Kelompok Menengah ke Bawah Jadi Sasaran Tembak Covid-19 di Era New Normal

Kelompok Menengah ke Bawah Jadi Sasaran Tembak Covid-19 di Era New Normal
Ilustrasi aktivitas di pasar tradisional. (Foto: Antara)
Herman / JAI Sabtu, 11 Juli 2020 | 14:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rusli Abdullah, mengatakan masyarakat kalangan menengah ke bawah menjadi “sasaran tembak” pandemi virus corona (Covid-19) di era new normal (normal baru).

Menurut Rusli Abdullah, kika pada tahap awal kelompok menengah ke atas yang paling banyak terinfeksi karena melakukan perjalanan ke luar negeri, maka pada gelombang kedua kelompok menengah ke bawah yang paling rentan terinfeksi.

“Melihat perkembangan kasus Covid-19 saat ini, justru paling rentan adalah kelompok menengah ke bawah, apalagi yang bekerja di sektor informal seperti di pasar tradisional, karena kedisiplinan mematuhi protokol kesehatan yang masih rendah. Jika tidak segera diantisipasi, akan terjadi gelombang kedua kasus Covid-19 dan skalanya bisa lebih besar,” kata Rusli Abdullah kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Jumat (10/7/2020).

Terkait dengan itu, pemerintah harus lebih mengoptimalkan upaya edukasi dan sosialisasi terkait pentingnya mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Pasalnya dalam masa transisi menuju normal baru ini, jumlah kasus baru Covid-19 justru semakin meningkat.

Rusli Abdullah mengatakan, peningkatan kasus baru Covid-19 di era normal baru, sudah menunjukkan tren sasaran tembak pandei corona yang bergeser ke kalangan menengah ke bawah. Pasalnya, selain tingkat kepatuhan pada protokol perlindungan diri yang rendah, elompok ini secara finansial juga tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri, misalnya membeli vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh, bahkan ada sebagain yang tidak mampu membeli masker atau hand sanitizer.

“Kuncinya adalah disiplin mematuhi protokol kesehatan new normal. Pemerintah juga harus lebih tegas dalam mendisiplinkan masyarakat, misalnya dengan memberikan sanksi bagi masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Selain itu, tes Covid-19 juga harus terus diperluas,” ujar Rusli Abdullah.

Menurut Rusli Abdullah, selama pandemi Covid-19 belum terkendali, maka dunia bisnis akan sulit pulih dan berdampak pada berlanjutnya pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal itu akan menurunkan daya beli masyarakat, dan pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Misalnya saja pada triwulan I 2020, konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang terbesar PDB Indonesia hanya tumbuh 2,84%, padahal biasanya di atas 5%. Hal ini membuat ekonomi Indonesia merosot ke level 2,97%.



Sumber: Suara Pembaruan