Pengaturan Skor Adalah Pengkhianatan Terhadap Dunia Olahraga

Pengaturan Skor Adalah Pengkhianatan Terhadap Dunia Olahraga
Ilustrasi pengaturan skor sepakbola ( Foto: Istimewa )
Hendro D Situmorang / CAH Senin, 8 Juli 2019 | 20:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengaturan skor yang terjadi disepakbola Indonesia dinilai sudah lama terjadi di sepakbola Indonesia. Pelakunya adalah mafia bola yang melakukan hanya untuk kepentingan judi dengan melibatkan uang yang tidak sedikit. 

Pengamat sepakbola, Rudi S Kamri mengatakan apa yang dilakukan para mafia bola itu tidak hanya merusak motivasi para pemain dan wasit untuk berprestasi maksimal. Masyarakat dikatakannya tentunya marah bahkan bisa mengamuk saat mengetahui ketika seru-serunya menyaksikan pertandingan sepakbola, ternyata mendapatkan informasi bahwa pertandingan itu sudah diatur skornya oleh orang-orang tertentu (mafia sepakbola). Klub pemenang, kalah bahkan dengan skor tertentu, semua sudah diatur oleh para mafia.

"Kita merasa ditipu dan dibohongi oleh penjahat sepakbola tersebut. Ini ternyata telah terjadi selama puluhan tahun dalam dunia sepakbola kita. 'The Godfather' mafia sepakbola Indonesia dan para kroconya seenak sendiri mengatur merah hitamnya persepakbolaan Indonesia untuk kepentingan pribadi mereka," ujar dia dalam keterangannya, Senin (8/7/2019).

Pengaturan skor dikatakannya bukan hanya merupakan pengkhianatan terhadap sportivitas yang menjadi roh utama pertandingan olahraga, melainkan juga kejahatan terhadap dunia olahraga.

"Ini mungkin bisa menjawab pertanyaan dari kita semua selama ini mengapa sampai sekarang sepakbola Indonesia tidak kunjung punya prestasi yang membanggakan. Dengan modal sumber daya manusia (SDM) Indonesia sebanyak 260 juta orang, kita tidak akan mampu membentuk "the dream team" (tim impian) selama mafia sepakbola merajalela di Indonesia," ungkapnya.

Ia pun mempertanyakan peran federasi sepakbola nasional PSSI yang tak mampu membersihkan hal tersebut. Cerita kebusukan para pengurus PSSI sudah menjadi cerita lama. Mereka tidak menjadi pemecah masalah, tapi justru bagian dari masalah yang harus dibersihkan. Hal ini terbukti dengan ditetapkannya Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono dan beberapa anggota Komite Eksekutif PSSI sebagai tersangka "match fixing" dan perusakan barang bukti terkait “match fixing”.

Tragedi "match fixing" juga dialami saat pertandingan final Piala AFF 2010 di mana Timnas Indonesia “dipaksa” mengalah terhadap tuan rumah Malaysia. Terjadinya campur tangan mafia bola dalam pertandingan tersebut diungkapkan Manajer Timnas, Andi Darussalam Tabusalla beberapa waktu kemudian. Kejadian tersebut benar-benar merupakan penghinaan terhadap kehormatan bangsa dan negara.

Mengapa mafia sepak bola Indonesia sulit sekali dihapuskan? Menurut penuturan Suhendra Hadikuntono, Ketua Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN), karena melibatkan beberapa "tokoh besar" yang "untouchable" (tak tersentuh), yang dilindungi tokoh besar yang dekat dengan kekuasaan.

Penjelasan Suhendra ini diamini tokoh suporter nasional KP Norman Hadinegoro dan beberapa pemerhati sepakbola Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan usaha keras Presiden Joko Widodo membersihkan sepakbola Indonesia dari praktik mafia seolah membentur tembok, karena kemungkinan besar Presiden Jokowi sengaja “dibuta-tulikan” oleh para pembantunya yang merupakan kaki tangan “The Godfather” mafia sepakbola Indonesia.

"Itu PR (pekerjaan rumah) besar bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana kita bisa mengembalikan maruah sepakbola Indonesia melalui pertandingan yang penuh sportivitas dan orientasi pada prestasi? Usaha keras dari KPSN yang tanpa pamrih harus kita dukung untuk membongkar habis mafia sepakbola Indonesia. Ini pasti bukan tugas yang gampang karena pengurus PSSI saat ini terlihat tidak kooperatif. Pengurus PSSI selama ini berlindung di balik Statuta PSSI dan Statuta FIFA yang tidak menginginkan campur tangan pemerintah dan pihak luar PSSI," tegasnya.

Diakui apa pun yang terjadi, sebagai masyarakat Indonesia harus tetap bersuara keras. Di samping berharap tugas mulia KPSN terus berjalan tanpa mengenal putus asa, langkah yang paling strategis adalah membersihkan pengurus PSSI dari oknum-oknum korup yang merusak persepakbolaan Indonesia.

"Kita berharap dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI yang akan datang terpilih "orang gila yang waras", yang berani membersihkan internal PSSI dan berani melawan “The Godfather” mafia sepakbola. Jangan lagi PSSI dipimpin oleh orang-orang yang menggunakan PSSI untuk kepentingan pribadi dan politik seperti sebelumnya," ujar dia.

"Saya tidak tahu siapa "orang gila yang waras" yang bisa menjadi Ketua Umum PSSI, tapi saya pribadi berharap sosok berani, tegas, bersih dan keras seperti Komjen M Iriawan atau Iwan Bule mau turun tangan menjadi Ketua Umum PSSI, dan berani memimpin pasukan untuk menyikat habis mafia sepakbola Indonesia. Dengan dibantu KPSN dan aparat kepolisian yang "steril" dari iming-iming uang, mudah-mudahan sepakbola Indonesia kembali bersih dari virus pengaturan skor dan pada ujungnya ada prestasi yang bisa dibanggakan," ungkap Rudi.

Menurutnya, masyarakat pun berharap KPSN dan sosok seperti Iwan Bule bisa melepaskan sepakbola Indonesia dari cengkeraman mafia bola. Tapi kalau mereka didukung penuh oleh Presiden Jokowi, ia optimis tugas mulia tersebut akan tertuntaskan.

"Dibutuhkan orang nekat, berani dan bersih untuk menyikat habis mafia sepakbola. Kalau tidak, kita akan terus disuguhi pertandingan dagelan yang tidak lucu," tutup Kamri. 



Sumber: Suara Pembaruan