Lawan Maguire, Van Dijk Buktikan Diri sebagai Bek Mahal

Lawan Maguire, Van Dijk Buktikan Diri sebagai Bek Mahal
Virgil van Dijk ( Foto: AFP )
Dwi Argo Santosa / DAS Senin, 20 Januari 2020 | 03:50 WIB

Liverpool, Beritasatu.com - Pertarungan duo merah Liverpool melawan Manchester United, Minggu (19/1/2020) WIB, dapat diibaratkan duel udara antara dua bek termahal di Liga Primer, yakni Virgil van Dijk versus Harry Maguire pada menit ke-14. Pemenangnya adalah Van Dijk.

Bek sekaligus kapten Liverpool ini berhasil menyundul bola hingga berbuah gol. Ini adalah gol-nya yang ke-8 selama ia membela The Reds. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seorang bek.

Sky Sport dalam salah satu cuitannya di twitter menggambarkan gol itu sebagai duel udara antara pria 75 juta poundsterling (sekitar Rp 1,33 triliun) melawan pria 80 juta poundstering (sekitar Rp 1,41 triliun). Pemenangnya adalah yang berharga lebih murah. Ya, Van Dijk melayang mengatasi Maguire hingga membuat Stadion Anfield bergemuruh.

Van Dijk yang ditransfer dari Southampton Januari 2018 lalu benar-benar membuktikan bahwa ia pantas dinilai mahal. Pemain kelahiran Breda, Belanda, 28 tahun lalu itu terbukti bisa mendongkrak performa The Reds.

Ia bukan saja memberikan gol pada babak pertama melainkan juga piawai sebagai pengatur serangan dari bawah. Van Dijk begitu dingin menghalau bola di lini pertahanan namun juga ganas di depan gawang lawan.

Pada gol kedua Liverpool yang dilesakkan Firmino menit ke-34, namun dibatalkan video assistant referee (VAR), Van Dijk yang bertinggi badan 193 cm ini mampu melompat mengatasi lompatan kiper MU, David de Gea.

Kepala Van Dijk bisa sejajar dengan juluran tangan De Gea yang menjemput bola. Alhasil bola lepas dari tangan De Gea dan diterima pemain belakang MU. Kontrol bola yang lemah para pemain MU membuat bola dikuasai Sadio Mane dan disodorkan kepada Formino yang kemudian menjadikannya gol. Sayang, lompatan Van Dijk tadi dianggap sebuah pelanggaran sehingga gol Firmino dibatalkan.

Paul Hayward, wartawan senior olahraga Inggris, berkomentar,  setengah jam pertama di Anfield, Virgil van Dijk telah menjadi stopper, pencetak gol, penata serangan, pengumpan pendek yang mulus dan pemberi umpan panjang yang tepat. Hanya VAR yang mampu menghentikannya. Cuitan Hayward merujuk pada gol kedua Liverpool yang dibatalkan.

Sedangkan gol ketiga Liverpool -yang juga dibatalkan oleh VAR- karena Wijnaldum tertangkap offside sebelum menyarangkan bola ke gawang De Gea. Kedudukan menjadi 2-0 ketika akhirnya Mohamed Salah berhasil mencetak gol pada injury time.

Maka dalam pertandingan ini pantaslah gelar man of the match bukan diberikan kepada Salah, Mane, atau Firmino, melainkan Van Dijk.

Sementara itu sebagai sesama bek dan kapten tim, Maguire justru malam itu dibuat tak berkutik. Nyaris sepanjang babak pertama sampai pertengahan babak kedua ia sibuk menjaga daerah pertahanan. Tentu bukan salah Maguire. Ini semata karena lini tengah MU kalah melawan Liverpool. Serangan Liverpool begitu gencar dari dari berbagai sisi membuat Maguire, Lindelof, dan Luke Shaw kalang kabut.

Van Dijk malam itu benar-benar berperan membuat Liverpool tak terbendung.

Liverpool pantas terus melaju. The Reds dalam posisi di atas angin. Pertama, dari sisi kualitas pemain Liverpool begitu lengkap. Trisula Mohamed Salah, Sadio Mane dan Roberto Firmino sedang on fire sementara andalan MU, Marcus Rashford, dibekap cedera.

Kualitas para pemain ditambah taktik racikan Jurgen Klopp membuat The Reds tak terkalahkan pada separuh musim ini. Hingga pertandingan ke-22 yang dijalani The Reds, hanya skuad Ole Gunnar Solskjaer yang mampu menahan imbang. Tim-tim selebihnya dibabat oleh Mohamed Salah dkk.

Pada pertemuan kedua malam ini Liverpool tak memberi ampun MU. Empat kali bola masuk ke gawang kiper MU, David de Gea. Hanya dua di antaranya yang disahkan sebagai gol.

Malam itu Liverpool memang menguasai pertandingan. Selain menang penguasaan bola, 55 banding 45, pola permainan dan serangan yang dibangun The Reds pun sangat bervariasi.

Alasan kedua, poin perolehan The Reds di klasemen sementara Liga Primer mustahil dikejar MU. Sebelum pertandingan keduanya beselisih 27 poin di mana The Reds nyaman di posisi teratas sementara MU masih harus merangkak untuk bisa masuk empat besar.

Kemenangan Liverpool ini menambah rekor kemenangan Juergen Kloop atas MU untuk keempat kalinya selama ia melatihan anak asuhannya di Anfield.

Pertandingan semalam menambah rekor kemenangan The Reds atas MU menjadi 63 kali. Dari 194 kali perjumpaan duo merah ini, MU memang masih superior dengan 77 kali kemenangan dan 54 imbang. Meski demikian tak bisa dimungkiri musim ini memang bukan milik Setan Merah.



Sumber: The Telegraph