Rusuh Suporter, BOPI dan PSSI Hanya Berikan Peringatan Keras

Rusuh Suporter, BOPI dan PSSI Hanya Berikan Peringatan Keras
Ilustrasi suporter sepakbola menyalakan suar ("flare") ( Foto: Antara )
Hendro D Situmorang / YUD Jumat, 17 Mei 2019 | 09:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) bersama Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) tidak mau menghentikan dan tetap akan melanjutkan kompetisi Liga 1 2019 meski sempat terjadi kerusuhan antarsuporter pada laga pembuka antara PSS Sleman dan Arema FC di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, Rabu (15/5/2019) lalu.

Plt Sekjen BOPI, Sandi Suwardi Hasan mengaku memberikan peringatan keras kepada operator kompetisi PT Liga Indonesia Baru (LIB) agar bisa mempersiapkan setiap pertandingan Liga 1 lebih baik lagi dan mampu mengatasi permasalahan yang ada.

"Hal itu karena sudah ada fakta integritas semua klub sepakbola di Liga terkait suporter, maka kami beri peringatan keras pada LIB. Rencana hari ini (Jumat, 17 Mei) kami memanggil LIB bersama PSSI untuk evaluasi. Saya sudah terima laporan sementara dari LIB yang menyertakan hasil laporan panpel. BOPI akan evaluasi putaran kompetisi lagi dalam memberikan rekomendasi pertandingan," ujarnya ketika dihubungi SP, Jumat (17/5/2019).

Diakui, bahkan BOPI sempat memberi ancaman akan mencabut rekomendasi gelaran Liga 1 2019 kepada LIB dan panpel jika pertandingan pada pertandingan PSS Sleman vs Arema FC tersebut tidak bisa segera diatasi secepatnya. Meski laga sempat dihentikan 15 menit karena kerusuhan suporter, akhirnya panpel bisa mengatasi dan melanjutkan sisa pertandingan tersebut.

"Tapi ternyata pertandingan akhirnya bisa digelar sampai selesai. Hal ini menandakan panpel di lapangan punya kecukupan kemampuan konsulidasi meski terjadi kerusuhan. Andaikan kerusuhan itu tak bisa diatasi dalam waktu 2x45 menit dan kerusuhan semakin tak terkendali, maka otomoatis rekomendasi langsung kami cabut dan tidak ada Liga 1 dan Liga 2 tahun ini, karena saat itu saya ada di lokasi menonton laga," ungkap dia.

Menurutnya, saat pertandingan berhenti ia mengumpulkan semua pihak yakni Exco PSSI, Direktur LIB, pimpinan kedua klub sepakbola yang juga hadir di lokasi, termasuk pengawas pertandingan dan panpel juga. Mereka diberikan waktu 15 menit menyelesaikan masalah tersebut.

10 menit rapat dadakan penonton di tribun mulai tertib dan pemain Arema mulai kembali masuk ke lapangan yang kemudian disusul pemain PSS dan wasit masuk lapangan sebelum pertandingan kembali dimulai tepat di 15 menit yang diminta Sandi. Total pertandingan PSS vs Arema berhenti selama 55 menit.

"Saya lihat di pertandingan itu yang tampak bertengkar bukan suporter dari kedua kesebelasan, tetapi oknum penonton. Saya membedakan suporter dan penonton, soalnya suporter Arema dan PSS Sleman terbilang tertib dalam menyanyikan yel-yel dan menonton di tribun. Mungkin ada yang sengaja membuat kerusuhan kemarin itu," jelasnya.

BOPI dan PSSI pun menyesalkan kejadian ini. Sebenarnya ini bukan hal yang luar biasa, tapi karena ini terjadi di laga pembuka, kick off Liga 1, jadi hal itu dinilai memprihatinkan. Kini untuk menekan kejadian serupa tak terulang, BOPI meminta PSSI selaku induk federasi mengambil tindakan tegas.

"Meminta PSSI untuk mengambil tindakan tegas dalam menyikapi insiden ini. BOPI berkomitmen memastikan kompetisi Liga 1 mengutamakan keamanan, kenyamanan, dan keselamatan semua pihak yang terlibat didalamnya," jelasnya.

Sementara Direktur Hubungan Media dan Promosi Digital PSSI, Gatot Widakdo mengatakan federasi tidak bisa lengsung menghentikan kompetisi Liga 1 hanya karena terjadi kerusuhan saat pertandingan berlangsung. Semua harus dilihat dari kasus yang terjadi dan berdasarkan hasil evaluasi.

"Saat ini kami tunggu laporan dari panpel dan LIB dulu karena semua pertandingan selalu kami evaluasi baik itu administrasi, pelaksanaannya dan laporan panpel di lapangan. Setelah itu baru kami tindak lanjuti," ujar Gatot Kamis (16/5).

Menurutnya, semua dilihat dari kasusnya terlibat dahulu dan tak bisa langsung menghentikan begitu saja Liga 1 ini, karena kalau Liga dihentikan akan ada dampaknya pada klub. Sementara untuk urusan sanksi, pihak Komdis PSSI yang memutuskan apa yang diberikan pada klub nantinya.



Sumber: Suara Pembaruan