Dorong Kinerja Ekspor

UMKM Akan Dihubungkan dengan Usaha Besar

UMKM Akan Dihubungkan dengan Usaha Besar
Ilustrasi UMKM. (Foto: Antara)
Herman / FER Senin, 29 Juni 2020 | 19:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop dan UKM), Teten Masduki mengungkapkan, salah satu alasan yang membuat produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dari Indonesia masih minim lantaran keterkaitan UMKM dengan usaha atau industri besar masih rendah. Dari sekitar 64 juta pelaku UMKM di Indonesia, saat ini yang sudah memiliki keterkaitan dengan usaha besar masih kurang dari 5 persen.

Baca Juga: Pelaku UMKM Harus Fokus Pada Bisnis Utama

"Terkait ekspor produk UMKM, problemnya itu kalau kita lihat ekspor di banyak negara, UMKM-nya rata-rata tidak sendiri. Mereka menjadi bagian dari usaha besar. Di kita itu masih rendah, yang terhubung dengan usaha besar kurang dari 5 persen. Inilah yang menjadi target kita untuk bagaimana menghubungkan UMKM dengan usaha besar, apakah itu sebagai pemasok bahan baku, setengah jadi, atau juga lebih dari itu,” kata Teten Masduki dalam webinar MarkPlus Government Roundtable Series 5: UKM Digital-Masa Depan Keberlanjutan Ekspor Indonesia, Senin (29/6/2020).

Teten mengungkapkan, saat ini ekspor produk UMKM dari Indonesia baru mencapai 14 persen. Jika dibandingkan dengan negara tetangga, menurutnya, angka tersebut masih masih kecil. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah memintanya agar ekspor produk UMKM ini bisa meningkat dua kali lipat.

Karenanya, Teten menyebut perlunya ada trading house yang berfungsi menghubungkan penjual dan pembeli, dan juga sebagai tempat untuk mengakurasi produk-produk UMKM yang siap ekspor.

Baca Juga: Platform Mandiri Pintar Dorong Pertumbuhan UMKM

"Kita perlu membuat trading house. Kami di Kementerian Koperasi dan UKM sudah menyiapkan Smesco sebagai trading house untuk produk-produk UMKM yang diproduksi secara menyebar dari berbagai daerah, supaya mereka bisa mudah diakses bagi buyer, baik buyer di dalam negeri maupun dari luar. Kami juga membantu kurasi produk-produknya," jelas Teten.

Pasar Dalam Negeri

Sementara itu untuk pasar dalam negeri, selain meningkatkan daya beli masyarakat, yang juga diefektifkan adalah meningkatkan peran pemerintah dalam menyerap produk-produk UMKM.

"Di dalam negeri yang kami efektifkan selain konsumsi masyarakat atau belanja masyarakat, juga belanja Kementerian dan Lembaga. Tahun ini saja ada sekitar Rp 318 triliun dari Rp 753 triliun belanja Pemerintah dan K/L untuk (menyerap) produk UMKM," tutur Teten.

Baca Juga: Erick Minta BUMN Alihkan Proyek Kecil ke UMKM

Saat ini Kementerian Koperasi dan UMKM juga tengah berkoordinasi dengan LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah) dalam mempersiapkan e-catalog dan laman khusus UMKM di LKPP. Teten menambahkan, pihaknya juga tengah melakukan pelatihan kepada kementerian dan lembaga untuk menyusun paket-paket pengadaan dan bagaimana melakukan pengadaan produk UMKM dari e-catalog tersebut.

Untuk menghadapi persaingan dengan produk impor yang membanjiri pasar Indonesia, termasuk juga di marketplace online, Teten menyampaikan Pemerintah beberapa waktu lalu juga telah membuat kebijakan memperkecil ambang batas tarif masuk barang produk impor dari sebelumnya US$ 75 menjadi US$ 3.

"Produk impor itu harganya lebih murah dari produk kita, makanya banyak UMKM yang tidak bisa bersaing. Tetapi dengan adanya kebijakan ambang batas tarif ini, mustinya kita bisa kompetitif,” kata Teten.



Sumber: BeritaSatu.com