Penanganan Covid-19 Bisa Mendorong Laju Investasi Jabar

Penanganan Covid-19 Bisa Mendorong Laju Investasi Jabar
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (tengah) bersama Kapolda Jabar Irjen Pol Rudy Sufahriadi (kanan) saat pemantauan pelaksanaan PSBBdi pos check point pintu keluar Tol Jagorawi, Bogor, Rabu (15/4/2020). (Foto: Antara / Arif Firmansyah)
Leonard AL Cahyoputra / FER Kamis, 25 Juni 2020 | 19:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi virus corona atau Covid-19 memberi dampak cukup negatif ekonomi, tidak terkecuali kepada Provinsi Jawa Barat (Jabar). Apalagi dengan 50 juta penduduk, pertumbuhan ekonomi bisa menurun tajam ke angka negatif jika penanganan tidak tepat. Penanganan yang tepat bisa mendorong laju investasi di Jabar.

Baca Juga: Ridwan Kamil Tak Ingin Ada Klaster Baru Covid-19

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menerangkan, penanganan Covid-19 di Jabar sudah semaksimal mungkin. Termasuk pengadaan 627 ambulan yang jadi mobil tes Covid-19, memproduksi PCR sendiri dari Bio Farma, sampai ventilator yang juga produksi sendiri.

"Selain untuk menekan angka kasus serta membuka kembali ekonomi, amunisi lengkap penanganan juga penting jikalau ada gelombang kedua," kata Ridwan Kamil dalam acara MarkPlus Government Roundtable yang digelar secara virtual, Kamis (25/6/2020).

Ridwan Kamil menerangkan, pandemi Covid-19 sudah menjadi darurat ekonomi. Maka dari itu sektor penyangga utama ekonomi dan sosial dibuka pelan-pelan. Rumah ibadah dulu, lalu perkantoran, pertanian yang risiko penularannya rendah.

"Sampai pada sektor risiko tinggi seperti pariwisata sampai nanti pendidikan. Jika tidak, pertumbuhan Jawa Barat bisa minus," ungkapnya.

Baca Juga: Lakukan 60.389 PCR, Jabar Klaim Lampaui Standar WHO

Pasalnya, dengan ekonomi mulai dihidupkan kembali, Jabar menyimpan potensi investasi menjanjikan. Ridwan Kamil menyebut Hyundai sudah berinvestasi Rp 40 triliun, perusahaan petrokimia dari Taiwan lebih dari Rp 100 triliun, sampai Amazon di atas Rp 10 triliun membangun data center.

"Total, ada sekitar 209 proyek pembangunan dalam rencana pemerintah provinsi. Mulai dari 60 proyek transportasi, 36 proyek air, sampai 21 proyek energi. Total dana dibutuhkan sampai Rp 700 triliun," jelasnya.

Menurut Ridwan Kamil, sekitar 60 persen industri di Indonesia ada di Jabar, dan pihak Pemprov Jabar sendiri tidak memiliki total dana yang dibutuhkan. Untuk itu, proyek-proyek tersebut harus di-marketing-kan, termasuk skemanya. Salah satu contohnya, kereta cepat Jakarta-Bandung yang melalui skema public private partnership (PP).

"Proyeknya jadi dulu, pembayarannya melalui cicilan. Kalau semua mau berjalan, Covid-19 harus ditekan. Setidaknya jika ekonomi hidup kembali pertumbuhan Jabar bisa di kisaran 2 persen, agar tahun depan bisa melompat 8 persen," jelasnya.

Baca Juga: PTPP Dorong Kerja Sama Infrastruktur Indonesia-Turki

Begitu juga dengan kota Bandung, jika tidak ada pelonggaran dan ekonomi tidak berjalan, pertumbuhannya bisa minus atau di bawah 0 persen. "Pelonggaran pelan-pelan. Mulai dari PSBB proporsional sampai pembukaan sektor yang minim dampak Covid-19. Dengan kapasitas hanya 30 persen. Jika tidak dimulai ekonomi Bandung bisa -0,41 persen di akhir tahun," ungkap Wakil Walikota Bandung, Yana Mulyana.

Menurut Yana, tahun lalu realisasi investasi di Bandung mencapai Rp 8,43 triliun. Di 2020 sampai Maret baru sampai Rp 538 miliar. Tidak heran, pihaknya berharap investasi dapat digenjot dengan dimulainya kegiatan ekonomi.

"Apalagi Bandung tidak memiliki sumber daya alam melimpah. Sektor penyangga utama seperti pariwisata, jasa, sampai perdagangan harus didorong walau ada pembatasan," tandas Yana.



Sumber: BeritaSatu.com