Perputaran Uang pada Hak Siar Liga Inggris

Perputaran Uang pada Hak Siar Liga Inggris
Klub-klub Liga Primer Inggris ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Kamis, 22 Agustus 2019 | 20:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sudah bukan rahasia lagi, hak siar Liga inggris merupakan kue yang besar untuk dibagi-bagikan kepada setiap klub yang berlaga di Premier League. Banyak orang rela merogoh kocek yang dalam untuk nonton Liga Inggris meski harus lewat layar kaca.

Liga Inggris merupakan liga yang paling popular di seantero dunia. Dari tim gurem seperti Watford dan Norwich City hingga tim perkasa Machester City, Manchester United, dan Liverpool, mempunyai bintang di lapangan hijau yang mampu memukau mata yang menyaksikan setiap pertandingan Liga Inggris.

Dikutip dari The Telegraph, Kamis (22/8/2019), setiap orang Inggris harus merogoh kocek sebesar £1.000 per tahun atau sekitar Rp 17 juta jika ingin menyaksikan setiap pertandingan Liga Inggris yang totalnya mencapai 380 pertandingan dalam satu musim.

Tak heran, jika Premier League selaku operator liga di piramida paling atas kompetisi sepak bola Liga Inggris berani mematok harga tinggi untuk hak siar liga yang mereka kelola.

Tahun ini, Sky Sports dan BT Sports harus merogoh kocek £4.464 miliar (sekitar Rp 85.000 triliun) untuk mendapat hak siar eksklusif lima pertandingan per pekan selama dari musim 2019- 2020 hingga musim 2012-2022. Angka yang cukup fantastis untuk sekadar hiburan yang disaksikan di akhir pekan.

Klub- klub yang berada di top flight division tahu sebesar apa valuasi mereka hingga bisa menawarkan hak siar dengan nilai yang sangat fantastis tersebut.

"Keserakahan" tersebut berawal ketika lima klub besar Liga Inggris, yakni Arsenal, Machester United, Liverpool, Tottenham Hotspurs, dan Everton, bertemu untuk mendiskusikan liga baru yang mempunyai nilai komersial tinggi dan pembagian hak siar yang lebih menguntungkan klub-klub peserta.

David Dein, yang saat itu merupakan seorang petinggi Arsenal, bersama empat perwakilan klub lainnya bertemu dengan Greg Dyke untuk membicarakan kesepakatan yang gagal dengan British Satellite Broadcasting.

Tanpa basa-basi, mereka setuju untuk membawa proposal liga baru ini ke Football Association (FA). Karena dianggap terlalu mengawang-awang dan klub- klub yang berada di luar lima ini masih mempunyai hubungan baik dengan The Football League, maka FA menolak mentah- mentah proposal yang tersebut.

Tak patah arang, lima klub ini terus mematangkan konsep liga baru. Hingga akhirnya, pada 1990, klub- klub di divisi teratas yang berada di bawah naungan The Football League mulai gerah dengan sikap operator liga ini. Melihat momentum tersebut, Dyke bersama lima klub pendiri Premier League melakukan negoisasi kepada klub-klub yang berada di divisi teratas untuk bergabung membuat liga baru.

Puncaknya, pada 17 Juli 1991, lima klub inisiator berhasil mendapat dukungan dari klub- klub yang berada di divisi teratas Liga Inggris untuk mendirikan liga baru. Lahirlah Premier League.

Di liga ini, setiap klub mempunyai kedudukan yang setara, di mana setiap klub mendapat satu suara. Mendapat jatah hak siar dan komersial sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati, yaitu sesuai dengan asas 50-25-25.

Asas 50-25-25 merupakan konsep pembagian uang dari hak siar dan komersial kepada 20 klub kontestan Liga Premier Inggris. Perincianya, 50% dari pendapatan hak siar akan dibagikan secara merata kepada 20 klub yang bermain di Liga Primer Inggris, 25% dibagikan sesuai peringkat akhir klub di akhir kompetisi, dan 25% sisanya dibagikan berdasarkan jumlah pertandingan setiap klub yang disiarkan di televisi.

Pada 27 Mei 1992, Premier League akhirnya resmi dibentuk. Premier League menjadi liga yang berada di puncak piramida kompetisi Liga Inggris. Di bawahnya terdapat First Division (sekarang EFL Championship). Liga Premier Inggris musim pertama resmi dimulai pada 15 Agustus 1992 dan berakhir pada 11 Mei 1993.

The Football League sebenarnya tidak tinggal diam saja. Mereka membawa kasus ini ke pengadilan Inggris. Sayangnya, meski telah melakukan segala hal untuk menahan setiap klub keluar dari kompetisi buatan mereka, The Football League harus menerima dua kali kekalahan, setelah Pengadilan Tinggi Inggris menolak gugatan yang dilemparkan The Football League kepada Premier League.

Premier League muncul bukan karena klub merasa gerah dengan kebijakan The Football League dalam mengoperatori liga. Alasan utama para pendiri Premier League mendirikan Liga Premier Inggris adalah uang. Dengan berdiri mandiri, klub- klub yang sepakat untuk mengikatkan diri ke Premier League merasa tidak perlu lagi membagi kue hak siar ke klub- klub yang berada di divisi bawah. Dengan bergabung ke Premier League, maka hak siar dan nilai komersial semuanya akan dibagi rata kepada 20 klub kontestan Premier League.

Dengan pembagian hak siar dan komersial yang ditentukan menurut asas 50-25-25, setiap klub dapat kebagian kue hak siar dan komersial yang menurut klub layak dengan performa mereka. Klub- klub yang berada di Premier League akan berlomba- lomba menampilkan performa tebaik karena mempengaruhi pendapatan mereka di akahir musim.

Pendapatan klub-klub Premier League bukan hanya datang dari hak siar dan komersial di dalam negeri saja. Pendapatan hak siar di luar negeri akan dibagikan secara merata kepada setiap 20 klub kontestan Liga Inggris.

Adalah Richard Scudamore, CEO Premier League pada 1998 yang berhasil menaikan pamor Liga Primer Inggris meningkat pesat. Ia berhasil mempopulerkan Premier League dan menaikan hak siar Premier League.

Dari hasil pembagian hak siar dan komersial tahun lalu, ke setiap 20 klub yang bermain di Liga Premier Inggris mendapatkan uang hak siar masing-masing sebesar £ 34.361.519 (sekitar Rp 578 triliun). Pendapatan lain, seperti jumlah tayang di televisi dan posisi di klasmen akhir berbeda-beda setiap klubnya.

Liverpool memperoleh pendapatan yang lebih banyak dibandingkan Manchester City meski duduk di posisi kedua klasemen akhir karena mempunyai nilai komersial di luar Inggris yang lebih tinggi dibandingkan City.

Musim lalu, meski berhasil juara, City hanya meraup £ 150.986.355 (sekitar Rp 2,57 triliun) dari total pendapatan bagi hasil di Liga Premier League. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan yang didapat Liverpool pada musim lalu sebesar £152.245.146 (sekitar Rp 2,6 triliun).

Hal ini sebenarnya sempat ditentang oleh klub-klub papan bawah, karena mereka merasa diperlakukan tidak adil. Tim-tim yang berada di posisi atas akan terus bertambah kuat karena mendapat suntikan dana untuk menambah kekuatan. Sementara, tim-tim menengah ke bawah akan kesulitan mengimbangi performa tim- tim papan atas karena mendapat keuntungan yang lebih sedikit sehingga sulit untuk menambah kekuatan di musim berikutnya.

Suporter Jadi "Sapi Perah"
Industrialisasi tentu selalu memakan korban. Di sepakbola, giliran penonton yang harus gigit jari merogoh kocek dalam- dalam untuk menonton tim kesayangannya berlaga di Liga Primer Inggris. Selain harga tiket pertandingan yang mahal dan terus naik dari musim ke musim. Penonton juga harus mengeluarkan uang yang banyak untuk menonton Liga Primer Inggris.

Cara termurah adalah dengan menonton pertandingan di layar televisi atau melalui saluran live streaming di internet. Di Indonesia, hak siar Liga Inggris saat ini jatuh kepada Mola TV, yang akan menyiarkan Liga inggris selama tiga tahun ke depan. Mola TV akan menyiarkan hampir seluruh laga dibantu dengan TVRI yang hanya menyiarkan dua pertandingan per pekan.

Tak ingin menjadi sapi perah yang hanya diambil air susunya semata, beberapa suporter klub Liga Inggris dan Skotlandia bersatu mendirikan sebuah organisasi bernama Supporters Direct untuk menyatakan sikap mengenai tuntutan hak-hak suporter yang telah dirampas oleh klub.

Pernyataan mereka juga mendapat dukungan dari setiap pejabat yang menjabat Menteri Olahraga Inggris. Richard Carbon, contohnya, telah membantu menyuarakan pendapat para suporter ke klub untuk menurunkan harga tiket pertandingan. Sayangnya, klub punya mekanisme sendiri dalam menentukan harga tiket per pertandingan dan per musim.

Di Inggris, para suporter tidak mempunyai daya tawar untuk bernegoisasi dengan pihak klub terkait harga tiket. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi di Bundesliga, di mana suporter memiliki saham dan suara terbanyak di setiap klub di Jerman.

Regulasi ini membuat klub yang mendapat sokongan dana dari investor tidak dapat berbuat semena-mena untuk mengeksploitasi suporter mereka menjadi "sapi perah" semata. Para suporter juga mempunyai hak suara untuk menentukan ke mana arah klub.

Hal ini yang tidak dimiliki oleh klub-klub di Liga Primer Inggris. Mereka tidak diberi suara sama sekali untuk memberikan pendapat. Atas dasar ini pula berdiri klub FC United of Manchester, yang lahir karena para suporter merasa tidak puas dengan kepemilikan keluarga Glazer di Manchester United.

Setiap pendukung di FC United of Manchester mempunyai satu suara yang bisa mereka berikan untuk menentukan ke mana arah klub akan bergerak. Setiap anggota diwajibkan membayar biaya iuran tahunan sebesar £ 12 per orang (£ 3 untuk anak-anak).

Suporter memang selalu menjadi korban dari kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh operator dan klub untuk mencari untung semata. Tahu bahwa fanatisme suporter akan sulit dihilangkan, klub dan operator liga memanfaatkan situasi ini dan menjadikan mereka "sapi perah" untuk menghasilkan uang.

Di sisi lain, suporter merupakan nafas bagi sepak bola. Tanpa mereka sepakbola akan terasa hambar. Fanatisme mereka yang membuat sepakbola menjadi olahraga paling populer di muka bumi. Namun, klub juga butuh pemasukan untuk membiayai operasional mereka setiap musim.

Tuntutan suporter agar klub berprestasi juga tidak membutuhkan biaya yang sedikit. Selama kebijakannya masih win to win bagi kedua belah pihak, tak ada salahnya klub mencari pemasukan dari hak siar dan tiket untuk mendatangkan pemasukan.



Sumber: BeritaSatu.com