Susy Sebut Owi Berstatus Magang Karena Tidak Ada Pasangan

Susy Sebut Owi Berstatus Magang Karena Tidak Ada Pasangan
Apriyani Rahayu dan Tontowi Ahmad. ( Foto: Antara )
Hendro D Situmorang / AMA Selasa, 19 Mei 2020 | 14:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti angkat bicara dan menjelaskan soal status magang yang disandang Tontowi Ahmad atau yang akrab disapa Owi di Pelatnas Cipayung. Status ini disebut Owi sebagai salah satu alasan pengunduran dirinya lebih cepat dari dunia bulutangkis. Menurut Susy, status itu disandang Owi karena sejak promosi dan degradasi pada awal 2020, belum memiliki pasangan lagi.

Itu terjadi karena kepala pelatih ganda campuran PBSI, Richard Mainaky, melaporkan bahwa pasangan Owi, sejak Liliyana Natsir mundur, Winny Oktavina Kandow, akan dipasangkan kembali bersama partner sebelumnya yaitu Akbar Bintang Cahyono.

“Otomatis kan kalau kembali berpasangan dengan Akbar, berarti Winny tidak berpasangan lagi sama Tontowi dan situasi ini membuat Tontowi sementara itu belum ada pasangan main. Namun di situasi seperti itu, PBSI tetap memberikan kesempatan kepada Tontowi, tetapi dengan status SK (Surat Keputusan) Magang, karena belum punya pasangan tetap,” kata Susy dalam keterangan resmi PBSI, Selasa (19/5/2020).

Menurutnya, Tontowi memang sudah direncanakan untuk berpasangan dengan Apriyani Rahayu, tetapi belum ada kepastian tentang rencana tersebut. Apalagi di ganda putri, Apriyani bersama Greysia Polii telah lolos ke Olimpiade Tokyo 2020.

Di tengah kondisi itu, PBSI masih juga memberikan kesempatan kepada Tontowi untuk bermain di sejumlah turnamen sebagai try out karena menyandang status pemain magang. Namun seluruh program pengiriman tentunya harus disertai dengan target yang jelas.

“Apabila hasilnya baik, maka akan ada reward berupa extra try out untuk Tontowi. Hal ini juga berlaku bagi semua atlet pelatnas,” imbuh mantan ratu bulutangkis Indonesia tersebut.

Lebih lanjut, istri dari Alan Budikusuma itu mengatakan, pada 2020, PBSI memang harus bijak dalam mengatur prioritas hingga anggaran pengiriman pemain, terutama bagi mereka yang diprogramkan untuk Olimpiade Tokyo 2020.

Sebelumnya, Tontowi Ahmad mengungkapkan, status sebagai pemain magang di pelatnas menjadi salah satu penyebab ia mengambil keputusan gantung raket. Ia mengaku kaget dan keberatan dengan keputusan yang dikeluarkan PB PBSI sejak Desember 2019. Keputusan tersebut sungguh mengganggunya.

“Saya kaget dengan keputusan PBSI saat itu. Saya keberatan karena status magang biasanya untuk pemain junior yang mau masuk ke pelatnas. Sementara saya kan sudah senior, itu yang buat saya sedikit terganggu,” kata Tontowi saat jumpa pers virtual, Senin (18/5/2020).

Namun Owi mengaku tidak sempat menanyakan alasan mengenai status magang tersebut. Dirinya tidak menyangka karena sepanjang 2019 merasa tampil baik bersama Winny Oktavina Kandow. Pria yang kini berusia 32 tahun itu berharap kejadian serupa tidak menimpa pemain lain, apalagi yang sudah memberikan prestasi untuk Indonesia.

“Saya sebenarnya tidak mau membahas ini lagi. Saya juga tidak dendam. Saya pensiun sekarang, sudah tenang. Saya tak ingin bahas, tetapi saya sedikit kasih masukan ke PBSI. Seharusnya, PBSI bisa lebih menghargai pemain yang sudah memberikan prestasi untuk Merah Putih," ungkap Owi.

Menurutnya PBSI adalah organsiasi yang bisa mengayomi dan menghargai anak buahnya. “Contoh saya yang sudah berprestasi, saya tahun kemarin masih peringkat satu dunia. Saya baru dicoba satu pasangan walaupun belum pernah masuk semifinal, tetapi saya sudah kalahkan pemain top 10 besar dunia. Maksudnya saya tak sejelek itu untuk langsung dibuang,” kata Tontowi lagi.

Tontowi juga kaget karena tahun lalu sempat membahas rencana bermain bersama Apriyani Rahayu. Tontowi/Apriyani dipasangkan PBSI sejak Januari 2020 dan langsung debut di Indonesia Masters pada bulan yang sama. Sayang justru turnamen itu menjadi kejuaraan terakhir yang diikuti Tontowi sebelum akhirnya gantung raket.



Sumber: Suara Pembaruan