Hasil Survei Ipsos

Purchasing Behaviour Masyarakat Indonesia Berubah Selama Pandemi

Purchasing Behaviour Masyarakat Indonesia Berubah Selama Pandemi
Ilustrasi belanja di mal. (Foto: Antara)
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 25 Juni 2020 | 20:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ipsos, perusahaan riset pasar terbesar ketiga di dunia, melakukan survei untuk mengetahui perkembangan opini dan perilaku masyarakat Indonesia di era kenormalan baru atau new normal. Adapun survei ini dilakukan Ipsos pada 500 responden warga Indonesia.

Baca Juga: Pusat Perbelanjaan di Jakut Masih Sepi

Menurut survei tersebut, pandemi Covid-19 berdampak langsung terhadap pendapatan masyarakat Indonesia. Sebanyak 84 persen masyarakat Indonesia merasakan adanya penurunan pendapatan. Bahkan 3 dari 10 orang mengaku pendapatan mereka berkurang lebih dari 50 persen dibanding sebelum pandemi ini.

Meski begitu, 49 persen masyarakat Indonesia optimis bahwa pendapatan mereka akan kembali meningkat dalam enam bulan ke depan. Terlebih, pemerintah sudah menerapkan kebijakan-kebijakan pelonggaran pembatasan kegiatan perekonomian.

Managing Director Ipsos in Indonesia, Soeprapto Tan mengatakan, akibat pandemi Covid-19 membuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada kuartal I/2020 melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan menurunnya permintaan domestik dan konsumen rumah tangga, serta rasio investasi yang rendah.

"Namun, ketika pemerintah mulai melakukan re-opening economy, baik sektor ritel maupun makro, kita bersama optimistis akan ada perbaikan ekonomi, pendapatan masyarkat akan meningkat secara bertahap dalam 6 bulan ke depan," kata Soeprapto Tan dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Kamis (25/6/2020).

Survei Ipsos

Head of Ipsos Strategy3 Indonesia, Ilman Hasibuan menambahkan,  perekonomian Indonesia terlihat baik sejauh ini, meskipun pandemi sedang berlangsung dan berbagai pembatasan diberlakukan di sejumlah wilayah.

"Kita akan melihat perekonomian pulih secara bertahap dan dalam 6 bulan, kita setidaknya dapat melihat 80 persen kegiatan akan kembali seperti semula, tentu saja dengan memerapkan standar dan protokol baru untuk menjaga agar pandemi ini tetap terkendali," jelas Ilman.

Lain halnya dari segi kekhawatiran, hasil survei ini menunjukkan 86 persen masyarakat Indonesia masih memiliki kekhawatiran terhadap penyebaran virus Covid-19. Kendati demikian, mayoritas masyarakat Indonesia saat ini sudah mampu beradaptasi dengan rutinitas baru dan bergerak maju di era new normal.

Bahkan, hampir separuh masyarakat Indonesia mengaku pada bulan Juni-Juli mulai memberanikan diri, percaya, dan dapat merasa nyaman untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti makan di restoran atau kafe, mengunjungi rumah kerabat atau teman, menggunakan sarana transportasi umum, pergi ke acara pertemuan atau gathering, pergi ke pusat kebugaran atau gym.

Baca Juga: Juli 2020, Habibie Center Prediksi Covid-19 Melandai

"Namun, untuk melakukan perjalanan dalam negeri atau domestik, mereka masih enggan dalam waktu dekat. Sebagian kecil akan melakukan perjalanan pada periode Augustus-Desember 2020 dan sebagian besar masih tidak nyaman untuk melakukan perjalanan bahkan hingga tahun depan. Begitu pula dengan melakukan perjalanan ke luar negeri, 66 persen masyarakat Indonesia memilih untuk tidak pergi ke negara lain di tahun 2020 ini," jelas Iman.

Selain mempengaruhi pendapatan, pandemi Covid-19 juga mengubah pola perilaku masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi, baik dari prioritas pilihan produk maupun saluran pembelian produk. Pada hasil survei, terlihat adanya peningkatan anggaran pengeluaran untuk membeli bahan makanan sebanyak 34 persen, produk kebersihan 24 persen, dan produk perawatan diri atau personal care bertambah 6 persen dibandingkan sebelum pandemi.

Sedangkan anggaran untuk pembelian produk fashion (pakaian dan aksesoris), elektronik, buku, mainan anak, video games, minuman keras, liburan, pergi ke kafe dan restoran, serta melakukan aktivitas terkait kebudayaan menurun cukup signifikan hingga 30 persen. Begitu juga dengan produk perawatan diri (personal care) dan produk kebersihan, dengan masing-masing persentase 53 persen.

Jalur pembelian (purchase channel) pun berubah signifikan, di mana 62 persen masyarakat Indonesia memilih untuk membeli kebutuhan pokok dan bahan makanan secara online dibandingkan jalur konvensional seperti sebelum pandemi.

Baca Juga: Kebutuhan UMKM untuk Go Online Meningkat

"Ketika mayoritas perilaku pembelian (purchasing behaviour) telah berubah selama pandemi, ada aspek belanja ritel dan offline shopping yang masih tidak tergantikan dan akan mendorong paling tidak sebagian konsumen kembali berbelanja secara offline seperti mall culture di Indonesia, ini dapat dilihat dari banyaknya orang di mal-mal yang saat ini sudah kembali beroperasional. Baik pemasar dari lingkup online ataupun offline perlu memperhatikan hal ini," pungkas Ilman Hasibuan.



Sumber: BeritaSatu.com