Mompreneur Jadi Penopang Ekonomi Keluarga di Masa Krisis

Mompreneur Jadi Penopang Ekonomi Keluarga di Masa Krisis
Talkshow HUT ke-74 BNI dengan tema "Satukan Energi untuk Indonesia di Era Newormal”. (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Feriawan Hidayat / FER Senin, 6 Juli 2020 | 22:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) membuktikan diri sebagai bisnis yang tahan banting, bahkan menjadi penyelamat ekonomi keluarga di tengah merebaknya pandemi Covid-19.

Baca Juga: Teten: Layanan Konsultasi Bantu UMKM Naik Kelas

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengatakan, dimasa pandemi Covid-19 ini para istri justu tampil sebagai penyelamat ekonomi keluarga dengan berbegai jenis usaha yang mereka lakukan di rumah. Teten mencontohkan, ada seorang dokter gigi yang tidak bisa praktek hingga kehilangan pendapatan tertolong oleh usaha bisnis donat yang sudah dimulai istrinya sebelum Covid-19 mewabah.

"Ketika Covid-19 bisnis istrinya yang berkembang, dan mereka jual lewat media sosial, itulah salah satu contoh bagaimana justru para perempuan sekarang yang mengambil alih," ujar Teten dalam acara talkshow HUT ke-74 BNI, dengan tema 'Satukan Energi untuk Indonesia di Era New Normal' di Jakarta, Minggu (5/7/2020).

Saat ini, lanjut Teten, secara umum tren ekonomi justru bergerak ke arah ekonomi domestik dimana peran ibu rumah tangga para mompreneur makin dominan. Dengan perkembangan teknologi digital saat ini, memberikan kesempatan yang sama bagi para mompreneur untuk bisa bersaing di dunia usaha.

Dalam kesempatan tersebut, Teten juga mengucapkan terima kasih untuk BNI yang selama ini telah banyak membantu memberdayakan UMKM. Menurutnya, 99 persen pelaku usaha di Indonesia adalah UMKM dan sebagian besar merupakan perempuan atau kaum ibu.

Baca Juga: BNI Ajak 100 Pelaku UMKM Berjualan Online

"Nah, komitmen BNI untuk terus membantu dalam pengembangan usaha UMKM ini saya kira sudah tepat dan mereka perlu dipermudah untuk mengakses pembiayaan BNI. Selanjutnya, BNI juga perlu mengembangkan program-program inkubasi untuk mengembangkan benih-benih entrepreneur yang tumbuh di masyarakat," tandas Teten.

Sementara, Direktur Bisnis UMKM PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Tambok P Setyawati mengatakan, tahun ini pertumbuhan jumlah debitur UMKM BNI mencapai 32 persen. Tahun 2015, jumlah debitur UMKM hanya 97.000 dan mencapai 280.000 debitur pada Juni 2020.

"Yang menarik bahwa komposisi antara debitur entrepreneur UMKM perempuan dan laki-laki di BNI yang terus berkembang, dari sebelumnya hanya 20 persen, kini sudah mencapai 50 persen," ungkap Tambok.

Menurut Tambok, peran perempuan di dunia usaha khsusnya UMKM terus meningkat. Meski di tengah pandemi Covid -19, para ibu terus melakukan aktivitas usahanya dari rumah sambil menjaga anak dan menjaga kesehatan untuk membantu serta menopang kebutuhan keluarga.

Baca Juga: UMKM Akan Dihubungkan dengan Usaha Besar

Tambok menuturkan, BNI berkomitmen membangun UMKM yang kokoh bersama pemerintah dengan tidak hanya melakukan pembiayaan terhadap UMKM tapi juga melakukan pendampingan.

"Pembiayaannya ini benar-benar bertahap sesuai dengan perkembangan nasabah. Jadi kalau nasabah pemula yang masih usahanya belum feasible, kami bisa lakukan pembiayaan yang benar-benar ringan melalui program CSR," cetusnya.

Saat ini, ada sekitar 62 juta unit UMKM yang mempekerjakan sekitar 116juta orang. Artinya, lebih dari 80 persen peran tenaga kerja Indonesia ada di sektor UMKM. Selama Covid-19 antara Maret hingga Mei, BNI fokus membantu debitur dengan memberikan keringanan pembayaran bunga agar mereka mampu bertahan.

Pada kesempatan sama, musisi yang juga seorang pengusaha kecantikan, Maia Estianty mengaku pernah merasakan pahit getir merintis bisnis online. Menurut Maia, skema kredit berbunga ringan bagi UMKM seperti yang ditawarkan BNI merupakan program yang dinanti oleh pelaku usaha. "Terima kasih kepada BNI karena berkat bantuan EDC (electronic data capture), bisnis saya bisa berkembang pesat,” ungkap Maia Estianty.

Baca Juga: RUU Cipta Kerja Mudahkan UMKM

Menurut Maia, bisnis online adalah bisnis yang sangat baru dan menjanjikan apalagi dengan jumlah follower-nya yang mencapai jutaan. Wanita yang akrab disapa bunda Maia ini menuturkan, di masa pandemi ini bisnis skin care yang dimulainya sejak tahun 2015, omzetnya tidak terdampak. "Yang berpengaruh adalah pegawai yang masuk ke rumah jadi shifting hanya boleh orang satu masuk rumah,” katanya.

Dari sisi keuntungan, Bunda Maia mengaku bahwa bisnis online melalui media sosial (Medsos) sangat menguntungkan, bahkan bisa menopang biaya hidupnya dan anak-anak. Karena itu, Bunda Maia menyarankan agar mereka mengikuti jejaknya.

"Saya memberikan masukan kepada anak-anak lain kali kamu sebagai musisi, jangan cuma jadi musisi aja, ya kalau bisa juga berbisnis apalagi kalian punya medsos yang platform yang begitu besar. Sayang kalau dibiarin begitu aja tapi sayang kalau punya marketing besar tapi tidak di apa-apain," tandas Maia Estianty.



Sumber: BeritaSatu.com