Pembenahan BUMN Dinilai Sesuai Kebutuhan Bisnis

Pembenahan BUMN Dinilai Sesuai Kebutuhan Bisnis
Ilustrasi BUMN. (Foto: Istimewa)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 29 Juni 2020 | 13:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Langkah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir melakukan restrukturisasi dan menempatkan seseorang di perusahaan BUMN dinilai sesuai kapabilitas, profesionalitas, mendukung bisnis di masa depan. Apalagi BUMN sebagai perusahaan negara memiliki target bisnis sekaligus diwajibkan mencapai target pemerintah terkait pelayanan publik

"Political appointee (penunjukkan politik) sepanjang yang bersangkutan profesional dan mampu mengelola BUMN dengan efektif saya kira wajar. Beberapa contoh yang sukses adalah Robby Djohan (membantu merger bank besar jadi bank Mandiri dan Garuda) atau Iganisius Jonan (di KAI) sudah memberikan bukti tersebut," ujar pengamat BUMN dari Universitas Indonesia Toto Pranoto, saat dihubungi media, Senin (29/6/2020).

Menurut dia, perombakan di tubuh BUMN dinilai sudah sesuai dan objektif dalam arti merujuk peraturan. Terlebih, dalam pemilihan itu sudah melalui kompetisi. "Seleksi dari awal sudah dilakukan dengan objektif, memperhatikan kompetensi dan track record kandidat, serta memiliki integritas yang kuat untuk meng-handle isu governance yang kompleks," kata Toto.

Ia memberi contoh, penempatan talent muda di salah satu perusahaan BUMN dengan posisi strategis hal wajar untuk bisa memberikan inovasi baru di tubuh BUMN. Asalkan ia punya inovasi kuat serta paham arah bisnis BUMN di masa depan. Misalnya yang ditempatkan di Telkom, harus paham tentang bisnis telekomunikasi di masa depan. Sehingga, lanjut Toto, investasi besar Telkom di backbone jaringan harus diimbangi dengan pendapatan besar. Contohnya, di jasa over the top (OTT) yang selama ini hanya dinikmatasi raksasa seperti Google atau Facebook dan sejenisnya.

Menutut Toto, pembenahan BUMN adalah hal mendesak guna memperbaiki kinerja. Apalagi ada tantangan lain dimana tingkat profitabilitas rata-rata BUMN masih rendah yakni hanya di bawah 5 persen. Demikian juga angka return of asset. Ke depan BUMN harus meningkatkan kemampuan laba dan menggerakkan aset agar produktif. “Ke depan mungkin Indonesia akan punya lebih sedikit BUMN, tapi kondisinya lebih sehat dan berdaya saing," kata Toto.

Dihubugi terpisah, ekonom yang juga dosen Perbanas Institute, Piter Abdullah, menilai langkah Erick dalam memilih talent di BUMN sudah sesuai, jika prioritas diberikan kepada tenaga profesional.

Pieter menilai, setiap penunjukan pejabat di BUMN harus sesuai karakter perusahaan dan kebutuhan bisnis di masa depan, di samping memiliki wawasan mumpuni.

Dia mengatakan, karakteristik BUMN dan swasta sangat berbeda. Bisa berhasil di swasta, tapi tantangan di BUMN selalu lebih berat. “Memberi kesempatan kepada profesional saya kira itu sudah dan selama ini dilakukan, memang seharusnya begitu. Pengelolaan BUMN harus diberikan kepada para professional,” ujar Piter.



Sumber: BeritaSatu.com