Kosmologi Dinasti Menteng
INDEX

BISNIS-27 434.176 (-7.76)   |   COMPOSITE 4917.96 (-77.25)   |   DBX 928.196 (-9.36)   |   I-GRADE 130.286 (-2.47)   |   IDX30 412.166 (-7.81)   |   IDX80 107.727 (-2.12)   |   IDXBUMN20 269.265 (-5.52)   |   IDXG30 115.773 (-2.54)   |   IDXHIDIV20 368.481 (-6.14)   |   IDXQ30 120.761 (-2.28)   |   IDXSMC-COM 210.292 (-3.04)   |   IDXSMC-LIQ 235.988 (-5.64)   |   IDXV30 101.893 (-1.72)   |   INFOBANK15 773.605 (-10.83)   |   Investor33 359.92 (-6.33)   |   ISSI 144.524 (-2.78)   |   JII 524.265 (-12.36)   |   JII70 177.451 (-4.14)   |   KOMPAS100 962.885 (-18.61)   |   LQ45 754.177 (-13.97)   |   MBX 1360.94 (-22.51)   |   MNC36 269.191 (-4.8)   |   PEFINDO25 256.961 (-3.11)   |   SMInfra18 232.003 (-3.38)   |   SRI-KEHATI 302.863 (-5.01)   |  

Kosmologi Dinasti Menteng

Opini: Christianto Wibisono
Ketua Pendiri PDBI dan penulis buku "Kencan Dinasti Menteng".

Rabu, 20 Mei 2020 | 23:22 WIB

Kosmologi karma politik Indonesia, setiap hari, tanggal, bulan, tahun ternyata punya makna dan keterkaitan secara kebetulan koinsidensi. Atau at random seperti teori chaos, butterfly effect. Terus validitas the Golden Rule of Karma you reap what you sow; tit fot tat, quid pro quo.

Hari Senin 18 Mei 2020 bisa sama dengan Senin 18 Mei 1998 ketika Ketua MPR Harmoko minta Pak Harto mundur. Ia ingat palu yang memutuskan pelantikan presiden Soeharto jadi presiden ketujuh kalinya patah pada 11 Maret 1998. Jadi, pelantikan itu hanya untuk 71 hari sampai lengser 21 Mei 1998.

Soeharto naik jadi presiden dengan menahan 15 menteri pada 18 Maret 1966. Setelah diultimatum oleh Ketua MPR/DPR Harmoko 18 Mei 1998, Soeharto ditinggalkan oleh 15 menteri sehingga ia harus lengser 21 Mei 1998. Sekarang persis 22 tahun siklus sejarah berputar tanggal, hari, bulan, tahun, dan peringatan yang sama Kamis 21 Mei 1998 identik dengan Kamis 21 Mei 2020, peringatan Kenaikan Isa Almasih.

Sejarah politik Indonesia tidak berbeda dari sejarah Revolusi Prancis yang sering dikutip oleh Bung Karno bahwa revolusi kadang-kadang menelan anaknya sendiri. Memang Revolusi Prancis setelah menjatuhkan Raja Louis XVI akan mengalami periode teror saling bunuh antara tokoh, seperti Marat Danton dan Robespierre dipenggal oleh guilotine yang sama.
Indonesia juga mengalami tragedi saling bunuh antar-elite yang berlangsung sekitar 20 tahun.

Presiden pertama Bung Karno menjadi perdana menteri kabinet presidensial hanya 87 hari 19 Agustus sampai 14 November 1945. Ia diganti Sutan Syahrir,perdana kabinet parlementer, yang sempat mengalami penculikan oleh kelompok Tan Malaka pada kudeta gerakan 3 Juli 1946. Pelaku penculikan dijatuhi hukuman penjara oleh Ketua Mahkamah Agung Kusumah Atmaja yang menolak intervensi Presiden Sukarno.

Nasib perdana menteri ketiga, Amir Syarifudin tragis karena ikut terlibat pemberontakan PKI Madiun 18 Septemner 1948, maka dieksekusi di masa Kabinet Hatta 19 Desember 1948. Tan Malaka yang dibebaskan dari penjara malah tertembak oleh militer dalam prahara penumpasan PKI Madiun.

Setelah itu terjadi beberapa pemberontakan lokal sporadis serta pergolakan daerah sebagai reaksi terhadap polarisasi politik nasional di Jakarta. Ada proklamasi DI/TII/NII oleh Kartosuwiryo 7 Januari 1949. pemberontakan RMS di Ambon Maluku yang memakan korban Letkol Ignatius Slamet Riyadi. Ada peristiwa Westerling di Bandung. Di Makassar, ada peristiwa Andi Azis dan munclnya Kahar Muzakkar menjadi panglima DI/TII Kartosuwiryo di Sulawesi Selatan yang juga didukung Teuku Daud Beureuh di Aceh.

Pada 17 Oktober 1952, tentara menggerakkan demo menuntut pembubaran parlemen sementara. Namun, kharisma Bung Karno luar biasa saat menenteramkan massa di halaman Istana Merdeka yang malah berteriak "Hidup Bung Karno". Padahal mereka dibayar untuk berteriak bubarkan DPR.

Jabatan KSAP Simatupang dihapuskan dan KSAD Mayjen AH Nasution diberhentikan diganti Mayjen Bambang Sugeng pada era Kabinet Wilopo PNI. Menjelang pemilu, Kabinet Ali Sastroamijoyo I yang sukses menyelenggarakan KAA Bandung April 1955 malah jatuh gara-gara konflik elite Angkatan Darat. KSAD Bambang Sugeng diganti Bambang Utoyo diboikot Wakasad Kolonel Zuklifli Lubis.

Kabinet Ali jatuh diganti Kabinet Burhanudin Harahap (Masyumi) yang menyelenggarakan pemilu terbersih dan jujur dalam sejarah Indonesia. Namun, Kabinet Ali II hanya berusia setahun. Pergolakan daerah memuncak menjadi pemberontakan PRRI/Permesta pada 15 Februari 1958.

Tahun 1962 berakhir seluruh pemberontakan di Indonesia dan Irian Barat juga sudah kembali ke tangan Republik Indonesia. Namun, di luar dugaan, justru ketika sedang berkonfrontasi dengan Malaysia, meletuslah kudeta penculikan dan pembunuhan jendael TNI Angkatan Darat oleh oknum PKI. Maka, kudeta penculikan biadab itu menjadi perang saudara yang tidak tertuntaskan karena dendam angkara murka.

Dalam pelbagai pemberontakan sebelum G30S, termasuk pergolakan PRRI/Permesta, selalu ada amnesti, abolisi, grasi, dan pembebasan, karena elite yang bersangkutan masih hidup. Namun, memang harus tetap dicatat nasib mereka yang mengalami perlakuan buruk sebagai tahanan politik (tapol), seperti Bung Karno. Syahrir juga mengalami nasib menjadi tapol pada era terakhir Bung Karno dan wafat di RS Zurich dalam status tapol dan baru menjadi pahlawan nasional setelah wafat pada 9 April 1966.

Beberapa mantan perdana menteri juga pernah jadi tapol, seperti Mohamad Natsir dan Burhanudin Harahap. Ironinya, Burhanudin Harahap adalah perdana menteri yang mengangkat Nasution kembali menjadi KSAD pada 1955, tetapi justru Nasution juga yang menahannya. Kelak, Nasution akan mengalami nasib dikuilkan oleh Soeharto sebelum akhirnya masih bisa rujuk karena juga hidup berbarengan dengan Ali Sadikin.

Soeharto sempat marah karena Ali Sadikin aktif dalam oposisi Petisi 50 sejak 1980. Ironinya lagi, justru Jenderal Soeharto sangat marah dan tidak memaafkan Ketua MPR Harmoko yang mengangkat Soeharto 11 Maret 1998 menjadi presiden ketujuh kalinya, tetapi akan menikam dari belakang pada 18 Mei 1998. Ia juga men-jotake (tidak mau bicara) dengan wapres dan menko yang memimpin eksodus 14 +1 menteri. Soeharto malah sempat menjenguk LB Moerdani (LBM)yang sakit keras dan menyatakan menyesal memecat LBM dari jabatan panglima ABRI pada 1988.

Setelah menelusuri sejarah elite dan revolusi Indonesia dengan tragedi saling culik, kita bersyukur bahwa elite kita sudah kapok dan sudah membatasi masa jabatan presiden dan mengakhiri saling menapolkan secara kurang beradab. Sudah cukup dua presiden dijatuhkan lewat demo berdarah. Sudah cukup elite saling bui, saling cegah, dan saling menapolkan.

Semoga Covid-19 ini bisa menyadarkan elite Indonesia (dan dunia) bahwa segala macam konflik antarmanusia tidak perlu diledakkan menjadi perang saudara atau perang antarbangsa. Perang dan saling bunuh sesama manusia menurunkan harkat manusia dari homo sapiens, tidak lebih manusiawi daripada virus.

Semoga fakta sejarah elite politik kita di atas tidak terulang di masa depan dan sudah cukup revolusi memakan anak sendiri di jagat politik Indonesia. Politik tidak perlu lagi pakai demo aksi massa, cukup pakai virtual on line saja. Demikian juga kampanye maupun coblosannya. Tidak ada lagi demo pengerahan massa yang memancing kerusuhan dan korban jiwa manusia, seperti 1966 atau 1998, yang juga masih dialami di Pilpres 2019. Semoga Covid-19 ini bisa mengubah manusia untuk berdamai dengan diri sendiri dalam pax covidica.


BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS