Diego Maradona, "Si Tangan Tuhan" Penuh Kontroversi
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 524.475 (-7.99)   |   COMPOSITE 6109.17 (-129.78)   |   DBX 1194.89 (-11.73)   |   I-GRADE 181.466 (-4.58)   |   IDX30 517.087 (-11.81)   |   IDX80 138.626 (-3.62)   |   IDXBUMN20 407.246 (-17.39)   |   IDXESGL 143.602 (-3.12)   |   IDXG30 142.274 (-3.48)   |   IDXHIDIV20 456.023 (-11.92)   |   IDXQ30 148.355 (-3.37)   |   IDXSMC-COM 276.257 (-7.75)   |   IDXSMC-LIQ 347.018 (-13.99)   |   IDXV30 137.723 (-3.73)   |   INFOBANK15 1047.79 (-12.16)   |   Investor33 444.391 (-8.03)   |   ISSI 179.418 (-4.68)   |   JII 631.935 (-18.62)   |   JII70 220.815 (-6.52)   |   KOMPAS100 1231.17 (-28.43)   |   LQ45 963.139 (-22.62)   |   MBX 1681.26 (-38.74)   |   MNC36 327.223 (-6.39)   |   PEFINDO25 325.051 (-6.97)   |   SMInfra18 313.073 (-11.44)   |   SRI-KEHATI 379.382 (-6.25)   |  

Diego Maradona, "Si Tangan Tuhan" Penuh Kontroversi

Senin, 30 November 2020 | 11:07 WIB
Oleh : Jaja Suteja / JAS

RABU, 25 November 2020, dunia dikejutkan dengan kabar meninggalnya Diego Maradona. Berita berpulangnya sosok legenda sepakbola nan kontroversial ini dengan cepat menyebar seantero jagat.

Kepergiannya diratapi bukan cuma di Argentina, negara tempat dia berasal. Namun sampai ke pelosok dunia yang jaraknya ratusan ribu kilometer dari Tigre, tempat dia mengembuskan napas terakhir di alam fana ini.

Bukan tanpa alasan, meninggalnya sosok yang membawa Tim Tango merebut gelar juara Piala Dunia 1986 ini menjadi perbincangan di seluruh negara. Selain sosok pahlawan sepakbola, pria yang meninggal dalam usia 60 tahun adalah juga sumber inspirasi bagi pemujanya. Namun di sisi lain, dia juga menjalani hidup nan penuh kontroversi.

Maradona lahir di Lanus, Provinsi Buenos Aires pada 30 Oktober 1960 dengan nama lengkap Diego Armando Maradona. Dia lahir dari sebuah keluarga miskin yang pindah ke Lanus dari Provinsi Corrientes.

Maradona dibesarkan di Villa Fiorito, sebuah kota kumuh di pinggiran selatan Buenos Aires, Argentina. Dia adalah putra pertama setelah empat putri. Dia memiliki dua adik laki-laki, Hugo dan Raúl, Keduanya juga pemain sepak bola profesional.

Ayahnya, Diego Maradona "Chitoro" (1927–2015) adalah seoarang Guaraní, salah satu suku asli Argentina, dan ibunya Dalma Salvadora Franco, "Dona Tota" (1930–2011), adalah keturunan Italia. Narciso Binayán, seorang jurnalis Argentina, juga melaporkan bahwa dia memiliki leluhur jauh Kroasia.

Diego Maradona saat tampil di Torneos Evita tahun 1973.

Kedua orang tua Maradona lahir dan dibesarkan di kota Esquina di provinsi timur laut Provinsi Corrientes. Rumah mereka hanya berjarak 200 di tepi Sungai Corriente.

Pada tahun 1950, mereka meninggalkan Esquina dan menetap di Buenos Aires. Dalam usia tiga tahun, Maradona menerima bola sepak pertamanya sebagai hadiah. Sejak itu dia seolah tak terpisahkan dengan benda tersebut yang kemudian mengubah hidupnya.

Dalam usia delapan tahun, Maradona ditemukan oleh pencari bakat saat dia bermain di klub lingkungannya Estrella Roja. Ia menjadi andalan Los Cebollitas (The Little Onions), tim junior Argentinos Juniors di Buenos Aires.

"Ketika Diego datang ke Argentinos Juniors untuk uji coba, saya benar-benar terpesona oleh bakatnya dan tidak percaya dia baru berusia delapan tahun. Bahkan, kami meminta kartu identitasmnya sehingga kami bisa memeriksanya, tetapi dia mengatakan kepada kami dia tidak memilikinya. Kami yakin dia telah mebuat kami terperangah, meskipun dia memiliki fisik anak-anak, dia bermain seperti orang dewasa. Ketika kami tahu dia mengatakan yang sebenarnya, kami memutuskan untuk mengabdikan diri murni untuk dia,” kata Francisco Cornejo, pelatih pertama yang menemukan bakat Maradona.

Saat berusia 12 tahun, dia menjadi anak gawang dalam pertandingan divisi satu. Saat jeda pertandingan, Maradona pun menghibur penonton dengan menunjukkan sihirnya dengan bola. Akrobatnya mengundang decak kagum seluruh penonton di stadion.

Lantas siapa yang dianggapnya sebagai teladan dalam sepakbola saat tumbuh dewasa? Maradona menyebut playmaker Brazil Rivellino dan pemain sayap Manchester United George Best di antara inspirasinya.

Awal Karier
Argentinos Juniors menjadi klub profesional pertama dalam karier Maradona. Debutnya bersama tim yang bermarkas di La Paternal, Buenos Aires itu terjadi pada 20 Oktober 1976 atau 10 hari sebelum ulang tahunnya yang ke-16, yakni melawan Talleres de Córdoba.

Dia masuk ke lapangan dengan mengenakan kostum nomor 16, dan menjadi pemain termuda dalam sejarah Divisi Primera Argentina. Beberapa menit setelah debut, Maradona menendang bola melalui kaki (nutmeg) Juan Domingo Cabrera, membuat gerakan yang kemudian legendaris.
Setelah pertandingan, Maradona berkata, "Hari itu saya merasa saya telah memegang langit di tangan saya."

Maradona mencetak gol pertamanya di Primera División melawan tim Marplatense San Lorenzo pada 14 November 1976, dua minggu setelah berulang tahun ke-16.

Maradona menghabiskan lima tahun di Argentinos Juniors, dari 1976 hingga 1981. Dia menyumbangkan 115 gol dalam 167 penampilan. Performanya yang ciamik di klub perdananya ini menarik perhatian salah satu klub top Argentina, Boca Juniors.

Diego Maradona saat membawa Boca Juniors menjadi juara Argentina 1981.

Dia pun bergabung dengan klub yang bermarkas di Stadion La Bombonera ini dengan nilai transfer 4 juta dolar AS. Klub pesaing Boca, River Plate, sebenarnya juga menginginkan Maradona bergabung. Klub yang juga bermarkas di Buenos Aires ini bahkan memberi iming-iming bayaran terbaik kepadanya.

Namun Maradona ternyata menjatuhkan pilihannya ke Boca Junior. Alasannya? Karena inilah klub yang dia inginkan sejak kecil.
Kontraknya dengan Boca Juniors ditandatangani 20 Februari 1981. Dia melakukan debutnya dua hari kemudian melawan Talleres de Córdoba, mencetak dua gol dalam kemenangan 4-1 klub.

Pada 10 April, Maradona memainkan Superclásico pertamanya melawan River Plate di Stadion La Bombonera. Boca mengalahkan River 3-0 dengan Maradona mencetak gol setelah menggiring bola melewati Alberto Tarantini dan Fillol.

Meskipun hubungan Maradona dan manajer Silvio Marzolini tidak bagus, Boca menjalani musim yang sukses. Mereka memenangkan gelar liga setelah mengamankan satu poin melawan Racing Club. Ini sekaligus menjadi satu-satunya gelar yang dimenangkan oleh Maradona di liga domestik Argentina.

Barcelona
Bulan Juni setelah Piala Dunia 1982, Maradona hengkang ke Barcelona di Spanyol. Nilai transfernya yang mencapai 7,6 juta dolar AS, merupakan rekor saat itu. Pada tahun 1983, di bawah pelatih César Luis Menotti (pelatih yang membawa Argentina menjadi juara Piala Dunia 1978), Barcelona dan Maradona memenangkan Copa del Rey atau Piala Raja mengalahkan Real Madrid, dan Piala Super Spanyol, mengalahkan Athletic Bilbao.

Pada tanggal 26 Juni 1983, Barcelona menang saat bertandang ke Real Madrid dalam salah satu pertandingan klub terbesar di dunia, El Clásico. Dalam partai di Santiago Bernabeu ini, Maradona mencetak gol dan menjadi pemain Barcelona pertama yang mendapat tepuk tangan dari rival beratnya para pendukung Real Madrid.

Diego Maradona saat membela Barcelona 1982-1984.

Maradona menggiring bola melewati kiper Madrid Agustín, dan saat mendekati gawang yang kosong, dia berhenti tepat saat bek Madrid Juan José meluncur untuk memblok tembakan. José akhirnya menabrak tiang, sebelum Maradona memasukkan bola ke gawang.

Hanya dua pemain lain Barcelona yang mendapat penghormatan serupa dari fan Real Madrid di Santiago Bernabeu yakni Ronaldinho (November 2005) dan Andrés Iniesta (November 2015).

Namun karier Maradona bersama raksasa Catalan itu tidak lama. Hanya dua tahun. Perselisihannya dengan beberapa pimpinan Los Blaugrana terutama dengan Presiden Klub Josep Lluís Nunez membuat Maradona berketapan hati untuk hengkang. Dia pun meminta ditransfer keluar dari Azulgrana. Selama berkarier di Barcelona, Maradona mencetak 38 gol dalam 58 pertandingan.

Napoli
Napoli menggaet Maradona dari Barcelona dengan transfer 10,48 juta dolar AS. Dia kembali memecahkan rekor transfer saat itu.
Maradona tiba di Napoli dan diperkenalkan kepada media dunia sebagai pemain klub dari selatan Italia itu pada 5 Juli 1984. Sekitar 75.000 penggemar menyambutnya saat diperkenalkan di Stadio San Paolo.

Sebelum kedatangan Maradona, sepak bola Italia didominasi oleh tim-tim dari utara dan tengah negara, seperti AC Milan, Juventus, Inter Milan, dan Roma, dan tidak ada tim di selatan Semenanjung Italia yang pernah memenangkan gelar liga.

Di Napoli, Maradona mencapai puncak karier profesionalnya. Dia mewarisi ban kapten dari bek veteran Napoli Giuseppe Bruscolotti dan dengan cepat menjadi bintang yang dipuja di antara para penggemar klub.

Pada masanya di sana ia mengangkat tim ke era paling sukses dalam sejarah klub. Maradona bermain untuk Napoli pada periode ketika ketegangan utara-selatan di Italia berada di puncaknya karena berbagai masalah, terutama perbedaan ekonomi antara keduanya.

Diego Maradona saat membela Napoli.

Dipimpin oleh Maradona, Napoli menyabet gelar juara Serie A Italia pertama mereka musim 1986/87. Perayaannya gegap gempita. Serangkaian pesta jalanan dadakan dan kemeriahan pecah secara menular di seluruh kota dalam karnaval sepanjang waktu yang berlangsung selama lebih dari seminggu.

Para pendukung Napoli mengadakan pemakaman tiruan untuk Juventus dan Milan, membakar peti mati mereka, pengumuman kematian mereka mengumumkan. “Mei 1987, Italia lainnya telah dikalahkan. Sebuah kerajaan baru telah lahir.”

Mural Maradona dilukis di bangunan kuno kota, dan anak-anak yang baru lahir diberi nama untuk menghormatinya. Musim berikutnya, trio penyerang produktif tim, yang dibentuk oleh Maradona, Bruno Giordano dan Careca, kemudian dijuluki sebagai "Ma-Gi-Ca" (sihir) garis depan.

Napoli memenangkan gelar liga kedua mereka pada tahun 1989-90, dan menjadi runner up liga dua kali, pada tahun 1987-88 dan 1988-89.

Penghargaan lain selama era Maradona di Napoli termasuk Piala Italia pada tahun 1987 (serta runner-up di kejuaraan yang sama tahun 1989), Piala UEFA pada tahun 1989, dan Piala Super Italia pada tahun 1990.

Napoli juga melaju hingga ke final Piala UEFA 1989 melawan Stuttgart. Maradona mencetak gol dari penalti dalam kemenangan kandang 2-1 di leg pertama. Dia memberi assist gol kemenangan yang dilesakkan Careca.

Sementara pada leg kedua di kandang Stuttgart, pada 17 Mei 1989, laga berakhir imbang 3–3. Maradona menghasilkan umpan yang kemudian dimanfaatkan menjadi gol oleh Ciro Ferrara dengan sundulan.

Diego Maradona dan rekan-rekannya di Napoli mengangkat trofi Piala UEFA 1988/89.

Meskipun terutama bermain dalam peran kreatif sebagai gelandang serang, Maradona adalah pencetak gol terbanyak di Serie A pada tahun 1987/88 dengan 15 gol. Dia juga menjadi penghasil gol terbanyak sepanjang masa untuk Napoli, dengan 115 gol sampai rekornya dipatahkan Marek Hamsik pada 2017.

Meski Maradona sukses di lapangan selama berada di Italia, masalah pribadinya bertambah bahkan bertumpuk. Penggunaan kokainnya terus berlanjut. Dia didenda 70.000 dolar AS oleh klubnya lantaran absen dalam permainan dan latihan, seolah-olah karena "stres".

Dia menghadapi skandal di sana terkait anak haram, dan dia juga menjadi objek kecurigaan atas dugaan persahabatan dengan Camorra, organisasi kriminal di Italia. Untuk menghormati Maradona dan prestasi selama kariernya di Napoli, nomor punggung 10 Napoli secara resmi dipensiunkan oleh klub tersebut.

Setelah Napoli
Setelah menjalani larangan 15 bulan karena gagal dalam tes narkoba untuk kokain, Maradona meninggalkan Napoli dengan malu pada tahun 1992. Meskipun Real Madrid dan Marseille sempat menunjukkan minat merekrutnya, ia menandatangani kontrak dengan Sevilla. Di klub Spanyol itu ia tinggal selama satu tahun.

Tahun 1993, ia bermain untuk Newell's Old Boys dan pada tahun 1995 kembali ke Boca Juniors selama dua tahun.

Maradona juga tampil untuk Tottenham Hotspur dalam pertandingan testimonial untuk Osvaldo Ardiles melawan Internazionale, tak lama sebelum Piala Dunia 1986. Pada tahun 1996, ia bermain dalam pertandingan persahabatan bersama saudaranya Raul untuk Toronto Italia melawan All-Stars Liga Sepak Bola Nasional Kanada. Maradona sendiri diberi pertandingan testimonial pada November 2001, bermain antara World XI all-star dan tim nasional Argentina.

Kiprah di Timnas Argentina
Selama bersama timnas Argentina, Maradona mencetak 34 gol dari 91 penampilan. Dia melakukan debut internasional penuh pada usia 16, melawan Hongaria, pada 27 Februari 1977.

Namun hal yang tak terduga terjadi. Menjelang Piala Dunia 1978 di kandang sendiri, Maradona dikeluarkan dari squad Argentina oleh pelatih César Luis Menotti. Menurut pelatih berambut gondrong ini Maradona terlalu muda untuk memperkuat timnas di ajang paling bergengsi Piala Dunia. Saat itu usianya baru 17.

Pada usia 18, Maradona membela Argentina di Piala Dunia Junior 1979 (kini Piala Dunia U-20) di Jepang dan muncul sebagai bintang turnamen. Salah satu tim yang dikalahkan dalam perjalanan menuju final adalah Indonesia.

Dalam pertandingan penyisihan Grup B, Argentina menundukkan Indonesia, yang salah satunya diperkuat Bambang Nurdiansyah, 5-0. Maradona mencetak dua gol, sisanya dilesakkan Ramon Diaz.

Dia juga bersinar dalam kemenangan di partai final. Argentina melibas Uni Soviet, 3-1, dan Maradona mencetak total enam gol dalam enam penampilan di turnamen ini.

Pada 2 Juni 1979, Maradona mencetak gol internasional senior pertamanya dalam kemenangan 3-1 melawan Skotlandia di Hampden Park. Dia kemudian bermain untuk Argentina dalam dua pertandingan Copa América 1979 selama Agustus 1979, kekalahan 2-1 melawan Brasil dan kemenangan 3-0 atas Bolivia di mana dia mencetak gol ketiga timnya.

Berbicara tiga puluh tahun kemudian tentang dampak penampilan Maradona pada tahun 1979, Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan, "Setiap orang memiliki pendapat tentang Diego Armando Maradona, dan itulah yang terjadi sejak hari-harinya bermain. Ingatan saya yang paling jelas adalah tentang anak yang sangat berbakat ini di Piala Dunia FIFA U-20 kedua di Jepang pada 1979. Dia membiarkan semua orang terbuka lebar setiap kali dia menguasai bola."

Maradona dan rekan senegaranya Lionel Messi adalah satu-satunya pemain yang memenangkan Bola Emas di kedua FIFA Piala Dunia U-20 dan Piala Dunia FIFA. Maradona melakukannya pada 1979 dan 1986, yang ditiru Messi pada 2005 dan 2014.

Piala Dunia 1982
Maradona memainkan turnamen Piala Dunia pertamanya pada tahun 1982 di negara kediaman barunya, Spanyol. Argentina bermain melawan Belgia pada pertandingan pembukaan Piala 1982 di Camp Nou di Barcelona.

Penonton Catalan sangat ingin melihat rekrutan rekor dunia baru mereka Maradona beraksi, tapi dia tidak tampil sesuai ekspektasi, Argentina, sang juara bertahan, kalah 1-0.

Meskipun tim secara meyakinkan mengalahkan Hongaria dan El Salvador di Alicante untuk maju ke babak kedua, ada ketegangan internal di dalam tim, dengan pemain yang lebih muda dan kurang berpengalaman berselisih dengan pemain yang lebih tua dan lebih berpengalaman.

Diego Maradona saat tampil di Piala Dunia 1982 di Spanyol.

Dalam tim yang juga terdiri dari pemain-pemain seperti Mario Kempes, Osvaldo Ardiles, Ramón Díaz, Daniel Bertoni, Alberto Tarantini, Ubaldo Fillol, dan Daniel Passarella, tim Argentina itu dikalahkan di putaran kedua oleh Brasil.

Maradona bermain di semua lima pertandingan tanpa diganti, mencetak dua gol melawan Hongaria. Dia dilanggar berulang kali di semua lima pertandingan dan terutama di pertandingan terakhir melawan Brasil di Sarrià, sebuah pertandingan yang dirusak oleh pelanggaran wasit dan kekerasan yang buruk.

Dengan Argentina sudah tertinggal 0-3 oleh Brasil, mental tim pun rontok. Frustrasi karena terus dilanggar, temperamennya pun meluap. Maradona balas dendam terhadap, Batista, pemain Brasil yang berulangkali mengganjalnya. Dia pun diganjar kartu merah. Itulah akhir perjalanan Maradona di kejuaraan ini.

Piala Dunia 1986
Maradona menjadi kapten tim nasional Argentina untuk meraih kemenangan di Piala Dunia 1986 di Meksiko, memenangkan final di Mexico City melawan Jerman Barat. Sepanjang turnamen, Maradona menegaskan dominasinya dan merupakan pemain paling dinamis di kompetisi tersebut.

Dia bermain setiap menit di setiap pertandingan Argentina, mencetak lima gol dan membuat lima assist, tiga di antaranya dalam pertandingan pembukaan melawan Korea Selatan di Stadion Olímpico Universitario di Mexico City. Gol pertamanya dari turnamen datang melawan Italia pada pertandingan grup kedua di Puebla.

Argentina menyingkirkan Uruguay di babak sistem gugur pertama di Puebla, menyiapkan pertandingan melawan Inggris di Stadion Azteca, juga di Mexico City. Setelah mencetak dua gol yang kontras dalam kemenangan 2-1 perempat final melawan Inggris. Di sinilah predikat sebagai legenda disematkan kepadanya.

Kehebatannya saat mencetak gol kedua dan “kelicikannya” saat mencetak gol pertamanya dengan tangan menyebabkan surat kabar Prancis L'Equipe menggambarkan Maradona sebagai "setengah malaikat, setengah iblis".

Pertandingan ini dimainkan dengan latar belakang Perang Falklands (Perang Malvinas) antara Argentina dan Britania Raya. Tayangan ulang menunjukkan bahwa gol pertama dicetak dengan tangannya.

Aksi Diego Maradona mencetak gol "Tangan Tuhan" ke gawang Inggris di Piala Dunia 1986.

Saat menanggapi gol ini, Maradona dengan malu-malu mengelak, dan menyebutnya sebagai "sedikit dengan kepala Maradona dan sedikit dengan tangan Tuhan". Lantas gol yang seharusnya tidak sah ini dikenal sebagai " Gol Tangan Tuhan".

Akhirnya, pada tanggal 22 Agustus 2005, Maradona mengakui di acara televisinya bahwa dia telah menyentuh bola dengan tangannya dengan sengaja, dan tidak ada kontak dengan kepalanya, dan dia segera tahu bahwa gol tersebut tidak sah.

Gol kedua Maradona, terjadi hanya empat menit setelah hand-goal yang diperdebatkan dengan panas, kemudian dipilih oleh FIFA sebagai gol terhebat dalam sejarah Piala Dunia. Dia menerima bola di bagiannya sendiri, berputar di sekitar dan dengan 11 sentuhan berlari lebih dari setengah panjang lapangan, menggiring bola melewati lima pemain lapangan Inggris (Peter Beardsley, Steve Hodge, Peter Reid, Terry Butcher, dan Terry Fenwick) sebelum kemudian menaklukkan kiper Peter Shilton di bagian belakang dengan tipuan, dan memasukkan bola ke gawang.

Gol ini terpilih sebagai "Gol abad Ini" dalam jajak pendapat online tahun 2002 yang dilakukan oleh FIFA.

Maradona melanjutkan kehebatannya dalam pertandingan semifinal melawan Belgia di Azteca. Dalam partai ini dia juga melakukan dribbling menawan lainnya untuk gol kedua. Dalam partai final, Jerman Barat berusaha menahan pergerakannya dengan memberi pengawalan ketat.

Lothar Matthaeus ditugaskan khusus “mematikannya”. Namun dalam sebuah kesempatan Maradona tetap menemukan ruang melewati Matthaeus untuk memberikan umpan terakhir kepada Jorge Burruchaga yang kemudian mencetak gol kemenangan.

Argentina mengalahkan Jerman Barat 3-2 di depan 115.000 penggemar di Azteca. Maradona pun mengangkat Piala Dunia sebagai kapten.

Selama turnamen, Maradona mencoba atau menciptakan lebih dari setengah tembakan Argentina, mencoba 90 gocekan terbaik turnamen - tiga kali lebih banyak dari pemain lain - dan mencatat rekor 53 kali dilanggar.

Maradona mencetak atau membantu 10 dari 14 gol Argentina (71%), termasuk assist untuk gol kemenangan di final. Kiprahnya di kejuaraan ini memastikan bahwa ia akan dikenang sebagai salah satu nama terbesar dalam sejarah sepakbola. Piala Dunia 1986 adalah Piala Dunia milik Maradona

Pada akhir Piala Dunia, Maradona kemudian memenangkan Bola Emas sebagai pemain terbaik turnamen dengan suara bulat dan secara luas dianggap telah memenangkan Piala Dunia hampir sendirian, sesuatu yang kemudian dia nyatakan tidak sepenuhnya dia lakukan.

Zinedine Zidane, berusia 14 tahun saat menonton Piala Dunia 1986. Menurutnya Maradona "berada di level lain".
Sebagai penghormatan kepadanya, otoritas Stadion Azteca membangun patung dirinya yang mencetak "Gol Abad Ini" dan meletakkannya di pintu masuk stadion.

Piala Dunia 1990
Maradona menjadi kapten Argentina lagi di Piala Dunia 1990 di Italia dan kembali melaju ke final Piala Dunia. Cedera pergelangan kaki memengaruhi penampilannya secara keseluruhan, dan dia jauh kurang dominan dibandingkan empat tahun sebelumnya.

Setelah kalah dalam pertandingan pembukaan mereka dari Kamerun di San Siro di Milan, Argentina hampir tersingkir di babak pertama. Mereka lolos di posisi ketiga dari grup mereka. Pada babak 16 besar pertandingan melawan Brasil di Turin, Claudio Caniggia mencetak satu-satunya gol mendapat umpan dari Maradona.

Di perempat final, Argentina menghadapi Yugoslavia di Firenze; pertandingan berakhir 0-0 setelah 120 menit, dengan Argentina maju dalam adu penalti meskipun tendangan Maradona, tembakan lemah ke kanan gawang, diselamatkan.

Semifinal melawan negara tuan rumah Italia di stadion klub Maradona di Napoli, Stadio San Paolo, juga diselesaikan melalui adu penalti setelah bermain imbang 1-1.

Pada final di Roma, Argentina kalah 1-0 dari Jerman Barat, satu-satunya gol dalam partai ini dilesakkan Andreas Brehme dari titik penalti pada menit ke-85 setelah pelanggaran kontroversial terhadap Rudi Völler.

Piala Dunia 1994
Pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, Maradona bermain hanya dalam dua pertandingan (putus di Stadion Foxboro dekat Boston), mencetak satu gol setelah melawan Yunani, sebelum dikirim pulang karena gagal dalam tes obat untuk doping efedrin.

Setelah mencetak gol melawan Yunani, Maradona mencetak salah satu gol Piala Dunia paling luar biasa. Dia kemudian berlari ke arah salah satu kamera di sisi lapangan dan berteriak dengan wajah terdistorsi dan mata melotot.

Ini ternyata menjadi gol internasional terakhir Maradona untuk Argentina. Dalam pertandingan kedua, dia mengantar negaranya menaklukkan Nigeria, 2-1, yang menjadi pertandingan terakhirnya untuk Argentina.

Karier Pelatih
Maradona juga pernah melatih beberapa klub. Namun kariernya sebagai arsitek tim tidaklah secemerlang sebagai pemain.
Maradona memulai karier sebagai pelatih bersama mantan rekan setim lini tengah Argentinos Juniors Carlos Fren. Pasangan itu memimpin Mandiyú dari Corrientes pada 1994 dan Racing Club pada 1995, dengan sedikit keberhasilan.

Pada Mei 2011 ia menjadi manajer klub Dubai Al Wasl FC di Uni Emirat Arab. Maradona dipecat pada 10 Juli 2012. Agustus 2013, Maradona pindah menjadi pelatih mental di klub Argentina Deportivo Riestra.

Maradona meninggalkan peran ini pada tahun 2017 untuk menjadi pelatih kepala Fujairah, di divisi dua UEA, sebelum pergi pada akhir musim karena gagal mendapatkan promosi di klub. Pada September 2018 ia ditunjuk sebagai manajer tim divisi dua Meksiko Dorados.

Dia melakukan debutnya bersama Dorados pada 17 September 2018 dengan kemenangan 4–1 atas Cafetaleros de Tapachula. Pada 13 Juni 2019, setelah Dorados gagal meraih promosi ke papan atas Meksiko, pengacara Maradona mengumumkan bahwa ia akan mundur dari jabatan tersebut, dengan alasan kesehatan.

Diego Maradona sebagai pelatih.

Pada 5 September 2019, Maradona diresmikan sebagai pelatih kepala baru Gimnasia de La Plata, menandatangani kontrak hingga akhir musim. Setelah dua bulan bertugas, dia meninggalkan klub pada 19 November. Namun, dua hari kemudian, Maradona bergabung kembali dengan klub sebagai manajer dan mengatakan bahwa "kami akhirnya mencapai persatuan politik di klub".

Maradona bersikeras bahwa Gabriel Pellegrino tetap menjadi presiden klub jika dia tetap bersama Gimnasia de La Plata. .
Pada 15 Desember 2019, Pellegrino, yang didorong oleh Maradona untuk mencalonkan diri kembali, dan terpilih lagi untuk masa jabatan tiga tahun. Meski memiliki rekor buruk selama musim 2019-20, Gimnasia memperbarui kontrak Maradona pada 3 Juni 2020 hingga musim 2020-21. Status sebagai pelatih Gimnasia disandangnya hingga kematian menjemput.

Dia juga sempat menangani tim nasional Argentina. Pasca pengunduran diri pelatih timnas Argentina Alfio Basile pada 2008, Maradona langsung mengajukan pencalonannya untuk peran yang kosong tersebut.

Diego Maradona dan Lionel Messi di Piala Dunia 2010.

Pada 29 Oktober 2008, ketua AFA Julio Grondona menegaskan bahwa Maradona akan menjadi pelatih kepala tim nasional. Pada 19 November 2008, Maradona melatih Argentina untuk pertama kalinya saat mereka bermain melawan Skotlandia di Hampden Park di Glasgow. Argentina menang 1-0.

Dia pun sukses membawa Argentina lolos babak kualifikasi Piala Dunia 2010, yang menjadi event besar pertamanya sebagai pelatih timnas.

Pada putaran final Piala Dunia, Juni 2010, Argentina memulai dengan menang 1-0 melawan Nigeria, diikuti dengan kemenangan 4-1 atas Korea Selatan. Dalam pertandingan terakhir babak penyisihan grup, Argentina menang 2-0 melawan Yunani untuk memenangkan grup dan maju ke babak kedua, bertemu Meksiko.

Setelah mengalahkan Meksiko 3-1, Argentina pun melaju ke perempat final. Namun di babak delapan besar ini, Argentina menyerah kepada Jerman 0-4 dan tersingkir.

AFA sempat memutuskan untuk mempertahankan Maradona sampai Piala Dunia 2014 di Brasil. Namun tak lama kemudian Asosiasi Sepakbola Argentina itu mengubah keputusan. Maradona tak lagi menangani timnas dan digantikan rekan satu timnya di Piala Dunia 1986, Daniel Pasarella. Karier Maradona di timnas pun selesai.

Kematian
Pada 2 November 2020, Maradona dirawat di rumah sakit di La Plata, diduga karena alasan psikologis. Seorang perwakilan dari mantan pesepakbola tersebut mengatakan bahwa kondisinya tidak serius.

Sehari kemudian, ia menjalani operasi otak darurat untuk mengobati hematoma subdural. Dia keluar dari rumah sakit pada 12 November 2020 setelah operasi yang sukses dan diawasi oleh dokter sebagai pasien rawat jalan.

Peti mati Diego Maradona.

Pada 25 November 2020, pada usia 60, Maradona meninggal karena serangan jantung di rumahnya di Tigre, Provinsi Buenos Aires, Argentina. Peti mati Maradona - terbungkus bendera nasional Argentina dan tiga kaus Maradona nomor 10 (Argentinos Juniors, Boca Juniors dan Argentina) – terbaring di Istana Kepresidenan, Casa Rosada, dengan pelayat melewati peti matinya.

Pada tanggal 26 November, upacara pemakaman pribadi diadakan dan Maradona dimakamkan di samping orang tuanya di pemakaman Jardín de Bella Vista di Bella Vista, Buenos Aires.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Dokter Maradona Diperiksa Pihak Berwajib

Jaksa mencari petunjuk kalau-kalau ada unsur kelalaian dalam merawat Maradona pasca-operasi.

BOLA | 30 November 2020

Mikel Arteta Khawatir dengan Penampilan Arsenal

Pelatih Arsenal, Mikel Arteta mengaku bertanggung jawab atas penampilan buruk anak asuhnya dalam beberapa pekan terakhir, termasuk saat kalah 1-2 dari Wolves.

BOLA | 30 November 2020

Tottenham Dinilai Belum Cukup Bagus untuk Juarai Liga Inggris

Tottenham Hotspur memang sedang memimpin klasemen sementara Liga Utama Inggris, tetapi mereka dinilai tidak cukup bagus untuk menjadi juara di akhir musim.

BOLA | 30 November 2020

Messi Tiru Gaya Maradona Rayakan Gol di Newell's Old Boys

Lionel Messi meniru gaya Maradona saat merayakan satu golnya ke gawang Osasuna pada pertandingan La Liga Spanyol di Camp Nou, Minggu (29/11/2020).

BOLA | 30 November 2020

Menang Telak, Napoli Buat Maradona Tersenyum dari Surga

Napoli menyempurnakan penghargaan untuk Maradona dengan kemenangan telak 4-0 atas AS Roma pada pertandingan Liga Serie A Italia, Senin (30/11/2020) dini hari.

BOLA | 30 November 2020

Arsenal Kembali Menuai Hasil Buruk

Tim London Utara, Arsenal, kembali menuai hasil buruk di ajang Liga Utama Inggris. Akibatnya mereka terlempar ke papan bawah klasemen sementara.

BOLA | 30 November 2020

Chelsea vs Tottenham Berakhir Tanpa Gol

Chelsea yang tampil dominan di laga ini kesulitan menembus pertahanan Spurs.

BOLA | 30 November 2020

MU Menang, Solskjaer Puji Cavani

MU sempat tertinggal dua gol lebih dahulu sebelum diperkecil oleh Bruno Fernandes dan kemudian ditambah dua gol Edinson Cavani.

BOLA | 30 November 2020

Babak Pertama, Chelsea vs Tottenham Belum Ada Gol

Pertandingan kedua tim berjalan imbang di 45 menit pertama, meski Chelsea sedikit unggul dalam penguasaan bola.

BOLA | 30 November 2020

Sempat Gagal Lawan Fiorentina, Kessie Tetap Algojo Penalti Milan

Pelatih Milan, Stefano Mioli, tetap percaya kepada Frank Kessie menjadi algojo penalti meski sempat gagal saat lawan Fiorentina.

BOLA | 30 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS