Inovasi Teknologi Optimalkan Produksi Sawit di Lahan Gambut

Inovasi Teknologi Optimalkan Produksi Sawit di Lahan Gambut
Lahan bekas gambut untuk pertanian. (Foto: Antara)
Lona Olavia / EHD Selasa, 14 Juli 2020 | 20:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Supiandi Sabiham mengatakan, pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit bisa dimaksimalkan perannya untuk sektor industri lain jika menggunakan teknologi yang tepat. Bahkan gambut yang dimanfaatkan untuk sawit akan semakin baik dan tidak mudah terdegradasi asalkan juga dikelola secara benar.

"Gambut secara alamiah memang kurang layak, tapi itu dengan teknologi masih bisa diupayakan sehingga bisa diupayakan untuk usaha pertanian khususnya perkebunan kelapa sawit. Pemilihan lahan gambut untuk kelapa sawit memang itu terjadi jika sangat terpaksa, jika tidak ada lahan lain, tapi dengan teknologi bisa diupayakan," ujarnya dalam acara Ngobrol Bareng Gapki seri 5 "Upaya Peningkatan Produktivitas Kebun Sawit di Lahan Gambut" secara virtual, Selasa (14/7/2020).

Supiandi mengakui, tanah gambut memiliki karakter cepat kering dan mudah terbakar pada saat musim kemarau. Tapi hal itu dapat diantisipasi dengan pembangunan sistem drainase yang baik. Membuat kanal beserta parit serta pintu-pintu air yang berfungsi membuang kelebihan air ketika musim hujan dan menahan air saat musim kemarau sangat penting. Dengan begitu, air tanah akan terjaga, sehingga tidak mudah terjadi kebakaran. “Kuncinya adalah pengelolaan yang benar, disiplin, dan berkesinambungan,” tegasnya.

Sementara itu, Head of Agronomy PT Abdi Budi Mulia Syahril Pane mengatakan, dalam mengelola perkebunan yang penting adalah taat pada regulasi atau peraturan yang ada, termasuk dalam hal penggunaan lahan gambut untuk kelapa sawit. Jika tidak taat pada regulasi, maka operasional penanaman akan terganggu.

"Jadi, temen-teman planter jangan khawatir. Bertanam kelapa sawit di lahan gambut, yang penting adalah komitmen kepedulian dan bagaimana kita bisa menyayangi kelapa sawit. Dalam artian peduli," ungkapnya.

Syahril menyadari, memang hal teknis pemanfaatan lahan gambut untuk kelapa sawit harus diantisipasi seperti permukaan air tanah, doyongnya tanaman, hama dan penyakit.

Director Sarawak Tropical Peat Research Institute Lulie Melling menuturkan, perusahaan perkebunan raksasa Malaysia mampu menerapkan teknik yang bisa mencegah kebakaran di atas lahan gambut. Caranya cukup sederhana, yakni dengan mengeraskan atau memadatkan permukaan tanah gambut sebelum ditanami kelapa sawit. Lahan gambut dipadatkan dengan menggunakan alat berat seperti eskavator. Bila ada pohon, batangnya dicabut terlebih dahulu kemudian dipadatkan.

Perusahaan sawit, katanya harus mulai melakukan pemadatan atau teknik kompak untuk lahan gambut. Pemadatan dilakukan menyesuaikan dengan kondisi lahan gambut. Bila lahan gambut masuk kategori virgin pet atau masih sangat basah, maka pemadatan dilakukan lebih intensif, sedangkan pemadatan lebih minim bila kondisi lahan gambut masuk kategori non virgin atau lahan gambut tak banyak kayu di bawah tanah.

Kalau tidak ada pemadatan, musim kemarau pasti mudah terbakar. Selain itu, pohon sawit menjadi kerdil atau tidak tumbuh dengan baik. "Pembukaan lahan gambut untuk sawit sebenarnya meningkatkan kehidupan masyarakat," katanya.

Seperti diketahui, produk komoditas sawit di Indonesia merupakan produk luar biasa. Penyebabnya, ada sekitar 25 hingga 30 Juta masyarakat Indonesia yang bergantung hidupnya pada sektor industri kelapa sawit.

Bahkan, sawit ini sudah hampir satu dekade menjadi komoditas penyumbang devisa ekspor terbesar di mana sumbangannya sudah lebih dari 10% ke APBN. Di sisi lain, meskipun sedang dilanda wabah Covid-19, sawit diyakini tetap memberikan devisa terbesar terhadap perekonomian nasional.



Sumber: BeritaSatu.com