Mitra Grab Sumbang Rp 77,4 Triliun ke Perekonomian Indonesia

Mitra Grab Sumbang Rp 77,4 Triliun ke Perekonomian Indonesia
Seorang penjual ayam penyet yang telah bergabung sebagai mitra GrabFood. (Foto: Istimewa)
Jayanty Nada Shofa / JNS Sabtu, 27 Juni 2020 | 10:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Riset oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics memperlihatkan pekerja informal (gig worker) yang telah tergabung dalam ekosistem digital Grab mampu berkontribusi sebesar Rp 77,4 triliun pada perekonomian Indonesia di tahun 2019.

Survei ini dilakukan pada 5.008 mitra GrabBike, GrabCar, GrabFood dan GrabKios yang dipilih secara acak dan tersebar di 12 kota besar di Indonesia.

Menurut Yose Rizal Damuri selaku Kepala Departemen Ekonomi CSIS, mitra Grab mencatat kontribusi perekonomian sebesar Rp 48,9 triliun di tahun 2018. Dengan ini, terdapat kenaikan signifikan sebesar 58,3% di tahun 2019.

Riset membuktikan mitra GrabFood menyumbang kontribusi tertinggi dibandingkan dengan layanan Grab lainnya yakni sebesar Rp 37,2 triliun.

"Kami juga melihat adanya peningkatan kualitas hidup dan inklusi keuangan bagi para pekerja informal setelah bergabung dengan Grab. Sebagai contoh, 18% mitra GrabBike dan 12% pengemudi GrabCar mulai membuka rekening tabungan pertama mereka," ungkap Yose kepada Beritasatu.com melalui wawancara daring, Jumat (27/6/2020).

Sedangkan, salah satu faktor pemicu peningkatan kualitas hidup adalah adanya komunitas antar mitra Grab yang saling mendukung antara satu sama lain.

Yose menuturkan, digitalisasi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga telah menciptakan lapangan kerja di luar ekosistem Grab. Sebanyak 27% mitra GrabFood dan 6% mitra GrabKios rata-rata menambah dua karyawan baru dari komunitas sekitar. Hal ini untuk mendukung permintaan pelanggan yang meningkat.

Digitalisasi, lanjut Yose, tentunya memiliki sejumlah tantangan. Misalnya, masyarakat yang cenderung gagap teknologi (gaptek) akan mengalami kesulitan.

"Namun, user interface aplikasi Grab yang intuitif dan mudah digunakan memudahkan para UMKM dan pekerja informal lainnya untuk beradaptasi secara digital," jelasnya.

Berdasarkan temuan CSIS, Yose meyakini konsep gig economy yang diusung dengan platform digital seperti Grab dapat membantu pemulihan ekonomi pasca Covid-19.

"Hal ini dikarenakan di tengah pandemi, masyarakat cenderung mengandalkan layanan digital untuk memenuhi kebutuhannya seperti dalam hal pemesanan makanan," lanjut Yose.

Bahkan, sebelum mewabahnya virus corona, persepsi pelanggan terhadap GrabFood dapat dikatakan baik. Sebanyak 90% pelanggan menganggap merasa lebih nyaman ketika menggunakan layanan pesan antar tersebut.

Untuk memicu pertumbuhan bisnis yang lebih tinggi, lanjut Yose, Grab dapat meningkatkan pelatihan protokol kesehatan bagi mitranya. Hal ini selaras dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dengan mewabahnya Covid-19.

Secara terpisah, pihak Grab mengumumkan telah memperkuat protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19. Misalnya, dengan mewajibkan pengecekan suhu tubuh karyawan mitra dan memastikan area penyiapan makanan steril.

Baca juga: Aplikasi GrabMerchant Bantu UMKM Hadapi New Normal

Selain itu, Grab kerap meluncurkan layanan baru untuk mempercepat inklusi digital bagi UMKM.

Beberapa waktu lalu, aplikasi GrabMerchant telah diluncurkan untuk membantu pelaku usaha mendigitalisasi kegiatan operasional mereka secara menyeluruh dalam menyambut tatanan hidup baru (new normal).



Sumber: BeritaSatu.com