“Omed-Omedan” Tradisi Unik di Sesetan Denpasar

“Omed-Omedan” Tradisi Unik di Sesetan Denpasar
Tradisi Omed-Omedan, di Sesetan Denpasar, Bali, Minggu, 21 Maret 2015. ( Foto: Suara Pembaruan )
I Nyoman Mardika Minggu, 22 Maret 2015 | 17:24 WIB

Denpasar - Ada satu hal yang unik yang merupakan tradisi lama yang hingga sekarang masih dipertahakan di Bali khususnya di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar, Bali. Tradisi itu dikenal dengan nama “Omed-Omedan” atau lazim disebut med-medan yang digelar pada  Minggu (22/3).

Tradisi ini biasa digelar sehari setelah Nyepi atau saat Ngembak Geni yang berlangsung setiap tahun. Omed-omedan diselenggarakan oleh pemuda dan pemudi asli Banjar Kaja Sesetan dengan cara tarik-tarikan hingga ciuman sebagai wujud kebahagiaan di saat Ngembak Geni.

Meskipun setiap pelaksanaan Tradisi Omed-omedan identik dengan ciuman antara pemuda pemudi, namun sesuai dengan kamus besar Omed-omedan memiliki arti tarik-tarik menarik. Masyarakat Banjar Kaja menolak keras tudingan image atau kesan bahwa Omed-omedan identik dengan ciuman.

“Tradisi ini hanya sebagai bentuk luapan kebahagiaan pemuda-pemudi saat melakukan omed-omedan usai melakukan perayaan Nyepi sehari penuh,” ujar Kepala Lingkungan Banjar Kaja, Made Sukaja serya mengatakan kalau pihaknya mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Denpasar khususnya Walikota Denpasar dalam kegiatan ini

Ia mengatakan omed-omedan merupakan salah satu warisan tradisi. Tujuan mensyukuri berlalunya tahun baru saka yang lama dan menyambut tahun saka yang baru. "Salah satu bentuk syuku itu adalah tradisi Omed-omedan untuk melekatkan silahturahmi sesama anak muda sekitar Banjar Kaja Sesetan,” ungkap Made Sukaja.

Dalam pelaksanaan omedan-omedan sejumlah pemuda-pemudi mengalami kerauhan (kesurupan dalam istilah Bali) usai melaksanakan tradisi Omed-omedan. Hal ini menurut Made Sukaja sebagai bentuk restu dari yang menaungi Pura Banjar Kaja.

“Kita memang percaya dengan sesuatu yang tidak kelihatan, berarti kita percaya dengan semacam bahwa Pura ini ada yang melinggih (menghuni dalam istilah Bali) yang memberikan restu kepada kegiatan ini tentu itu bukti bahwasannya beliau ada disekitar kita. Sehingga kami selamat melaksanakannya dan jalan acara hari ini lancar. Salah satu diantaranya beliau sudah ada disekitar kita untuk merestui kegiatan ini itu bentuk kepercayaan kami,” paparnya.

Omed-omedan dipersembahkan untuk memperkaya hasanah budaya Kota Denpasar dan mewujudkan Denpasar sebagai Kota Budaya. Dalam Perda No 8 tentang Pola dasar Pembangunan Kota Denpasar tahun 2001-2005 (2001:45/c) diprogramkan bahwa tradisi Omed-omedan di Banjar Kaja, Sesetan dicantumkan sebagai sarana dan prasarana “adat dan budaya untuk mendukung atraksi wisata”. Omed-omedan merupakan ikon yang sudah mendunia.

“Kami disini cukup bahagia bisa melaksanakan tradisi warisan budaya yang telah turun temurun kami wariskan di Banjar Kaja. Kami sendiri total sekitar 350 orang namun setengah dari kami ada yang bekerja diluar dan sekolah diluar,” ungkapnya

Omed-omedan merupakan salah satu budaya yang hanya ada di Banjar Kaja Sesetan. Tradisi ini sudha ada jauh sebelum jaman penjajahan dan telah diwarisi turun-temurun. Selain itu juga budaya ini memiliki nilai-nilai seni dan kebersamaan yang diyakini memiliki nilai sakral karena terkait dengan sesuhunan (manifestasi Tuhan yang dipuja masyarakat) di Pura Banjar.

Ada dua kejadian yang melandasi ketetapan hati ini, pertama walaupun dipasang pengumuman bahwa “Omed-omedan” tidak digelar namun penonton tetap berdatangan dari luar Banjar tersebut. Kedua ketika ditiadakan terjadi pertarungan antar dua ekor babi yang asal muasalnya tidak diketahui dan tidak diketahui siapa pemiliknya.

Setelah ditempuh cara spiritual saat pujawali (Hari raya Bali) di Banjar Kaja maka diperoleh jawaban (dari yang kesurupan) bahwa Omed-omedan kehendak sesuhunan yang beristana di Pura Banjar diharapkan bisa terus dilaksanakan. 

Sumber: Suara Pembaruan