Besok Mau "Back to Basic"
INDEX

BISNIS-27 434.176 (-7.64)   |   COMPOSITE 4917.96 (-75.2)   |   DBX 928.196 (-4.7)   |   I-GRADE 130.286 (-2.42)   |   IDX30 412.166 (-7.85)   |   IDX80 107.727 (-2.08)   |   IDXBUMN20 269.265 (-5.95)   |   IDXG30 115.773 (-2.53)   |   IDXHIDIV20 368.481 (-6.65)   |   IDXQ30 120.761 (-2.3)   |   IDXSMC-COM 210.292 (-3.36)   |   IDXSMC-LIQ 235.988 (-6.09)   |   IDXV30 101.893 (-2.12)   |   INFOBANK15 773.605 (-13.29)   |   Investor33 359.92 (-6.34)   |   ISSI 144.524 (-2.29)   |   JII 524.265 (-9.92)   |   JII70 177.451 (-3.41)   |   KOMPAS100 962.885 (-17.72)   |   LQ45 754.177 (-14.18)   |   MBX 1360.94 (-22.87)   |   MNC36 269.191 (-4.78)   |   PEFINDO25 256.961 (-5.33)   |   SMInfra18 232.003 (-3.35)   |   SRI-KEHATI 302.863 (-5.05)   |  

Besok Mau "Back to Basic"

Opini: BS Mardiatmadja
Pemerhati pendidikan

Jumat, 19 Juni 2020 | 08:00 WIB

Banyak orang menyebut masa ini menuju ke new normal. Sebagian tepat, karena kita kembali menjalankan kegiatan seperti sebelum pandemi corona. Namun, ungkapan new normal membutuhkan penyempurnaan makna. Sebab, banyak hal telah terjadi dalam tiga bulan terakhir ini, yang tidak dapat dihapus dari benak dan budi orang, baik positif maupun negatif.

Ungkapan new normal itu semakin problematis bila dikaitkan dengan keinginan untuk menghapus saja “kepahitan-kepedihan-kesakitan” yang baru dirasakan. Sikap dasar yang amat penting kita hayati adalah apa pun saja yang kita alami seperti linangan air mata, opname, tusukan jarum, menelan obat pahit, tinggal di rumah, duduk ataupun berdiri berjarak, dan sebagainya, tak pernah boleh begitu saja kita tanggalkan dari keseluruhan pengalaman hidup, kalau kita mau menghayati hidup nyata, yang sungguh manusiawi.

“Back to Basic”
Dalam setiap pengalaman, basis hidup kita senantiasa tersentuh, walau seringkali hanya pengalaman-pengalaman fisik atau psikis yang menonjol. Semakin berharga segi hidup kita yang diminta mengalami sesuatu, semakin kita diajak masuk ke yang basis dari hidup kita. Itulah yang terjadi ketika kita jatuh cinta, sukses atau gagal dalam profesi, jatuh atau memuncak dalam karier ekonomi atau politik, dan juga ketika kita kehilangan orang tercinta.

Hati terluka yang kita peroleh dalam pengalaman-pengalaman itu perlu dipulihkan dengan menyambut dan memeluk seluruh pengalaman silam. Lihatlah, sakitnya seorang anak dapat menjadi akar kemesraan seluruh keluarga.

Untuk menyadari bagaimana diri kita menyusuri basis dasar kehidupan itu, baiklah kita berani menyesap realita, sepahit apa pun. Peristiwa corona adalah pahit, baik bagi yang mengalaminya, keluarga, kerabat maupun masyarakat. Kita dapat melihatnya dalam hal-hal yang negatif, seperti sakit, tidak bisa beraktivitas, tinggal di rumah, kerabat meninggal, dan sebagainya.

Namun, banyak orang menemukan hal-hal yang amat positif pada bulan-bulan silam, bahkan dipanggil menghayati proses back to basic. Kita diajak menyadari, bahwa tubuh dan diri kita tidaklah seluruhnya ada dalam kekuasaan kehendak kita, seperti yang lama sekali diajarkan kepada kita oleh beberapa ilmuwan, “asal kamu mau, kamu dapat.”

Kita dianugerahi pengalaman. Sebagai warga bertetangga dan seluruh bangsa, kita sungguh senasib sepenanggungan, sehingga tergerak untuk berbagi harta, hati, dan budi tanpa sentimen suku atau agama atau partai. Ternyata semboyan Bhinneka Tunggal Ika terpadukan dalam the basic of our humanity.

Banyak dari kita menyadari, bahwa back to normal mempunyai makna yang berakar pada hasrat untuk back to our humanity. Tentu saja, perlulah komunitas-komunitas kita dikembalikan pada situasi dan kondisi ekonomi normal. Pekerjaan di tempat produksi dan penyelenggaraan transportasi serta segala kegiatan kemasyarakatan perlu diaktifkan kembali.

Namun, sekaligus kita perlu menyempurnakannya dengan pelbagai sikap dasar yang telah kita mulai lakukan selamat tiga bulan terakhir ini. Penyempurnaan itu terwujud dalam disiplin berlalu-lintas, hidup sehat yang bertumpu pada praktik sederhana seperti cuci tangan, menjaga cara bergaul yang sopan dan tetap penuh kasih sayang, menyuburkan sikap altruistis (mementingkan kepentingan umum) saat bersin atau batuk, serta menjaga fasilitas umum.

Sebenarnya, semua itu merupakan basis pembangunan hidup bersama. Lebih jauh lagi, keharusan mencari uang dan keinginan menjaga disiplin lalu-lintas perlu dijiwai oleh spirit kebersamaan.

Basis Keluarga
Hal yang terdalam, kita telah menemukan pengalaman betapa keluarga sungguh merupakan basis dan jiwa masyarakat kita. Alangkah bagusnya kalau di hari esok, disiplin berpabrik dan berkantor tetap dilaksanakan dengan menjaga quality time bagi keluarga. Sebab keluarga adalah pusat-didik.

Mereka yang diberi tanggung jawab menyelenggarakan persekolahan, perlu belajar dari tiga bulan ini, bahwa basis pendidikan bukanlah pada kelas atau ruang guru atau kantor kementerian, tetapi tetap pada keluarga. Elemen lainnya berfungsi subsider. Seberapa pun hebat sekolah, murid tetap berdasar pada relasi kekeluargaan.

Untuk lingkup negara dan masyarakat, semakin diperlukan tata layanan persiapan hidup berkeluarga, suatu hal yang amat kurang mendapat perhatian dari pihak-pihak yang diserahi untuk menyelenggarakan pelayanan pendidikan. Suatu pembaruan pola persekolahan dan administrasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan amat diperlukan untuk mengantar masyarakat menuju basis yang sehat.


BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS