Kebangkitan UMKM lewat E-Commerce

Pandemi Jadi Momentum Kebangkitan UMKM lewat E-Commerce
Zooming With Primus dengan topik "Booming E-Commerce Saat Pandemi" menghadirkan narasumber Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung, Vice President of Galeri Indonesia Blibli.com Andreas Ardian Pramaditya, dan Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Kemaritiman Kementerian Komunikasi dan Informatika Septriana Tangkary yang disiarkan secara langsung Beritasatu TV, Kamis (25/6/2020). (Foto: Istimewa)
Lona Olavia / RSAT Kamis, 25 Juni 2020 | 17:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 dan pemberlakuan physical distancing mengubah cara berbelanja masyarakat menjadi online. Dalam situasi ini, pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) dituntut untuk adaptif mengikuti perubahan yang terjadi. Apalagi, pemanfaatan platform online membantu para UMKM lokal untuk meningkatkan visibilitas produk mereka di pasar yang lebih luas.

"Industri e-commerce masih muda, model pendanaan e-commerce juga berbeda di mana data transaksi merupakan hal yang sakral. Tapi, bila dibilang ada peningkatan di tengah pandemi, untuk marketplace saya yakin sekali, naiknya bisa triple digit harusnya," demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung dalam acara Zooming With Primus dengan topik "Booming E-Commerce Saat Pandemi" yang disiarkan secara langsung di Beritasatu TV, Kamis (25/6/2020).

Hal tersebut ditekankan kembali oleh Vice President of Galeri Indonesia Blibli.com Andreas Ardian Pramaditya. Menurutnya, di tengah pandemi ini ada peningkatan luar biasa baik secara transaksi maupun jumlah penjual yang mendaftarkan penjualan produknya melalui Blibli.com. "Yang mendaftar naik 90%, sedangkan penjualan UMKM mereka naik hingga 6 kali.

Banyak produk yang saat itu laku berkaitan dengan kondisi pandemi seperti bahan pangan, kuliner, dan kesehatan seperti jamu dan herbal. Kenaikan yang signifikan ini, karena mereka mengalihkan metode bisnis mereka dari yang tidak mau jualan online, sekarang mau coba adaptasi dan ternyata bisa juga," ungkapnya.

Andreas menyebutkan melalui kanal Galeri Indonesia, jumlah produk lokal yang tercatat di Blibli saat ini sudah mencapai 27.000 mitra UMKM dengan 350.000 produk. Ini didorong oleh antusiasme pelanggan untuk mencari produk-produk lokal. Untuk itu, Blibli tetap mendorong para penjual untuk memanfaatkan platform online.

Hal ini didasari oleh protokol new normal yang telah menciptakan batasan-batasan baru antara penjual dan pembeli. Selain itu, para penjual juga dapat memanfaatkan layanan dari marketplace seperti logistik, gudang, serta mendapatkan berbagai pelatihan dengan memanfaatkan ekosistemnya.

Lebih lanjut, Andreas menekankan bahwa dengan adanya kondisi pandemi, belanja online bukan lagi menjadi hal yang aneh. Sebab, akan banyak kemudahan dan keuntungan yang akan didapatkan penjual.

"Ini memang perlu adaptasi dari teman-teman UMKM, kami tekankan semangat belajar dan adaptasi dengan hal baru bahwa di pandemi ini penjualan bisa naik dengan jualan secara online. Bahkan, dalam kondisi saat ini, penjualan beras, sayur mayur, buah-buahan, daging dan ikan melalui online sudah lazim, sangat dimungkinkan," kata Andreas.

Dari sisi keamanan data pun, sambung Ignatius semua pemain e-commerce saat ini sudah seluruhnya sadar akan pentingnya menjaga kepercayaan konsumen dengan kerahasiaan data. "Salah satu elemen yang terus dijaga pemain yakni kerahasiaan data yang jadi faktor dasar," tegasnya.

Sementara itu, Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Kemaritiman Kementerian Komunikasi dan Informatika Septriana Tangkary mengatakan, seharusnya soal keamanan data konsumen atau Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) sudah dibahas di DPR sekarang, tapi karena ada pandemi terpaksa mundur. Namun, di sisi lain, menurutnya saat ini konsumen sudah mulai bijak dalam pemberitahuan data pribadi.

Septriana menambahkan, pemerintah pun terus mendorong UMKM untuk melebarkan sayapnya melalui ranah digital. Dari sebanyak 64,2 juta pelaku UMKM, namun sayangnya dari seluruh kolaborasi marketplace dan pemerintah baru 9,4 juta yang memasarkannya lewat e-commerce. Padahal, sektor UMKM merupakan salah satu yang paling terdampak pandemi Covid-19 dan bisa produktif jika memaksimalkan pemasaran produk melalui platform e-commerce, sebagai cara penjualan offline yang saat ini sulit dilakukan.

Oleh karena itu, UMKM offline sudah selayaknya dibantu untuk di-online-kan. Jadi, digital ini tidak hanya memberikan layanan kepada pengguna, tapi juga membantu sektor lain yang terdampak. "Ini sifatnya kegotongroyongan. Kami optimistis bahwa pandemi dapat dilewati dengan kepedulian. Masyarakat harus saling menjaga agar sesamanya tidak terpapar dan juga saling membantu agar ekonomi tidak terkapar," ucapnya.

Pemerintah, sambungnya bahkan telah meluncurkan program atau Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia yang diluncurkan Presiden Joko Widodo pada 14 Mei 2020 lalu, untuk membantu pelaku UMKM go digital. Hingga 10 Juni sebanyak 400 ribuan UMKM sudah merambah pasar digital.

"Saat ini sudah bisa dilihat bahwa peluang UMKM untuk berjualan daring ini 17,1 persen dan kontribusi pendapatan bisa mencapai 59 persen. Jadi bahwa mimpinya Pak Jokowi untuk digital bisa tercapai. Meskipun pandemi yang kita hadapi saat ini cukup mengganggu, tapi adanya peluang ini masih bisa disambut baik," imbuh Septriana.



Sumber: BeritaSatu.com