FIFA Minta Aturan Diterapkan Fleksibel

FIFA Minta Aturan Diterapkan Fleksibel
Gelandang Inter Milan Nicolo Barella (kiri) dan bek Borussia Dortmund German Mats Hummels melakukan perebutan bola di Signal Iduna Park, Rabu, 6 November 2019. (Foto: AFP)
Alexander Madji / AMA Selasa, 2 Juni 2020 | 17:03 WIB

Zurich, Beritasatu.com- Federasi sepakbola dunia atau FIFA meminta para penyelenggara pertandingan sepakbola untuk menggunakan akal sehat dan menerapkan aturan secara fleksibel. Dengan begitu, mereka seharusnya tidak memberi sanksi kepada para pemain yang menuntut keadilan untuk George Floyd dalam pertadingan.

“FIFA sangat memahami sentimen dan perhatian yang begitu besar dari banyak pemain sepakbola atas peristiwa tragis yang dialami George Floyd. Penerapan aturan pertandingan oleh para penyelengara pertandingan harus tetap menggunakan akal sehat dan tetap memperhatikan konteks di sekitar pertandingan,” demikian pernyataan resmi FIFA yang diterbikan pada Senin (1/6/2020) sebagaimana dikutip dari ESPN.

Pernyataan FIFA ini tergolong sangat jarang terjadi. Belum jelas apakah ini mengindikasikan akan ada perubahan aturan atau tidak. Namun, FIFA menguasai setengah dari delapan suara di Dewan Asosiasi Sepakbola Internasional yang meresmikan berbagai aturan. Empat suara lainnya masing-masing dimiliki Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales. Pada 2014, Inggris mengajukan inisiatif perubahan aturan yang melarang setiap pemain mengungkapkan pernyataan atau pesan pribadi dalam pertandingan sepakbola.

Pernyataan itu muncul sehari setelah pemain Borussia Dortmund asal Inggris, Jadon Sancho, dihadiahi kartu kuning oleh wasit karena melepas kaus untuk memperlihatkan tulisan “Justice for Goerge Folyd” pada kaus dalamnya saat merayakan gol yang dicetaknya pada pertandingan Bundesliga Jerman, Minggu (31/6/2020). Pada laga itu, rekan setimnya Achraf Hakimi juga memperlihatkan tulisan yang sama, tetapi ia tidak diganjar kartu kuning karena tidak sampai melepas kaus.

Pada pertandingan Sabtu (30/5/2020), pemain Schalke, Weston McKennie, mengenakan ban bertuliskan “Justice for George” dan penyerang Borussia Moenchengladbach, Marcus Thuram, berlutut dengan satu kaki dalam merayakan gol untuk menghormati Floyd.

Menyusul kejadian-kejadian ini, pada Senin (1/6/2020) pagi waktu setempat, Federasi Sepakbola Jerman mengungkapkan bahwa mereka mempertimbangkan untuk memberi sanksi atau tidak terhadap pemain yang melanggar aturan dengan mengekspresikan dukungan politik, agama, slogan, pernyataan, atau gambar pribadi dalam perlengkapan pertandingan.

“Karena ini kasus internasional, maka pertandingan sepakbola tetap harus bebas dari pernyataan atau pesan-pesan politis apa pun,” demikian pernyataan Wakil Presiden Federasi Sepakbola Jerman, Rainer Koch.



Sumber: Suara Pembaruan