Kuartal I, Matahari Department Store Catat Penjualan Kotor Rp 2,71 Triliun

Kuartal I, Matahari Department Store Catat Penjualan Kotor Rp 2,71 Triliun
Gerai Matahari Department Store (Foto: Istimewa)
Aditya L Djono / ALD Rabu, 1 Juli 2020 | 13:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) membukukan penjualan kotor Rp 2,71 triliun pada kuartal I-2020 atau 18,1% lebih rendah dari kuartal I-2019. Perolehan ini diiringi dengan pendapatan bersih yang turun 19,6% menjadi Rp 1,54 triliun. Sementara, pertumbuhan penjualan gerai yang sama (SSSG) tercatat negatif 18,2%, dengan rugi bersih sebesar Rp 94 miliar.

CEO dan Wakil Presiden Direktur Matahari Department Store Terry O’Connor mengatakan, penjualan telah memenuhi harapan perseroan hingga pertengahan Maret ketika dampak Covid-19 menekan perdagangan perseroan secara signifikan. Pada hari-hari terakhir bulan Maret, pihaknya melihat penurunan penjualan secara signifikan, sehingga penjualan pada kuartal I-2020 menurun 18,1%.

“Kami menghadapi periode yang menantang ini dengan penuh kehati-hatian dan pertimbangan, dan jajaran senior kami berdedikasi penuh dalam menanggapi perubahan pasar dengan cepat. Kami tetap siap mengambil tindakan lebih lanjut untuk memastikan Matahari bangkit, serta melayani pelanggan lebih baik dari sebelumnya dan menyambut kembali kolega di gerai-gerai dan fasilitas kantor kami,” kata Terry dalam keterangan resmi, Selasa (30/6/2020).

Dia menegaskan, perseroan secara proaktif menutup semua kecuali 3 gerainya pada 30 Maret 2020, demi melindungi karyawan dan pelanggannya. Matahari meyakini telah turut ambil bagian dalam pencegahan Covid-19 secara nasional dan mendukung aksi pemerintah dalam menangani penyebarannya. Semua saluran online, termasuk Matahari.com, tetap beroperasi dan kemampuannya terus ditingkatkan untuk melayani permintaan yang meningkat melalui saluran ini.

Demi menjaga keterlibatan dengan pelanggan, Matahari menyediakan berbagai opsi, seperti Shop & Talk, sebuah inisiatif social commerce, serta official store pertama Matahari di platform Shopee.

Terry menambahkan, setelah hampir tidak ada perdagangan melalui gerai fisik selama April dan pada awal Mei, perseroan telah memiliki pandangan akan pemulihan bertahap dan mulai membuka kembali gerai-gerai di daerah yang disetujui pemerintah dengan tetap menegakkan protokol kesehatan yang ketat. Pada awalnya, sebanyak 24 gerai dibuka pada awal Mei, yang berpuncak pada 95 gerai di momen Lebaran.

Saat ini, perseroan mengoperasikan 145 gerainya, setelah membuka satu gerai baru dengan format besar di Palembang, Sumatera Selatan pada Mei 2020. Matahari Department Store merencanakan pembukaan dua hingga empat gerai pada semester II tahun ini.

Kini, Matahari memiliki 153 gerai. Setelah menelaah portofolionya, perseroan akan memiliki 145-150 gerai multi-brand dengan format besar pada akhir tahun ini.

Menurut Terry, tim manajemen, direksi, dan dewan komisaris Matahari menerapkan pendekatan yang berhati-hati dalam pengelolaan dan penggunaan sumber dananya. Hal ini demi mengantisipasi tekanan yang dapat berkepanjangan pada permintaan konsumen dan jumlah kunjungan ke gerai.

Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) baru-baru ini, manajemen telah menerima persetujuan dari pemegang saham untuk tidak membagikan laba tahun 2019. Demi mengurangi pengeluaran secara drastis, manajemen telah meninjau semua biaya operasional yang bukan prioritas, termasuk bekerja sama dengan pemilik mal untuk pelonggaran biaya sewa, membatasi semua pengeluaran pemasaran di kuartal II dengan pengeluaran terbatas di kuartal III, melarang perjalanan dinas, dan menghapus rencana belanja modal yang belum terikat.

Setiap gerai Matahari Department Store memiliki gugus tugas Covid-19 dan siap menjunjung tinggi protokol kesehatan dan keselamatan yang paling ketat, termasuk pemeriksaan suhu, layar pembatas kasir, penanda jarak, sistem sterilisasi produk, masker, dan hand sanitizer. Perseroan melakukan disinfeksi gerai-gerainya dua kali sehari. Matahari juga tidak mengizinkan penggunaan kamar pas bagi seluruh pelanggan, namun memperpanjang jangka waktu penukaran produk. Selain itu, semua staf melakukan penilaian diri dan karyawan yang berisiko tinggi diwajibkan bekerja dari rumah selama periode ini.



Sumber: BeritaSatu.com