Kemdag Pacu Ekspor Produk Pangan Olahan ke Afrika Utara

Kemdag Pacu Ekspor Produk Pangan Olahan ke Afrika Utara
Ilustrasi ekspor dan impor. (Foto: Antara)
Herman / FER Jumat, 3 Juli 2020 | 17:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Berbagai upaya dikerahkan Kementerian Perdagangan (Kemdag) untuk menggenjot salah satu komoditas ekspor utama Indonesia, yaitu produk makanan dan minuman.

Baca Juga: Kemdag Perkuat Pasar Ekspor Lada Putih Muntok

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemdag, Kasan menyampaikan, pemerintah saat ini tengah menyusun beberapa strategi guna meningkatkan ekspor makanan olahan Indonesia di pasar global.

Pertama, menentukan fokus pasar dan produk ekspor unggulan. Kedua, meningkatkan penetrasi pasar dengan melakukan penyelesaian perundingan dan hambatan perdagangan, serta penguatan promosi dagang dan branding. Ketiga, memperkuat peran perwakilan perdagangan di luar negeri. Keempat, melakukan relaksasi ekspor dan impor untuk tujuan ekspor.

"Kami terus berupaya untuk selalu memberikan kontribusi dalam peningkatan ekspor, salah satunya dengan memfasilitasi kegiatan perdagangan. Berbagai potensi pasar harus terus digali agar ekspor produk Indonesia, khususnya pangan olahan, dapat terus meningkat,” ujar Kasan dalam keterangan resminya, Jumat (3/7/2020).

Baca Juga: Ekspor Produk Makanan Olahan Meningkat

Salah satu kawasan yang menjanjikan untuk menjadi tujuan utama ekspor pangan olahan dari Indonesia, menurut Kasan, adalah Kawasan Afrika Utara, khususnya Mesir.

Tercatat, ada lima produk ekspor makanan olahan Indonesia terbesar ke Mesir pada 2019, yaitu saus, bumbu, dan rempah; olahan ikan, tuna, sugar confectionary yang tidak mengandung kakao, olahan ikan, sarden; serta makanan.

Selain itu, produk makanan olahan Indonesia yang potensial di Mesir yaitu produk perikanan, food preparations, kopi, cokelat, biskuit dan makanan ringan.

Baca Juga: Kanada Pasar Potensial Produk Indonesia

"Saat ini kita melihat peluang makanan olahan menjadi alternatif pilihan yang dicari masyarakat karena dapat disimpan lebih lama dibandingkan pangan segar. Selain itu, masyarakat cenderung lebih memilih masak di rumah dan menyukai produk-produk yang bernutrisi, memenuhi keamanan pangan dan terjaga higienitasnya," ungkap Kasan.



Sumber: BeritaSatu.com