MU Hadapi Situasi Tersulit Sepanjang Sejarah

MU Hadapi Situasi Tersulit Sepanjang Sejarah
Ed Woodward. ( Foto: AFP )
Alexander Madji / AMA Jumat, 22 Mei 2020 | 11:47 WIB

Manchester, Beritasatu.com - Manchester United menghadapi situasi terburuk sepanjang sejarahnya akibat pandemi virus corona. Pasalnya, utang klub bertamah 42,2% menjadi 429,1 juta pound. Membengkaknya utang terjadi karena pendapatan selama Liga Utama Inggris dihentikan macet total, sementara pengeluaran jalan terus.

Wakil Presiden MU, Ed Woodward dalam sebuah forum para investor, Kamis (21/5/2020) mengatakan, biaya yang dikeluarkan MU selama jeda akibat Covid-19 saja mencapai 23 juta pound. Meski demikian, ia masih sangat optimistis bahwa klub ini memiliki masa depan yang cerah karena mempunyai para pemain muda yang berkualitas.

"Ini adalah situasi yang paling luar biasa dan menjadi ujian terberat sepanjang 142 tahun sejarah Manchester United. Klub ini dibangun dengan ketahanan yang kuat dan kepiawaiannya dalam mengelola krisis sekali lagi diuji sekarang," kat Ed Woodward dalam forum tersebut sebagaimana dikutip ESPN.

Meski demikian, Ed Woodward tetap yakin masa depan klub tetap cerah. "Kami masih sangat optimistis akan masa depan klub ini karena memiliki tim muda yang mengagumkan," imbuhnya.

Pasukan Ole Gunnar Solksjaer sudah mulai berlatih kembali dalam kelompok-kelompok kecil pekan ini, setelah aktivitas olahraga di Inggris, termasuk kompetisi sepakbola, dihentikan selama lebih dari dua bulan akibat pandemi virus corona.

Selama Liga Utama Inggris dihentikan sementara, pendapatan MU dari sejumlah unit usaha menurun tajam. "Pandemi virus corona ini sungguh mengganggu operasional kami, termasuk penundaan sejumlah pertandingan pada pertengahan Maret, serta pentutupan sementara retail, katering, dan wisata di Old Trafford," ujarnya lagi

Terkait bergulir kembalinya Liga Utama Inggris, Ed Woodward sangat yakin kompetisi akan segera kembali. Motivasi terbesar untuk itu disuntik oleh Bundesliga Jerman yang sudah aktif kembali sejak Sabtu (16/5/2020) lalu. "Kami tersulut oleh kembalinya Bundesliga yang menjadi kompetisi elite pertama di Eropa yang mulai bergulir akhir pekan lalu. Mereka sukses menggelar sembilan pertandingan di dalam stadion tertutup," paparnya lagi.

Dia pun berharap, sepakbola Inggris bisa meniru apa yang dilakukan Jerman, termasuk menggelar laga-laga sisa musim ini di dalam stadion tertutup. "Masih ada tantangan berat ke depan bagi sepakbola secara keseluruhan. Paling aman bisa dikatakan bahwa sepakbola tidak bisa lagi diselenggarakan dengan cara yang biasa-biasa saja," jelasnnya lagi.

Meski krisis ini cukup berdampak parah bagi MU, tetapi Woodward memastikan bahwa fondasi MU masih cukup kuat. Hanya saja, dia juga menyadari krisis ini masih akan berlangsung panjang karena semua komponen terkait juga terdampak baik klub, para pemain, pendukung, para pemegang hak siar, sponsor, maupun para pemangku kepentingan lainnya.

"Kita harus akui bahwa krisis ini tidak bisa diatasi hanya dalam satu malam dan dunia akan sangat berbeda dari sebelumnya. Pandemi ini menciptakan begitu banyak tantangan untuk dunia sepakbola, seperti juga pada banyak industri lainnya," tutup Woodward.



Sumber: Suara Pembaruan