Tuchel, Komunikator Ulung yang Berkepribadian Unik
Logo BeritaSatu

Tuchel, Komunikator Ulung yang Berkepribadian Unik

Rabu, 27 Januari 2021 | 09:33 WIB
Oleh : BW

Jakarta, Beritasatu.com - Thomas Tuchel resmi menjabat manajer baru Chelsea, Rabu (26/1/2021) waktu setempat. Ia menggantikan Frank Lampard yang dipecat sehari sebelumnya.

Tuchel diharapkan bisa mengeluarkan semua potensi yang dimiliki bakat-bakat paling cemerlang Chelsea.

Pelatih asal Jerman berusia 47 tahun yang dikenal berkepribadian rumit itu, terampil membangun kesatuan tim dan memiliki visi dan pemikiran metodik dalam mendekati sepak bola.

Manajer yang dipecat oleh Paris St-Germain akhir Desember tahun lalu setelah berselisih dengan direktur olah raga Leonardo itu memang tak berhasil mengeluarkan potensi terbaik skuadnya yang bertabur bintang, tetapi PSG tetap lolos ke final Liga Champions Agustus tahun silam dan berturut-turut menjuarai liga.

Mengutip BBC, rekam jejaknya itu sudah cukup bagus di mata manajemen Chelsea yang menghubungi dia beberapa saat sebelum memecat Lampard.

Tuchel yang kabarnya awalnya tak yakin menerima pinangan pada pertengahan musim, menganggap tugas di Stamford Bridge sebagai peluang guna membuktikan kualitasnya di Inggris seperti sudah ditunjukkan Jurgen Klopp dan Pep Guardiola yang keduanya dia hormati.

Pengalaman
Tuchel memetik pengalaman dari lingkungan berbeda-beda sejak mengawali kariernya bersama klub kecil Mainz, lalu bergabung dengan Borussia Dortmund yang ambisius tetapi kemampuan finansialnya terbatas dan kemudian melatih raksasa Liga Prancis PSG.

The Blues memiliki skuat bernilai mahal sekali setelah belanja habis-habisan musim panas lalu. Tuchel sepertinya tidak akan menghadapi resistensi dari pemain seperti dia alami saat di PSG.

Sejumlah pemain Chelsea mengeluhkan taktik yang tidak jelas dan komunikasi yang buruk sewaktu ditangani Lampard. Sebaliknya, Tuchel dikenal memiliki kemampuan berkomunikasi yang bagus dengan tim.

Namun, Tuchel tidak segan-segan menerapkan gagasan-gagasan dia, baik dalam soal taktik di lapangan maupun hal-hal yang mungkin sepele seperti pola makan pemain, memonitor pola tidur pemain, mengubah proses pembibitan, dan melibatkan diri dalam renovasi fasilitas bermain.

Keinginan mengendalikan hampir segalanya itu membuat dia dianggap musuh oleh beberapa kalangan.

Sewaktu di Dortmund, dia melarang kepala pembibitan Sven Mislintat berada di lapangan latihan karena berbeda filosofi bermain. Dia juga menuntut kepala eksekutif Hans-Joachim Watze dan direktur olah raga Michael Zorc agar membeli pemain-pemain tertentu.

Dia memang berhasil selama dua tahun di Dortmund, tetapi tindakan-tindakan Tuchel seperti itu tak disukai manajemen.

Memoles Pemain Nah, kini menarik. Dia akan melatih Chelsea. Tentu semua orang akan melihat hubungan seperti apa yang ditampilkan Tuchel dan manajemen Chelsea. Belum jelas pula apakah pemilik Chelsea, Roman Abramovich, dan direktur Marina Granovskaia akan betah dengan pelatih yang memiliki kepribadian seunik Tuchel.

Namun, meminjam analisis ESPN, ada keyakinan besar Tuchel akan lebih berhasil menangani skuad Chelsea saat ini ketimbang Lampard yang kehilangan posisi setelah lima kali kalah dalam delapan laga terakhirnya.

The Blues sudah menghabiskan 222 juta pound (Rp 4,25 triliun) dalam pasar transfer musim panas lalu tetapi kebanyakan pemain baru itu tak memenuhi ekspektasi klub. Dan yang paling menonjol dari semua itu adalah Timo Werner dan Kai Havertz yang malah terpuruk sejak pindah dari Jerman ke Stamford Bridge.

Chelsea pernah mendekati mantan manajer RB Leipzig Ralf Rangnick dan Julian Nagelsmann, manajer baru Leipzig. The Blues sepertinya tertarik kepada catatan menarik para pelatih asal Jerman, apalagi Juergen Klopp yang dari Jerman berhasil menyulap Liverpool.

Tuchel yang masuk sistem pendidikan pelatih sepak bola Jerman setelah pensiun menjadi pemain dalam usia 25 tahun, mungkin langsung cocok dengan Werner dan Havertz yang sama-sama dari Jerman.

Selain itu, dia sukses memoles Christian Pulisic di Dortmund dan Thiago Silva di PSG. Dia juga tak akan kesulitan bekerja sama dengan pemain Jerman lainnya, Antonio Rudiger yang pada jendela transfer musim lalu diminatinya.

Tuchel memang acap membuat gerah manajemen, tetapi dia kerap berhasil memoles banyak pemain untuk naik ke level lebih tinggi. Dan ini membuat Tuchel memang orang yang dibutuhkan Chelsea.

Acap Berselisih Dengan merekrut Tuchel, Chelsea akan mendapatkan pelatih yang pernah mengantarkan timnya menjadi runner up Liga Champions, juara liga Prancis, dan pemenang trebel domestik, selain memiliki banyak gagasan cemerlang.

Tuchel juga dalam manajemen klub yang dibuktikan dari empat musim menangani Mainz (2009-2014) sampai menangani dua tim besar Dortmund dan PSG.

Pelatih yang saat bermain berposisi sebagai beek itu memiliki filosofi sendiri dan serbabisa tatkala membangun tim yang kerap dibarengi dengan kemampuan menghadirkan berbagai cara dalam menghadapi beragam lawan.

Dia inovatif, berani dan tajam, tetapi kadang-kadang taktiknya kontraproduktif. Sebelum dipecat PSG, Tuchel kehilangan kredibilitasnya di kalangan pemain karena memainkan bek Marquinhos dan gelandang Danilo Pereira di luar posisi biasanya. Namun, kesalahan terbesar Tuchel adalah tak bisa membangun identitas tim yang jelas.

Dia hanya beradaptasi dengan lingkungan yang sudah ada di sana dan ingin disukai pemain-pemainnya yang malah dengan cara itu dia mengkhianati prinsipnya sendiri. Selama di PSG, tak ada pola dan struktur bermain yang jelas.

Pelatih kelahiran 29 Agustus 1973 tersebut mengingkari prinsipnya sendiri sebagai orang yang menentukan segalanya karena klub dan skuad PSG sudah terlalu politis. Dia hanya ingin menjadi pelatih sepak bola, tetapi klub-klub besar di Eropa menginginkan lebih.

Tuchel berselisih dengan media karena dianggap terlalu kritis. Juga dengan direktur olah raga Leonardo karena berbeda pandangan yang akhirnya membuat dia dipecat. Dia juga bertengkar dengan sejumlah pemain yang tak mau memahami keputusan-keputusannya. Jika mau memetik pelajaran ini, maka Tuchel akan sukses di Chelsea.

Masalah terbesar
Hal pertama yang mesti dilakukan Tuchel adalah mencari jawaban mengapa Havertz dan Werner tak berhasil menularkan penampilan menawan mereka di Bundesliga ke Chlesea sekalipun dihargai mahal. Havertz berbanderol 72 juta pound (Rp 1,38 triliun), sedangkan Werner bernilai 47 juta pound (Rp 901 miliar).

Di Leverkusen, Havertz terlihat mematikan saat mengisi peran nomor 10 yang kreatif di belakang striker utama atau di sisi kanan serangan pada posisi nomor 8. Dia tidak dipasang di kedua posisi itu di Stamford Bridge karena Lampard memposisikannya lebih dalam di gelandang dan ini tak berhasil.

Werner yang baru bisa mencetak empat gol dari 19 pertandingan liga musim ini, juga begitu. Dia lebih sering dipasang sebagai pemain sayap, padahal di Leipzig dia menjadi predator karena mengisi sektor kiri serangan.

Bukan kebetulan jika Chelsea akhirnya memilih Tuchel. The Blues berharap Tuchel mendorong kedua pemain Jerman itu mengeluarkan potensi terbaiknya.

Tuchel juga bisa menjawab apa yang selama ini tak dijawab Lampard, yakni starting eleven yang baku. Kuncinya adalah menemukan jawaban untuk masalah mereka saat ini, yakni gelandang bertahan yang menjadi transisi untuk serangan mereka.

Menurut ESPN, Declan Rice dari West Ham lama disebut bakal direkrut Chelsea untuk mengisi peran itu, tetapi Tuchel kemungkinan besar akan mencarinya dari dalam skuad The Blues, salah satunya Billy Gilmour yang menawarkan prospek menarik.

Intinya Tuchel harus cepat menemukan formula juara agar Chelsea kembali masuk empat besar. Mengingat ini sudah pertengahan musim, maka Tuchel akan langsung tancap gas di Stamford Bridge.



Sumber: ANTARA


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Thomas Tuchel Manajer Baru Chelsea

Tuchel diberi kontrak kerja berdurasi 18 bulan disertai opsi perpanjangan.

BOLA | 27 Januari 2021

Pemain Barcelona Bantu Atasi Krisis Keuangan Klub

Pelatih Barcelona Ronald Koeman memastikan mereka rela memotong gaji untuk membantu kekuangan klub yang sedang dalam kesulitan.

BOLA | 27 Januari 2021

Bocah Brasil Ini Lewati Prestasi Messi dan Neymar

Seorang bocah Brasil, Kauan Basile, melewati prestasi Lionel Messi dan Neymar dalam hal kontrak dengan produsen olahraga terkenal, Nike.

BOLA | 27 Januari 2021

Pioli Sebut Kartu Merah Ibrahimovic Biang Keladi Kekalahan Milan

Pioli kemudian ditanyai perihal perseteruan Lukaku dan Ibrahimovic yang terjadi pada pengujung babak pertama yang menyebabkan kedua pemain diganjar kartu kuning.

BOLA | 27 Januari 2021

Dramatis, Inter Singkirkan Milan

Cedera yang diderita Simon Kjaer membuat ia harus ditarik keluar lapangan untuk digantikan Fikayo Tomori.

BOLA | 27 Januari 2021

Tomas Soucek Pimpin West Ham Permalukan Crystal Palace

West Ham United tembus empat besar Liga Utama Inggris setelah menang 3-2 atas Crystal Palace pada Rabu (27/1/2021) dini hari WIB di Selhurst Park.

BOLA | 27 Januari 2021

City Gusur MU dari Puncak Klasemen

Manchester City mengambil alih pimpinan klasemen sementara Liga Utama Inggris setelah menang telak 5-0 atas West Bromwich Albion, Rabu (27/1/2021) dini hari WIB

BOLA | 27 Januari 2021

Arsenal Bekuk Southampton

Arsenal membawa tiga poin dari lawatannya ke St Mary's Stadium, setelah membungkam tuan rumah Southampton 3-1 pada Rabu (27/1/2021) dini hari WIB.

BOLA | 27 Januari 2021

Preview: Bertemu WBA, Manchester City Bakal Sulit Dibendung

Manchester City diyakini bakal melanjutkan rentetan kemenangan mereka di Midlands kala bertandang ke markas West Bromwich Albion.

BOLA | 26 Januari 2021

Arsenal Usung Misi Pembalasan, Southampton Waspada

Arsenal tak ingin menelan kekecewaan dua kali usai disingkirkan Southampton di Piala FA.

BOLA | 26 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS