Hingga Mei, Produksi Emas Nasional 9,98 Ton

Hingga Mei, Produksi Emas Nasional 9,98 Ton
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 16 Juli 2020 | 17:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Realisasi produksi emas nasional hingga Mei 2020 mencapai 9,98 ton. Hingga akhir tahun 2020, produksi diperkirakan di bawah 100 ton, atau turun dari realisasi 2019 sebesar 109 ton.

"Mudah-mudahan produksi tidak jauh dari 100 ton," kata Staf Khusus Menteri ESDM, Irwandi Arif pada journalist zoom webinar bertema "Mining Companies Amid Pandemic: Government Policy, What to Do Now and Next" Kamis (16/7/2020)

Irwandi mengatakan, rata-rata produksi emas nasional per tahun sekitar 100 ton. Dari total produksi tersebut, sekitar 80 persen dikontribusikan oleh PT Freeport Indonesia. Sementara saat ini perusahaan asal Amerika Serikat (AS) yang memiliki konsesi di Papua itu dalam masa transisi dari tambang terbuka (open pit) ke tambang bawah tanah (underground).

Dia memperkirakan peralihan Freeport ke tambang undergorund bisa memakan waktu 1-2 tahun untuk kembali normal. "Freeport belum bisa normal sampai akhir tahun, tentu hal akan berdampak pada produksi emas nasional, turunnya berapa, tentu harus dicek semua perusahaan, tapi saya kia tidak jauh dari 100 ton," kata Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Baca juga: Harga Emas Naik ke Level Tertinggi 9 Tahun

Chairman of Indonesia Mining Institute ini mengungkapkan, dari sekitar 20-28 perusahaan emas di Indonesia, kontribusi di luar Freeport tidak begitu besar.

Secara umum Irwandi mengungkapkan, kondisi sektor minerba akibat Covid-19 sampai April 2020 masih tumbuh. Namun yang perlu dikhawatirkan adalah pada Mei sampai akhir tahun 2020. "Sejak Mei sampai akhir 2020 penurunan yang terjadi sekitar 20 persen baik dari segi produksi maupun pendapatan. Ini sudah diprediksi bersama baik oleh Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan," kata dia.

Saat ini kata dia, harga komoditas mineral juga mengalami penurunan, kecuali emas. "Emas terus naik, sekarang mencapai US$ 1.800 per troy ounce. Ini satu-satunya komoditas yang tidak alami penurunan harga," kata Irwandi.

Kontribusi sektor pertambangan pada penerimaan pajak di 2019 mencapai Rp 66,1 triliun atau 5,3 persen dari total penerimaan. Sementara dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp 45 trilun. Adapun produk domestik bruto (PDB) sektor pertambangan 2019 terhadap total PDB nasional mencapai 4,7 persen.



Sumber: BeritaSatu.com