PBSI Masih Andalkan Ganda Putra di Olimpiade 2020

PBSI Masih Andalkan Ganda Putra di Olimpiade 2020
Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo (kiri). ( Foto: Antara )
Hendro D Situmorang / CAH Selasa, 23 Juli 2019 | 08:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) masih mengandalkan ganda putra guna menjaga tradisi emas di pesta olahraga terbesar dunia Olimpiade 2020 Jepang mendatang. Saat ini tiga ganda putra Indonesia ada di peringkat 8 besar dunia. Mereka adalah Kevin/Marcus di peringkat satu dunia, disusul Hendra/Ahsan di peringkat 4 dan Fajar/Rian di peringkat 6 dunia.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti mengatakan guna menjaga tradisi medali emas dalam ajang olimpiade, PBSI intensif membina atlet profesional untuk tampil pada turnamen-turnamen level dunia. Termasuk melakukan evaluasi pascaturnamen Indonesia Terbuka 2019 baik dari sisi permainan, kesiapan, hingga mencermati situasi kritis poin. Langkah ini perlu guna mengetahui dimana kelemahan sang atlet dan memperbaikinya.

"PBSI saat ini masih menjadikan ganda putra sebagai andalan mengarungi kompetisi dunia, salah satunya Olimpiade 2020 di Tokyo. Kami kerja keras mengembalikan kembali kejayaan bulutangkis di semua sektor. Namun proses peralihan dari yang muda untuk jadi pemain utama itu jelas butuh waktu," ujarnya di Jakarta, Senin (22/7).

Susy bersama semua pelatih dan pengurus PBSI berusaha mengembalikan kejayaan ganda campuran yang memiliki sejumlah prestasi dunia. Caranya menemukan dan mengasah talenta yang tepat guna menggantikan peran Lilyana Natsir (Butet) yang sudah pensiun sejak Januari 2019 lalu.

Beberapa pemain yang tengah digodok untuk meneruskan kiprah kelas dunia Butet adalah Winny Oktavina Kandow, Gloria Emanuelle Widjaja, dan beberapa atlet binaan lainnya. Diakui proses tersebut sedang dikerjakan.

Kepala Pelatih Ganda Putra PBSI, Herry Iman Pierngadi menjelaskan soal ketiga ganda putra yang kini tengah memperebutkan tiket ke Olimpiade Tokyo 2020 bahwa masa kualifikasi masih panjang dan persaingan tetap terbuka.

"Kualifikasi olimpiade kan masih sampai April 2020, masih panjang. Masih ada kandidat lain juga, Fajar/Rian dan lainnya. Kalau kandidatnya berubah ya memungkinkan juga, siapa yang siap yang akan lolos. Hendra/Ahsan harus bisa jaga kondisi fisik dan maintain kesehatan mereka. Kalau teknik sudah matang karena mereka pemain senior, yang harus dijaga itu fisiknya," ungkap dia.

Menurutnya sebaiknya prestasi para pemain-pemain muda bisa mendekati para senior, khususnya Hendra/Ahsan yang sudah tak lagi muda, tapi masih menunjukkan semangat yang luar biasa.

"Selama mereka (Hendra/Ahsan) masih bisa, kenapa enggak? Nggak ada masalah buat saya. Tapi di satu sisi, regenerasi harus cepat. Jangan selalu andalkan Hendra/Ahsan, Kevin/Marcus, yang muda-muda harus mendekati, supaya Indonesia banyak ganda putranya, bukan hanya andalkan satu-dua pasang, kalau bisa empat-lima pasang, kenapa enggak?" ujar Herry.

Herry juga menyayangkan penampilan pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang ditaklukkan Takuro Hoki/Yugo Kobayashi (Jepang), di babak perempat final Indonesia Open 2019. Ia menemukan banyak catatan yang mesti dievaluasi. Salah satu yang menjadi catatannya adalah permainan Fajar/Rian yang menoton hingga mudah terbaca lawan.

"Ada lima wakil ganda putra, tapi saya lebih tekankan ke Fajar/Rian karena mereka underperform, nggak maksimal, ini PR. Jadi evaluasi saya untuk bisa jadikan mereka lebih baik lagi di turnamen lain. Sebetulnya banyak faktor, mereka main ketat, kualitas konsentrasinya, fokusnya, dari segi daya tahan ototnya menurun. Kemarin jauh sekali sama pasangan Jepang, di bawah ekspektasi saya, saya kurang puas. Saya sudah ngobrol sama mereka dan berikan motivasi supaya ke depannya mereka lebih baik lagi," tutup Herry



Sumber: Suara Pembaruan