Lukisan Telanjang, Andalan Nyoman Erawan

Lukisan Telanjang, Andalan Nyoman Erawan
Lukisan karya Nyoman Erawan, Pintu Sakral. (Sahabat Gallery)
Selasa, 14 Agustus 2012 | 02:12 WIB
Nyoman Erawan memamerkan 50 karya kanvas, 50 sketsa serta 7 karya instalasi dalam pameran tunggal di Denpasar 26 Agustus hingga 25 September mendatang.

Pelukis asal Bali, Nyoman Erawan, mengandalkan lukisan dengan objek telanjang dalam pemaran lukisan di Ubud, Kabupaten Gianyar. Lukisan telanjang itu menurut Nyoman adalah salah satu wujud bahwa dalam ketelanjangan tersebut termuat nilai-nilai moral.

"Tubuh dalam selubung kesadaran jiwa itu mendambakan nilai-nilai keutamaan dan keluhuran," kata alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu di Denpasar, Senin (13/8).

Dalam pameran tunggal yang berlangsung pada 26 Agustus-25 September 2012 itu dia menampilkan 50 karya kanvas, 50 sketsa, dan tujuh karya instalasi.

Lebih lanjut Nyoman mengemukakan bahwa tubuh merupakan gambaran "jiwatman" atau badan yang terhubung dengan jiwa yang sedang berusaha menyatakan realisasi dirinya sebagai "atman" sebagai jiwa yang diciptakan dari percikan sinar kuasa Sang Pencipta.

"Bagi saya, citra tubuh diri pada lukisan-lukisan itu sekaligus merepresentasikan pengertian tentang keadaan tubuh manusia dalam sikap takzim di hadapan jagad raya," tutur Erawan yang mengambil keputusan untuk menampilkan gambaran wajah dan tubuh (diri) dalam lukisan abstrak sejak tiga tahun terakhir.

Erawan menjelaskan bahwa kitab Upanishad telah menunjukkan di mana, atau bagaimana, sejatinya jiwa bersemayam dalam tubuh diri manusia.

"Ia adalah jiwa yang paling sempurna (purusa), paling kecil, namun menguasai pengetahuan, yang bersembunyi dalam hati dan pikiran, mereka yang mengetahuinya menjadi abadi," katanya.

Jiwa yang sempurna adalah "jiwatman" yang menyadari keadaannya sebagai atman, sehingga makna terdalam dari pengertian moksa adalah pembebasan jiwa dari hukum ketetapan phunarbhawa (reinkarnasi) untuk selama-lamanya.

Dengan demikian jiwa kembali menempati tempat asal dan tujuannya yang sejati dan abadi.Guna meraih keselamatan moksa seseorang dituntut mencari dan menegakkan jalan keselamatan dalam kehidupannya.

Upaya itu dapat dilakukan dengan mensucikan jiwa dari ikatan perbuatan (karma) dan tipuan maya yang mengandung sifat sebagai kegelapan (awidya).

Ia ingin lewat karya kanvas itu mampu menyadarkan umat manusia untuk mampu menyucikan diri dalam menjalani kehidupan.