Bangun Perkoperasian Nasional Lewat Sistem Ekonomi Murakabi

Bangun Perkoperasian Nasional Lewat Sistem Ekonomi Murakabi
Ilustrasi usaha mikro, kecil, dan menengah. (Foto: Antara)
Lona Olavia / FER Minggu, 12 Juli 2020 | 16:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dalam perkembangan ekonomi politik nasional dan global tidak disadari perlahan kini telah menyingkirkan koperasi. Usaha koperasi terus digerus oleh persaingan liberal usaha dan korporasi, sehingga menempatkan kelompok kapitalis menjadi kekuatan utama ekonomi nasional.

Baca Juga: Dua Paham Ini Dinilai Hambat Kemajuan Koperasi

Ekonom Universitas Surakarta, Agus Trihatmoko, mengatakan, koperasi tinggal menjadi kegiatan usaha di bagian lapisan bawah korporasi besar atau institusional tertentu.

"Masih ada beberapa koperasi besar di Indonesia yang dinilai kuat di bagian tubuh korporasi besar. Misalnya, Koperasi Warga Semen Gresik (KWSG) dan Koperasi Semen Padang. Namun, kemungkinan KSWG sudah mulai terpuruk oleh karena mis-manajemen dan juga terholdingnya perusahaan ke Semen Indonesia,” ujar Agus Trihatmoko, Minggu (12/7/2020).

Agus mengakui, sudah banyak strategi atau upaya dari program-program kerja Kementerian Koperasi dan UKM semenjak dulu hingga sekarang. Sehingga, kuantitas koperasi meningkat. Namun, kualitas koperasi nasional masih jauh dari visinya sebagai soko guru perekonomian. Bahkan, kelembagaan bernama koperasi disalahgunakan oleh oknum pelaku usaha seperti halnya cara kapitalis.

"Pembangunan perkoperasian di Indonesia akan sangat sulit maju dan besar, bahkan semakin menuju keredupannya selagi liberalisasi ekonomi terus mengalir dalam sistem pembangunan ekonomi nasional. Tak dapat dihindari dari arah ekonomi global dan kemajuan teknologi digital semakin memperkuat dominasi kapitalis besar dan menyingkirkan peran koperasi," tegas Agus.

Baca Juga: Hipmi Minta Koperasi Produktif Lebih Digalakkan

Oleh karena itu, kata Agus, perlu keberpihakan dari kebijakan pemerintah untuk menempatkan koperasi-koperasi dalam berbagai sektor bisnis untuk ambil bagian secara signifikan. Jika, memang perekonomian Indonesia dibangun sesuai dengan amanat konstitusinya, yaitu Pasal 33 UUD NKRI 1945.

Lebih lanjut, reposisi koperasi dari lapisan bawah ekonomi kepada lapisan atas sangat memungkinkan yaitu dengan sistem ekonomi murakabi. Koperasi diberikan kesempatan beroperasi tidak berdiri sendiri dalam unit usahanya, tetapi bersinergi dengan usaha korporasi besar.

Berikutnya, suatu mekanisme seperti keanggotaan masyarakat dalam koperasi yaitu kepemilikan saham masyarakat dalam korporasi besar. Inilah teori ekonomi murakabi sebagai solusi di tengah kesulitan berkembangnya perkoperasian. Kekuatan ekonomi nasional akan berdiri kokoh pada saat masyarakat tercakup dalam keanggotaan berbagai unit koperasi, beserta memiliki saham-saham korporasi besar nasional.

Secara teoretikal, lanjut Agus, murakabisme ekonomi menyatakan bahwa pendekatan ini mampu meredam potensi krisis ekonomi, karena tidak mengandalkan perdagangan kapital. Asas kekeluargaan dan gotong royong adalah kekuatan kapital dari partisipan pelaku atau organ ekonomi secara kolektif.

Baca Juga: BUMN Diminta Prioritaskan PKBL untuk Koperasi

"Pada Hari Koperasi ke–73 ini merupakan kesempatan baik bagi saya untuk turut menyumbangkan pemikiran ekonomi murakabi sebagai perkuatan koperasi Indonesia. Dalam kepentingan ini juga, bahwa murakabisme ekonomi tidak hanya penting bagi bangsa Indonesia tetapi juga telah ditawarkan bagi dunia. Kesejahteraan rakyat dan perdamaian dunia menjadi arah dari tatatan ekonomi murakabi. Karena, perang dagang atau ekonomi dan resesi ekonomi saat ini telah memicu ketegangan fisik antar negara adi daya,” ungkap Agus.



Sumber: BeritaSatu.com