Panen Raya Berakhir, Harga Gabah dan Beras Mulai Naik

Panen Raya Berakhir, Harga Gabah dan Beras Mulai Naik
Petani menjemur gabah hasil panen di Tangerang, Banten. (Foto: Beritasatu Photo / Ruht Semiono)
Herman / FER Rabu, 1 Juli 2020 | 17:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menyusul berakhirnya musim panen raya, harga gabah di tingkat petani mulai mengalami kenaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama Juni 2020 rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Rp 4.720 per kg atau naik 2,11 persen, dan di tingkat penggilingan Rp 4.819 per kg atau naik 1,88 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Permintaan Melemah, Inflasi Juni 0,18 Persen

Untuk rata-rata harga gabang kering giling (GKG) di tingkat petani Rp 5.845 per kg atau naik 4,61 persen dan di tingkat penggilingan Rp 5.958 per kg atau naik 4,39 persen. Dibandingkan Juni 2019, rata-rata harga gabah pada Juni 2020 di tingkat petani untuk kualitas GKP dan GKG masing-masing naik sebesar 3,70 persen dan 11,43 persen. Sedangkan di tingkat penggilingan, kenaikannya masing-masing sebesar 3,51 persen dan 11,14 persen.

"Dengan adanya kenaikan harga gabah, baik di tingkat petani maupun di tingkat penggilingan, maka harga beras di tingkat penggilingan juga mengalami kenaikan, terutama untuk beras kategori premium,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, dalam pemaparan Perkembangan Harga Gabah dan Beras, Rabu (1/7/2020).

Pada Juni 2020, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp 9.919 per kg, naik sebesar 0,94 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp 9.445 per kg atau turun sebesar 0,85 persen, dan rata-rata harga beras luar kualitas di penggilingan sebesar Rp 8.926 per kg atau turun sebesar 0,52 persen.

Harga Gabah

Baca Juga: Kunjungan Wisman Ke Indonesia Anjlok 53,36%

Setelah empat bulan mengalami penurunan sejak Februari 2020, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2020 ini juga mulai mengalami sedikit kenaikan. BPS mencatat NTP naik sebesar 0,13 persen menjadi 99,60. Pada Januari 2020, NTP sempat mencapai 104,14, kemudian berangsur-angsur turun, di mana pada Februari NTP-nya 103,35, Maret 102,09, April 100,32, dan Mei 99,47.

NTP sendiri merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.



Menurut Suhariyanto, kenaikan NTP ini dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani naik sebesar 0,23 persen, lebih tinggi dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani sebesar 0,11 persen.

Baca Juga: Jawa Timur Surplus Beras 1,9 Juta Ton

"Meskipun mengalami kenaikan, angka 99,60 ini masih berada di titik impas yaitu angka 100. Kalau dilihat, seluruh subsektor mengalami kenaikan nilai tukar, kecuali hortikultura dan tanaman perkebunan rakyat,” kata Suhariyanto.



Sumber: BeritaSatu.com