Finansial Klub Liga 1 Terhenti

Finansial Klub Liga 1 Terhenti
Pemain Persita menjalani latihan. ( Foto: Persita )
Hendro D Situmorang / CAH Kamis, 2 April 2020 | 16:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejak diberhentikan pertandingan sepakbola Liga 1 dan Liga 2 Indonesia musim 2020 karena wabah virus corona (covid-19), finansial klub praktis terhenti. Hal itu dikarenakan tidak adanya pemasukan dana baik dari tiket laga maupun sponsor.

Hal itu diakui oleh Manajer Persita Tangerang, I Nyoman Suryanthara dan Direktur Olahraga Persija Jakarta, Ferry Paulus ketika dihubungi secara terpisah, Kamis (2/4/2020).

“Dampak finansial ini sangat berat sekali untuk kami. Dengan tidak adanya kompetisi, klub tidak memiliki pemasukan dari tiket pertandingan. Parahnya sponsor juga sekarang menahan aliran dana sembari melihat perkembangan situasi. Subsidi dari Liga 1 pun yakni pihak operator pun sudah mulai disetop per Maret kemarin,” ungkap I Nyoman.

Dijelaskan bahwa para sponsor Persita juga masih menantikan keputusan tentang kompetisi Liga 1 Indonesia musim 2020 ini, sebelum membuat keputusan apakah masih bersama Persita atau tidak.

"Mereka memahami keadaan yang terjadi. Namun mereka akan menunggu keputusan PT. LIB sebagai operator liga dan PSSI tentang status kompetisi Liga 1," tutupnya.

Sementara Ferry Paulus mengakui finansial klub Persija Jakarta langsung berhenti saat kompetisi Liga 1 dihentikan.

“Ini semua ‘kan karena sumber utama anggaran yang berasal dari pihak sponsor dan tiket juga terhenti yang disebabkan tidak adanya pertandingan. Maka otomatis pendapatan klub juga berhenti. Ya begitu yang sebenarnya terjadi,” jelas Ferry.

Penyesuaian Gaji
I Nyoman mengaku Persita Tangerang terpaksa memutuskan untuk menyesuaikan gaji pemainnya terhitung mulai April hingga Juni 2020 mendatang. Mereka mengikuti putusan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang menyatakan jika kompetisi terpaksa dihentikan, klub diminta untuk tetap membayarkan gaji pemain, pelatih dan ofisial selama kondisi darurat yakni mulai Maret, April, Mei dan Juni, maksimal 25 persen dari kewajiban yang tertera di dalam kontrak kerja.

“Gaji pemain, pelatih serta ofisial untuk bulan Maret kita masih berikan 100 persen secara full. Tetapi mulai April- Juni sesuai arahan PSSI kita berikan gaji 10 persen dari nilai kontrak,” ujar dia.

“Acuan kami dari surat keputusan PSSI yang membolehkan gaji pemain maksimal 25 persen per bulannya dari Maret-Juni. Dikarenakan kami sudah memberi 100 persen di bulan Maret, maka April-Juni kami sesuaikan di 10 persen,” sambung I Nyoman yang mengaku kemampuan finansial setiap klub pasti berbeda-beda dan tidak sama dengan klub lainnya.

Terlepas dari hal tersebut, I Nyoman pun hanya berharap agar situasi covid-19 cepat berlalu dan liga dapat berjalan kembali.

Sementara, Ferry menyatakan untuk gaji para pemain Persija Jakarta, saat ini manajemen memutuskan gaji pemain dan ofisial sesuai SK PSSI.

“Gaji tim yakni pemain dan ofisial disesuaikan dengan SK dari PSSI,” tutup dia tanpa merinci lebih lengkap lagi. 

 



Sumber: BeritaSatu.com