Tugu Insurance Catat Kinerja Gemilang di 2019

Tugu Insurance Catat Kinerja Gemilang di 2019
Presiden Direktur PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) Indra Baruna (dua dari kanan) bersama Presiden Komisaris Koeshartanto (dua dari kiri), Komisaris Independen M. Harry Santoso (kiri) dan Dirkeu & Jasa Korporat Muhammad Syahid (kanan) disela acara Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (30/6/2020). (Foto: Beritasatu Photo / Uthan AR)
Jayanty Nada Shofa / JNS Selasa, 30 Juni 2020 | 14:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia (Tugu Insurance) berhasil mencatatkan peningkatan kinerja baik dari sisi finansial maupun operasional di tahun buku 2019 (audited).

Laba tahun berjalan konsolidasian tercatat sebesar Rp 505,7 miliar atau naik 145,7% dari Rp 205,9 miliar dari tahun 2018. Adapun laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 458,7 miliar. Angka ini merupakan peningkatan sebesar 84,1% dari tahun sebelumnya.

Hal ini disampaikan oleh Presiden Direktur Tugu Insurance Indra Baruna ketika menghadiri rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (30/6/2020).

Menurut Indra, kinerja Tugu Insurance yang baik di tahun 2019 tidak terlepas dari upaya Perseroan untuk senantiasa mengelola risiko dengan prinsip kehati-hatian baik dari aspek underwriting maupun dalam pengelolaan investasi. 

Hingga periode Desember 2019, pencapaian premi bruto secara konsolidasian sebesar Rp 6,4 triliun atau naik 26,5% yoy dari Rp 5,1 triliun di periode sebelumnya. Peningkatan premi ini berasal dari produk aviasi, kebakaran, aneka dan rekayasa hingga kendaraan bermotor.

Kinerja hasil underwriting konsolidasian meningkat dari Rp 720,7 miliar menjadi Rp 922,2 miliar atau naik 28%. Pada induk perusahaan, kinerja hasil underwriting juga meningkat dari Rp 552,2 miliar menjadi Rp 656,8 miliar atau naik 18,9%.

"Untuk meningkatkan hasil underwriting, kami telah melakukan pemetaan akun-akun yang memiliki hasil underwriting yang baik untuk dipertahankan. Kami juga memaksimalkan kapasitas retensi untuk risiko-risiko baik tersebut," ungkap Indra.

Produk kendaraan bermotor (motor vehicle) secara induk memberikan kontribusi pertumbuhan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Premi dari produk kendaraan bermotor melonjak 125,5% sehingga menjadi Rp 204,2 miliar di tahun 2019. Sementara, hasil underwritingnya meningkat 85,4%, sehingga menjadi Rp 45,8 miliar di tahun 2019.

Indra mengungkapkan, peningkatan ini sejalan dengan implementasi strategi perseroan dalam hal mengembangkan sektor ritel melalui produk unggulan kendaraan roda dua "t ride" dan roda empat "t drive".

Peningkatan bisnis ritel yang mencapai dua kali lipat dari tahun sebelumnya menjadikan Tugu Insurance salah satu dari Top 20s perusahaan asuransi yang fokus pada bisnis ritel atau kendaraan bermotor. Sebelumnya, Tugu Insurance menduduki peringkat Top 40-50s berdasarkan data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) 2019.

"Bisnis asuransi kendaraan bermotor berkontribusi positif pada hasil underwriting induk perusahaan dan merupakan tiga besar kontributor dari sisi net premium written," lanjut Indra.

Baca juga: Tugu Insurance Berhasil Pertahankan Rating A- dari A.M. Best

Selain berhasil mempertahankan peringkat Global Rating A- (Excellent) dari A.M. Best, hasil investasi konsolidasian juga mengalami peningkatan yang pesat.

Tercatat pada periode 31 Desember 2019, hasil investasi konsolidasian meningkat sebesar 85,3% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Hasil ini disumbangkan oleh peningkatan dana kelolaan dan suku bunga rata-rata investasi deposito, keuntungan kenaikan nilai efek-efek, serta peningkatan komposisi portofolio investasi instrumen keuangan dalam mata uang Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Tercatat di akhir tahun buku konsolidasian 2019, Tugu Insurance memiliki total aset Rp 20,7 triliun atau meningkat sebesar 18,9% dari Rp 17,4 triliun di periode yang sama tahun lalu.

Sedangkan, ekuitas perseroan meningkat 11,5% dari Rp7,4 triliun menjadi Rp8,3 triliun, dengan disertai tingkat risk-based capital (RBC) sebesar 434% yang berada jauh di atas ketentuan batas minimum Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu sebesar 120%.

 



Sumber: BeritaSatu.com