Banyak Koperasi Tidak Aktif karena Terlalu Andalkan Dana dari Luar

Banyak Koperasi Tidak Aktif karena Terlalu Andalkan Dana dari Luar
Ilustrasi Koperasi (Foto: Beritasatu.com)
Herman / YUD Minggu, 12 Juli 2020 | 17:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, sebanyak 81.686 koperasi di Indonesia dibubarkan dalam empat tahun terakhir (2016-2019). Rinciannya adalah pada 2016 sebanyak 45.629 koperasi, 2017 sebanyak 32.778 koperasi, 2018 sebanyak 2.830 koperasi, dan 2019 sebanyak 449 koperasi.

Sementara itu jumlah koperasi per 31 Desember 2019 tercatat sebanyak 123.048. Jumlahnya terus menurun dibandingkan 2016 lalu yang mencapai 151.170 koperasi, 2017 sebanyak 152.174 koperasi, dan 2018 sebanyak 126.343 koperasi.

Pendiri UKM Center Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (UI) yang juga pembina koperasi Mitra Duafa, Nining I. Soesilo mengungkapkan, berdasarkan hasil analisisnya, kebanyakan koperasi di Indonesia yang tidak aktif lagi lantaran terlalu mengandalkan dana dari luar.

“Dari analisis yang saya lakukan secara ekonomitika terhadap wajah koperasi di Indonesia, ternyata banyak koperasi yang tidak aktif itu terlalu menggantungkan dana dari luar. Jadi mereka hanya beroperasi pada saat ada dana dari luar saja, inilah yang kemudian ditutup. Dan ternyata juga banyak dipakai untuk kegiatan leisure,” kata Nining I. Soesilo dalam acara diskusi yang digelar Iluni UI melalui webinar, Minggu (12/7/2020).

Nining juga mengomentari keberadaan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) yang sejak masa pemerintahan Soeharto mendapatkan APBN. Hal ini menurutnya tidak tepat, sebab Dekopin merupakan gerakan koperasi yang seharusnya bisa lebih mandiri.

“Karena dari dulu sejak zaman Pak Harto, Dekopin dikasih APBN, itulah runtuhnya koperasi sejak zaman itu. Karena kemudian orang beranggapan bahwa untuk membuat koperasi harus dekat-dekat dengan kekuasan supaya dapat dana. Jadi mentalnya mental mengemis. Padahal kopersi itu adalah wirausaha, dia harus risk bearing activities. Jadi pemerintah sendiri yang sebenarnya merusak, makanya (jumlah) sekarang koperasi itu makin kecil,” kata Nining.



Sumber: BeritaSatu.com