PSSI Wajib Benahi Kultur Organisasi

PSSI Wajib Benahi Kultur Organisasi
Hifni Hasan. ( Foto: Istimewa )
Hendro D Situmorang / JAS Jumat, 8 Mei 2020 | 16:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat olahraga yang juga mantan Sekjen Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Hifni Hasan mendesak Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) secepatnya membenahi kultur organisasi di dalamnya.

"Saat ini pekerjaan rumah (PR) PSSI masih banyak sekali. Kalau ditanya apa yang harus dibenahi, kultur organisasi. Membenahinya ya pelan-pelan. Kita tidak bisa asumsi bahwa sekali mengubah norma (statuta, AD/ART) otomatis mengubah perilaku. Terlalu naif rasanya. Kalau kondisi seperti saat ini orang yang murni profesional tidak akan bisa hidup di PSSI," katanya kepada Beritasatu.com Jumat (8/5/2020).

Menurutnya, ini saat yang tepat untuk menjadikan PT Liga Indonesia Baru (LIB) menjalankan usaha sebagai operator Liga 1 dan 2 secara profesional mandiri dan independen. Begitu juga PSSI walaupun punya golden share di PT LIB, sebaiknya seluruh pengurus fokus ke pembinaan dan prestasi sepakbola Indonesia.

"Harus memilih mau jadi direksi PT Liga atau Exco PSSI. Ataupun kalau harus ada pengurus PSSI di PT LIB, maka sebaiknya di posisi bukan operasional dan hanya duduk di dewan komisaris atau pengawas. Ini karena PSSI tugas sesuai Statuta FIFA tidaklah ringan. PSSI menjadi otoritas tunggal dalam hal pengelolahan sepakbola," ungkap dia.

Diakui, hal tersebut sudah menjadi budaya jelek dalam pengelolahan liga. Saat ini menjadi waktu yang tepat bagi Ketua Umum PSSI, Mochammad Iriawan atau biasa disapa Iwan Bule untuk memutus mata rantai double job dalam pengelolahan sepakbola.

Ini dikarenakan, lanjut Hifni, tidak ada yang mengawasi PT LIB kalau direksinya adalah orang PSSI sendiri. Iwan Bule dengan pengalamannya sebagai perwira tinggi polisi yakin mampu menjadikan PSSI profesional.

"Semoga dengan carut marutnya pengelolahan PT LIB dapat dibenahi segera untuk sepakbola Indonesia ke depan. Saat ini sepakbola sudah menjadi industri olahraga, di mana banyak sekali pihak yang bergantung pada kegiatan olahraga sepakbola. Atlet, pengurus, pedagang, pekerja dan industri media," ungkap dia.

Mosi Tak Percaya
Sebelumnya tiga direksi PT LIB menyampaikan mosi tidak percaya atas kinerja Cucu Somantri sebagai direktur utama. Tiga direksi tersebut yakni Direktur Operasional Sudjarno, Direktur Bisnis Rudy Kangdra, dan Direktur Keuangan Anthony Chandra Kartawiria.

Mereka melayangkan sepucuk surat yang ditembuskan kepada PSSI dan Dewan Komisaris PT LIB. Ketiganya menilai Cucu kerap memonopoli kebijakan dan mengeluarkan keputusan sepihak terkait dengan jalannya perseroan.

Padahal, kata mereka, sebagaimana diatur oleh perundang-undangan di bidang Perseroan Terbatas, Anggaran Dasar Perseroan dan prinsip-prinsip good coorporate governance, harusnya dalam mengeluarkan keputusan, dirut berdiskusi dengan para direksi.

"Pengambilan keputusan-keputusan Perseroan banyak yang dimonopoli dan diputuskan secara sepihak oleh pejabat direktur utama, di antaranya kebijakan terkait HRD, keuangan, sponsor, dan lain lain tanpa melalui mekanisme rapat direksi sebagaimana mestinya," tulis mereka dalam surat itu, Kamis (7/5/2020).

Mereka mengatakan keputusan sepihak dari Cucu telah menimbulkan keresahan di kalangan internal. Selain itu, keputusan Cucu juga berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari.

Ketiganya mengaku akan lepas tangan jika terjadi masalah, karena merasa tak dilibatkan dalam mengeluarkan keputusan perseroan. Ketiga direksi itu meminta diadakannya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa untuk mengkaji lebih jauh kinerja Cucu di pucuk pimpinan.

"Berkenan diadakannya RUPS Luar Biasa untuk meneliti lebih jauh pengaduan kami ini serta melakukan evaluasi terhadap kepengurusan Perseroan dan untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan demi kebaikan Perseroan," tulis mereka. 



Sumber: BeritaSatu.com