PBSI Hanya Targetkan Satu Gelar pada Indonesia Terbuka 2019

PBSI Hanya Targetkan Satu Gelar pada Indonesia Terbuka 2019
Ketua Umum PB PBSI Wiranto (ketiga dari kanan) berfoto bersama Sekjen Achmad Budiarto (ketiga dari kiri), Kabid Pembinaan dan Prestasi Susy Susanti (kedua dari kiri), pemain ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo (kanan), dan pemain ganda campuran Gloria Emanuelle Widjaja (kiri) setelah jumpa pers menjelang Indonesia Terbuka 2019 di Jakarta, Rabu (26/6/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Alexander Madji )
Alexander Madji / AMA Rabu, 26 Juni 2019 | 21:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) tidak mematok target terlalu muluk pada ajang Indonesia Terbuka yang berlangsung 16-21 Juli 2019 di Jakarta. Minimal, para atlet bulutangkis Indonesia bisa mempertahankan prestasi tahun lalu yaitu meraih satu gelar lewat pasangan ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti menyampaikan hal itu menjawab wartawan dalam jumpa pers menjelang Indonesia Terbuka di Jakarta, Rabu (26/6/2019). Hadir juga pada kesempatan itu Ketua Umum PB PBSI Wiranto dan Sekjen Achmad Budiarto, pemain tunggal putra Kevin Sanjaya Sukamuljo, dan pemain ganda campuran Gloria Emanuelle Widjaja.

“Target kami minimal mengulangi kesuksesan tahun lalu, yaitu meraih satu gelar. Namun, kami tidak hanya mengandalkan ganda putra, tetapi juga dari nomor-nomor lain seperti tunggal putra, ganda putri, dan ganda campuran. Kita menunggu kejutan dari sektor-sektor lain,” kata Susy Susanti.

Menurut Susy, upaya mempertahankan satu gelar dari turnamen berhadiah total USD 1,250 juta tidak mudah karena persaingan makin sengit, termasuk di sektor ganda putra. Meski demikian, dia tetap optimistis Indonesia bisa meraih satu gelar tahun ini.

Pada bagian lain, Susy mengakui bahwa yang akan berjuang paling keras adalah sektor tunggal putri. Di bandingkan sektor lain, tunggal putri tidak dibebani target tinggi karena paling ketinggalan dibanding nomor-nomor lain. Bahkan lolos dari babak pertama saja sudah luar biasa. Peluang untuk bisa lolos ke babak kedua ada pada Gregoria Mariska Tunjung. Pasalnya, di babak pertama ia masih berhadapan dengan pemain yang di atas kertas lebih lawan ringan, yaitu Pornpawee Choccuwong, sebelum bertemu lawan berat di babak kedua.

Senada dengan itu, Kevin juga bertekad mempertahankan gelar yang diraihnya bersama Marcus Fernaldi Gideon tahun lalu. Meski demikian, ia sadar bahwa persaingan di sektor ganda putra sekarang semakin sengit. Meski masih duduk di peringkat satu dunia, para pemain negara lain berlomba-lomba untuk mengalahkan mereka. “Karena itu, saya tidak mau terlalu muluk. Saya akan ikuti pertandingan per pertandingan saja,” kata Kevin.

Menurut dia, persiapan menjelang Indonesia Terbuka ini berjalan sangat bagus. Ia besama para pemain pelatnas lainnya memiliki waktu selama dua bulan untuk mempersiapkan diri. Walaupun, dalam kurun waktu itu, mereka tidak melakukan kompetisi. “Persiapan kami sangat baik. Kami punya waktu selama dua bulan untuk mempersiapkan diri. Meski tidak bertanding selama dua bulan, saya kira tidak akan masalah,” imbuhnya.

Saat ditanya tentang kesannya terhadap Indonesia Terbuka, pemain didikan PB Djarum itu mengaku bahwa Indonesia Terbuka adalah turnamen favoritnya. Sebab, penonton di Istora Senayan sangat fantastis dan riuh. Atmosfer seperti itu tidak pernah bisa ditemukan di negara lain.

Hal senada diakui Gloria Amanuelle Widjaja. “Penonton kita sangat total. Mereka berteriak sepanjang pertandingan. Di luar (saat bertanding di negara lain), penontonnya sepi. Kalaupun penuh, mereka hanya tepuk tangan saat meriah poin,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan