Pandemi Covid-19 Momentum Tepat untuk Investasi

Pandemi Covid-19 Momentum Tepat untuk Investasi
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Herman / FER Minggu, 28 Juni 2020 | 16:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk orang-orang yang memiliki kelebihan uang, pandemi virus corona atau Covid-19 merupakan waktu yang tepat untuk berinvestasi, salah satunya di instrumen saham. Pasalnya, saat ini banyak saham yang harganya anjlok cukup parah. Sehingga ketika nanti kondisinya sudah pulih, harga sahanya bisa lebih tinggi.

Baca Juga: Tiga Syarat Agar Berhasil dalam Investasi

Pendiri Komunitas Investor Muda, Jason Gozali menyampaikan, masa krisis seperti saat ini harus bisa dimanfaatkan karena sifatnya tidak terjadi setiap saat, bisa delapan atau 10 tahun sekali saja.

"Kalau sekarang kita lagi punya uang lebih dan tidak kena PHK, saat ini kita harus investasi. Kalau bicara peluang, yang namanya krisis keuangan itu bukan kejadian yang terjadi setiap hari atau tahun. Yang namanya krisis pasti kejadiannya delapan tahun sekali atau 10 tahun sekali. Ini hal yang langka, tiba-tiba dan sesekali dalam jangka panjang. Alias kalau kita beli (saham) pas krisis, peluang kita menang mestinya lebih besar daripada dalam kondisi normal,” kata Jason Gozali dalam virtual conference dengan tema "Investasi Pribadi di Masa Pandemi", Minggu (28/6/2020).

Jason mengungkapkan, saat pandemi seperti saat ini harga properti, obligasi, juga saham berada di level yang lebih murah dari biasanya, sehingga ini bisa menjadi kesempatan untuk memulai investasi. Namun juga harus teliti dalam memilih saham atau instrumen investasi, sebab tidak semua saham akan naik kembali harganya setelah krisis ini pulih.

Baca Juga: Kaum Milenial Belum Sadar Pentingnya Investasi

"Ada dua strategi utama kalau teman-teman mau investasi saham. Pertama, beli saja saham yang bisnisnya tidak terdampak pandemi sama-sekali. Contoh perusahan mi instan, perusahaan telekomunikasi, dan lain-lain. Tetapi jangan harap diskonnya banyak dan besar karena itu aman. Yang kedua, cari saham yang jelas-jelas bisnisnya benar-benar terdampak. Contoh travel seperti Garuda, properti yang punya banyak mal, ritel. Itu pasti terdampak, maka harganya jatuh luar biasa. Tinggal dipilih mana perusahan yang terdampak itu yang diyakini setahun ke depan asumsinya tidak ada omzet, perusahannya masih bisa bertahan. Ketika corona pulih dan mereka balik lagi, teman-teman dapat untung yang berlipat,” kata Jason.

Selain saham, instrumen investasi lainnya yang bisa menjadi pilihan adalah obligasi pemerintah, khususnya untuk yang khawatir dengan pergerakan harga saham. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemkeu) beberapa waktu lalu juga telah mengeluarkan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel, yakni Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI017 dengan kupon 6,4 persen per tahun.

"Menurut saya itu lumayanlah buat yang ingin pasti-pasti saja. Apakah bisa gagal bayar? Menurut saya secara teori bisa, tapi agak kecil peluangnya untuk sebuah pemerintah gagal bayar dalam obligasi," ujar Jason.

Menyisihkan Sejak Awal

Dalam mengatur keuangan, baik saat pandemi Covid-19 maupun dalam kondisi normal, Jason mengatakan, yang harus dilakukan pertama adalah menyisihkan sebagian dari penghasilan sejak awal menerima gaji atau penghasilan, bukan sekadar menyisahkan penghasilan.

"Setiap orang harus mengatur keuangannya sejak awal menerima pendapatan. Misalnya 50 persenbuat kebutuhan kita, 10 persen buat asuransi, 20 persen buat investasi, 10 persen buat sedekah, itu sebagai contoh saja. Intinya kita melakukan penyisihan di awal bulan, bukan di akhir bulan," tegas Jason.

Untuk jumlah uang yang disisihkan, Menurut Jason, sangat bergantung dari jumlah penghasilan masing-masing orang dan juga kebutuhannya. Sebab ada yang bisa bertahan hidup dengan menggunakan 40 persen dari pendapatan, ada juga yang sampai 70 persen.

Baca Juga: Waktu yang Tepat Investasi Reksa Dana

"Kalau memang penghasilannya mepet, tidak apa-apa dari penghasilan kita 70 persen buat konsumsi, 30 persen buat investasi. Tetapi minimal kita harus menyisihkan setidaknya 20 persen untuk investasi,” kata Jason.



Sumber: BeritaSatu.com