Pengamat: PSSI Jangan Ganggu Program Shin Tae Yong

Pengamat: PSSI Jangan Ganggu Program Shin Tae Yong
Melihat Metode Shin Tae Yong Melatih Timnas Garuda (Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV)
Hendro D Situmorang / CAH Jumat, 26 Juni 2020 | 17:28 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan diminta menghormati kontrak yang telah ditandatangani dengan pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae Yong yang menangani Tim Nasional (Timnas) Indonesia. Apalagi, Shin Tae Yong berani mempertaruhkan reputasinya dengan menerima tawaran Indonesia yang berada di peringkat 179 dunia.

Berdasarkan peringkat FIFA, Indonesia berada di peringkat 173 dunia, tertinggal di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya. Misalnya dibawah Vietnam (94), Thailand (113) Filipina (124), Myanmar (136), Malaysia (154), Singapura (157). Sementara Korea Selatan berada cukup jauh di posisi 40 dunia.

“Shin Tae Yong itu pelatih yang sudah menunjukkan kualitasnya dan pasti akan bekerja secara profesional. Ketika menandatangani kontrak, Shin Tae Yong juga sangat paham resiko yang dihadapinya jika gagal membawa Timnas Indonesia meraih prestasi yang lebih baik. Makanya, PSSI tidak boleh mencampuri urusan program latihan yang telah disusunnya,apalagi sampai menganggunya," kata pengamat sepakbola Rayana Djakasurya ketika dihubungi SP, Jumat (26/6).

Diakui polemik PSSI dengan Shin Tae Yong tidak perlu terjadi bilamana Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri memahami tugas dan fungsinya. Apalagi, Shin Tae Yong telah membuktikan kemampuannya dengan meloloskan Timnas Korea Selatan ke Piala Dunia 2018, bahkan mengalahkan negara besar sekelas Jerman atau Tim Panser dengan skor 2-0.

Sebagai pelatih, Shin juga membawa klub didikannya, Seongnam Ilhwa Chunma FC juara Liga Champions Asia dan satu kali juara Piala FA Korea. Dia pun menjadi orang pertama yang merebut Liga Champions Asia sebagai pemain dan pelatih.

“Indra Sjafri tidak boleh mencampuri masalah program yang telah disusun Shin Tae Yong. Kalau Indra Sjafri memahami kualitasnya saat menjadi pelatih timnas dan posisinya sebagai Direktur Teknik PSSI harusnya membantu memfasiltasi Shin Tae Yong untuk mewujudkan programnya,” jelas Rayana.

Dampak polemik ini, kata Rayana, bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman Shin Tae Yong apalagi ranah yang ditanganinya seolah-olah diintervensi. Ketum PSSI Mochamad Iriawan sebaiknya mengambil keputusan memecat Indra Sjafri dari jabatannya.

“Saya rasa solusi ini yang terbaik untuk membuat Shin Tae Yong lebih nyaman dalam menjalankan program meningkatkan prestasi Timnas Indonesia," tegasnya.

Ia juga menegaskan pembentukan Satgas Timnas juga perlu dibubarkan. Baginya untuk apa dibentuk yang juga beranggotakan Indra Sjafri dan tugasnya mengawasi Timnas Indonesia menuju Piala Dunia U 20 2021. Ia menilai tak ada yang perlu diawasi kinerja Shin Tae Yong.

Berbicara masalah program trainning camp (TC) yang dilakukan di Korea, jelas Rayana, Shin Tae Yong pasti punya tujuan. Sekelas pelatih profesional itu pasti sudah mempelajari karakter pemain Indonesia. Pasti ada tujuannya TC di Korea Selatan.

Lebih jauh Rayana juga merasa prihatin PSSI yang sudah berdiri 90 tahun tidak memiliki kantor refresentatif. Apalagi, sepakbola sudah menjadi olahraga industri.

"PSSI itu harus punya kantor refresentatif apalagi Indonesia bakal menjadi tuan rumah Piala Dunia U 20 2021," tegasnya.

Menurut Rayana, FIFA memang tidak mempermasalahkan soal kantor refresentatif PSSI yang mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2021. Namun, hal itu akan berpengaruh terhadap reputasi PSSI.

"Saya berharap Ketua Umum PSSI bisa mengusahakan kantor refresentatif dan menjadikan PSSI sebagai organisasi yang ideal. Miris kan di Kantor PSSI tidak terpasang bendera Merah Putih, PSSI, AFC, FIFA,” ujarnya. 

 



Sumber: BeritaSatu.com