Neraca Perdagangan Non Migas Indonesia ke Tiongkok Defisit US$ 5,31 Miliar

Neraca Perdagangan Non Migas Indonesia ke Tiongkok Defisit US$ 5,31 Miliar
Pangsa Pasar Ekspor Nonmigas Indonesia Semester I 2020 (Foto: Dok SP)
Herman / JAI Kamis, 16 Juli 2020 | 15:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan Tiongkok mengalami defisit sebesar US$ 5,31 miliar atau sekitar Rp 77,767 triliun selama semester I 2020.

"Sebaliknya, neraca perdagangan non migas Indonesia dengan Amerika Serikat mengalami surplus sebesar US$ 4,76 miliar atau sekitar Rp 69,712 triliun," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, di Jakarta, Rabu (15/7/2020).

Selain Tiongkok, neraca perdagangan nonmigas Indonesia juga mengalami defisit dengan Australia sebesar US$ 874 juta atau sekitar Rp 12,800 triliun, dan Thailand US$ 1,4 miliar atau Rp 20,503 triliun.

Sedangkan necara perdagangan non migas Indonesia dengan beberapa negara yang juga mengalami surplus selama semester I-2020 adalah India sebesar US$ 3 miliar (Rp 43,936 triliun), disusul Belanda US$ 1,05 miliar (Rp 15,377 triliun).

Suhariyanto mengatakan, meski neraca perdagangan mengalami defisit, Tiongkok masih menjadi pangsa ekspor non migas terbesar Indonesia, disusul Amerika Serikat (AS). Hal itu, cukup menggembirakan di tengah pandemi virus corona (Covid-19). 

Selama semester I 2020, pangsa ekspor non migas Indonesia dengan Tiongkok mencapai 17,71% senilai US$ 12,83 miliar atau sekitar Rp 187,902 triliun, disusul AS sebesar 11,86% senilai US$ 8,59 miliar atau sekitar RFp 125,805 triliun.

Selain Tiongkok dan AS, pangsa ekspor non migas Indonesia ke Jepang mencapai 8,68% senilai US$ 6,29 miliar atau Rp 92,120 triliun, kemudian India 6,54% sebesar US$ 4,73 miliar atau Rp 69,273 triliun dan Singapura sebesar 6,36% senilai US$ 4,61 miliar atau Rp 67,515 triliun.

Menurut Suhariyanto, meski diterpa pandemi Covid-19, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 5,50 miliar pada Semester I 2020. Hal itu disebabkan surplus sektor nonmigas sebesar US$ 9,05 miliar atau sekitar Rp 132,542 triliun, meskipun sektor migas mencatatkan defisit US$ 3,54 miliar atau sekitar Rp 51,845 triliun.

“Selama periode Januari sampai Juni 2020, neraca perdagangan kita mengalami surplus US$ 5,50 miliar. Ini juga jauh lebih bagus dibandingkan periode yang sama di tahun 2019 yang mengalami defisit US$ 1,87 miliar,” ujar Suhariyanto.

Dia memaparkan, nilai ekspor Indonesia pada semester I-2020 mencapai US$ 76,41 miliar, turun 5,49% dari US$ 80,85 miliar pada semester I-2019. Sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$ 72,43 miliar atau turun 3,60% dari US$ 75,13 pada triwulan I-2019. Untuk share terbesar ekspor nonmigas berasal dari bahan bakar mineral senilai US$ 9,37 miliar atau 12,94%, serta lemak dan minyak hewan/nabati senilai US$ 8,94 miliar (12,34%).

Suhariyanto juga memberi catatan perihal kinerja impor Indonesia. Pada semester I-2020, impor Indonesia mencapai US$ 70,91 miliar, turun 14,28% dibandingkan triwulan I-2019 yang mencapai US$ 82,72 miliar. Untuk impor nonmigas mencapai US$ 63,38 miliar pada semester I 2020, atau turun 11,76% dari US$ 71,83 pada triwulan I 2020.

Untuk share terbesar impor nonmigas adalah mesin dan peralatan mekanis senilai US$ 10,83 miliar (17,09%), serta mesin dan perlengkapan elektrik US$ 8,73 miliar (13,78%). Impor bahan baku/penolong turun US$ 9,30 miliar (15%), sedangkan impor barang modal turun US$ 2,22 miliar (16,82%).



Sumber: BeritaSatu.com