Klub Terbelah Soal Lanjutan Kompetisi Liga 1

Klub Terbelah Soal Lanjutan Kompetisi Liga 1
Pesepak bola Persik Kediri Gaspar Vega (tengah) mencoba melewati pesepakbola Bhayangkara FC saat pertandingan Liga 1 2020 di stadion Brawijaya, Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat, 6 Maret 2020. (Foto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)
Hendro D Situmorang / JAS Kamis, 28 Mei 2020 | 14:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Klub peserta berbeda pendapat dan terbelah soal lanjutan kompetisi Liga 1 musim 2020. Dari pertemuan virtual perwakilan 18 klub bersama PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB), terdapat dua pendapat yakni klub meminta untuk melanjutkan kompetisi dengan beberapa syarat dan juga klub meminta kompetisi tidak dilanjutkan, tapi dengan catatan, apalagi masih menunggu keputusan pemerintah mengenai status bencana Covid-19.

Direktur Olahraga Persija Jakarta, Ferry Paulus menyatakan jajaran manajemen berharap sepakbola Tanah Air segera dapat bergulir. Namun hal tersebut cukup mengkhawatirkan karena pertandingan sepakbola dinikmati oleh berbagi kalangan. Saat ini yang paling utama adalah kesehatan dan keselamatan banyak orang.

“Manajemen Persija sangat berharap liga dapat berjalan kembali. Tentunya para suporter sudah rindu menyaksikan timnya berlaga di stadion, setelah hampir tiga bulan liga berhenti dan jika liga bergulir kembali ekonomi rakyat akan kembali tumbuh serta para pemain bisa beraktivitas untuk memberikan tontonan dan hiburan bagi rakyat. Namun Persija ingin semuanya benar-benar telah kondusif terlebih dahulu,” kata Ferry ketika dikonfirmasi Kamis (28/5/2020).

Ia beralasan karena saat ini kesehatan dan keselamatan manusia jauh lebih berharga dibanding sepakbola. Apalagi sepakbola adalah olahraga yang melibatkan banyak orang dengan mobilitas tinggi baik itu di stadion atau dari satu kota ke kota lain.

Menurut pria yang akrab disapa FP itu, akan lebih sulit menghentikan kompetisi bila sudah berjalan. Untuk itu Persija akan menunggu kebijakan final dari pemerintah, meskipun ada imbauan pemerintah untuk berdampingan dengan Covid-19.

“Jika liga benar-benar bergulir protokol Covid-19 harus benar-benar dipahami oleh semua pemangku kepentingan dan dapat diimplementasikan dengan baik,” ujarnya.

Manajer Arema FC, Ruddy Widodo mengaku setuju untuk melanjutkan kompetisi Liga 1 di tengah pandemi Covid-19, dengan beberapa catatan khusus. Jika memang dilanjutkan, ada beberapa hal penting yang harus dilakukan seperti perlu adanya ketegasan terkait rasionalisasi subsidi dan renegosiasi kontrak bagi para pemain dan pelatih di kondisi ini.

"Arema FC setuju kompetisi dilanjutkan, meskipun semula kami minta dihentikan. Jadi kami minta ditambah kalau kompetisi berlanjut. Kalau pun kompetisi berhenti, apakah dengan sendirinya kontrak putus dan yang lainnya juga? Makanya kami minta PSSI komunikasi dengan AFC dan FIFA," ucap Ruddy Widodo.

"Tapi apapun keputusan dari PSSI nanti kami sebagai anggota yang loyal akan tetap respek dan mendukung. Mari kita berdampingan dengan corona," jelasnya.

Asisten Manajer Persipura Jayapura, Bento Madubun, menyatakan bahwa timnya mengikuti apa nanti keputusan PSSI terkait kompetisi. Ia juga memberikan perkembangan terkini bahwa hingga saat ini transportasi udara masih belum dapat dilakukan di Papua.

"Persipura tidak masalah bila kompetisi harus berhenti atau lanjut, kami sudah siap dengan dua opsi tersebut," kata Bento.

General Manajer PSIS Semarang, Wahyoe Winarto, menilai kompetisi Liga 1 Indonesia 2020 sebaiknya dihentikan total akibat pandemi Covid-19 yang belum dipastikan penuntasannya.

"Kami sampaikan, bagaimana persiapan PSSI jika kompetisi sepakbola ini tetap berjalan. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan PSSI dalam mengambil keputusan berkaitan dengan kelanjutan kompetisi di Tanah Air," jelasnya.

Ia mencontohkan penanganan pandemi Covid-19 yang berbeda-beda antara daerah satu dengan yang lain. Permasalahan lain aspek transportasi yang saat ini masih sangat terbatas sehingga justru menjadi kendala bagi klub saat melakoni laga tandang.

Oleh karena itu, ia mengharapkan PSSI memiliki format pengganti kompetisi Liga 1 yang diharapkan tetap mendorong perputaran roda ekonomi serta kesejahteraan para pemain, pelatih, serta para pemangku kepentingan di dunia sepakbola Indonesia.

Menurut dia, salah satu alternatif kompetisi yang masih mungkin digelar yakni home tournament. Ia menjelaskan home tournament digelar di satu tempat saja sehingga memudahkan tim dalam mempersiapkan diri. Selain itu juga waktunya tidak panjang. Turnamen bisa selesai dalam dua bulan.

Manajemen Persik Kediri meminta PSSI untuk membuat payung hukum agar tak terjadi persoalan legal antara klub, pemain, dan pelatih seiring dengan pandemi Covid-19 yang membuat klub kesulitan di sisi finansial.

"Tapi saya sendiri berharap, Pak Iriawan selaku Ketua Umum PSSI punya solusi yang brilian dan menggembirakan," ujar Presiden Klub Persik Abdul Hakim Bafagih.

PSSI sebetulnya telah memberikan kebijakan kepada klub sejak Maret berupa keringanan pembayaran gaji. Namun kejelasan kompetisi yang belum menemui titik terang, tetap membuat klub harus memutar otak agar roda ekonomi klub tetap berjalan.

Persik sendiri menjadi salah satu klub yang mengusulkan agar kompetisi Liga 1 dihentikan secara permanen musim ini. Apabila usul diterima maka PSSI harus memberikan garansi yang jelas agar klub terhindar dari gugatan atau denda.

"Jika kompetisi dihentikan permanen, kami meminta PSSI membuat payung hukum yang jelas. Itu menjadi garansi untuk menghindari klub terkena denda atau gugatan," kata dia.

Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi, mengatakan dalam pertemuan virtual tersebut sudah disepakati tidak ada keputusan. Banyak klub yang minta lanjut dengan beberapa syarat. Kalau lanjut, maka lebih kepada protap ketat terhadap pandemi Covid-19.

Opsi dilanjutkannya kompetisi tanpa penonton juga menjadi salah satu topik pembahasan. Menurutnya klub-klub memaklumi opsi tersebut karena harus bersikap hati-hati terhadap paparan virus corona. Klub juga menyarankan kepada PSSI supaya membantu secara aspek hukum dan komunikasi dengan AFC dan FIFA soal kontrak pelatih dan pemain.

"Seluruh klub memberikan saran serta masukan terkait kompetisi bila harus berlanjut atau dihentikan. Termasuk PSSI harus melakukan protokoler kesehatan saat berlatih, perjalanan, dan bertanding kepada tim bila kompetisi dilanjutkan," kata Yunus Nusi.

Ia menambahkan bahwa hasil rapat ini akan langsung dilaporkan kepada Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan untuk dibawa dalam rapat darurat Komite Eksekutif nantinya. Rapat Komite Eksekutif PSSI dilakukan setelah 29 Mei menunggu info pemerintah terkait status darurat corona.

"Diskusi untuk sama-sama mencari jalan keluar. Tadi para klub memberikan analisa juga perkembangan daerah. Kami memahami di situasi sekarang kesulitan klub untuk memenuhi kewajiban kepada pemain dan pelatih. Kami ingin melindungi klub yang notabene sebagai anggota PSSI bagaimana nanti bila kompetisi lanjut atau berhenti," tambah Yunus. 



Sumber: BeritaSatu.com