Uniknya Tradisi Budaya "Semana Santa" di Larantuka

Uniknya Tradisi Budaya
Salah satu bagian prosesi dari tradisi Semana Santa di Larantuka, Flores Timur, NTT. ( Foto: SP/Yoseph Kelen )
YOS Jumat, 29 Maret 2013 | 10:45 WIB

Larantuka - Samana Santa merupakan sebuah budaya rohani yang dilakukan oleh masyarakat Larantuka yang terletak di wilayah timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dilakukan setiap tahun, seminggu sebelum perayaan Paskah. Larantuka dikenal pula dengan nama Kota Reinha (Bahasa Portugis) yang artinya Kota Ratu atau Kota Maria. Makanya, semua umat katolik di Larantuka dan sekitarnya dengan khidmat merayakan Pekan Suci yang dikenal sebagai Semana Santa itu.

Perayaan itu dimulai pada hari Rabu, yang dikenal dengan istilah Rabu Trewa, yaitu kegiatan persiapan prosesi dengan memasangan lilin-lilin di seluruh Kota Larantuka, tepatnya di kiri-kanan jalan raya yang akan dijadikan rute prosesi. Saat itu pula dilakukan persiapan dan penyelesaian pekerjaan delapan buah Armida yaitu tempat perhentian kontemplatif. Sejak Rabu Trewa itulah, Kota Larantuka berubah menjadi kota berkabung, untuk mengenang kisah sengasara Yesus, wafat dan bangkitan.

Puncak perayaan Semana Santa sendiri adalah Jumat Agung atau Sesta Vera. Pagi hari, diadakan arak-arakan bahari, mengantarkan Tuan Menino (patung kanak-kanak Yesus) dari kapela Tuan Menino (Kota Sau) ke Kapela Pohon Sirih (Larantuka).

Siang hari, dari Kapela Tuan Ma, dilakukan perarakan patung Bunda Maria (Tuan Ma dalam bahasa Nagi) yang menjemput patung Yesus Kristus (Tuan Ana) di kapela Tuan Ana, untuk diarak bersama-sama menuju Katedral Larantuka. Sore dan malam hari, setelah Misa Jumat Agung dan upacara penghormatan salib, dari Katedral Larantuka dimulailah perarakan patung Tuan Ana dan Tuan Ma mengelilingi Kota Larantuka, melalui delapan titik perhentian kehidupan (Armida).

Ribuan lilin di sepanjang rute prosesi dan di tangan para peziarah menjadikan Larantuka sebagai kota perkabungan suci. Makna religi prosesi yang kental dengan gaya Portugis ini sesungguhnya adalah menempatkan Yesus sebagai pusat ritual, serta menempatkan Bunda Maria sebagai ibu yang berkabung (Mater Dolorosa) karena menyaksikan penderitaan Yesus anaknya, sebelum dan saat disalibkan di Bukit Golgota pada saat itu.

Prosesi Samana Santa itu berlangsung hingga dini hari Sabtu Santo. Makna prosesi religius ini hanya satu-satunya di dunia dan telah berusia 5 abad, yang menjadi daya pikat banyak peziarah Katolik yang tergerak untuk mengikuti prosesi rohani. Menurut data Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, jumlah peziarah pada tahun 2012 tercatat sebanyak 11.253 orang dari nusantara dan mancanegara, belum termasuk peziarah lokal NTT serta penduduk lokal yang mengikuti prosesi Semana Santa. Angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk 2013, yang terdata sudah mencapai 15.300 peziarah. Jumlah tersebut bukan saja dari umat katolik, melainkan juga umat dari lima agama yang ada di Indonesia.

Tradisi lain dalam Semana Santa adalah "esmola", yakni sedekah amal. Esmola ini dilakukan oleh ibu-ibu yang selamat saat melahirkan. Ibu-ibu ini didampingi beberapa "kebara" (anak masih gadis), mengenakan sarung dan mendatangi rumah-rumah warga untuk meminta sedekah.

Dengan membawa tongkat dan ditemani gadis-gadis yang membawa "nera" (bakul), sesampai di rumah yang ditujui, tongkat diketukkan pada pintu rumah sambil berujar, "Jemola de Deo (sedekah demi Allah)!" Tuan rumah akan menjawab, "Custura de Deo (petunjuk Allah), maso ke mari!" Sedekah yang terkumpul kemudian diletakkan di kapela yang nantinya akan dibagikan kepada fakir miskin dan orang sakit.

Upacara mengaji Semana Santa berakhir hari Rabu Trewa, oleh Suku Kapitan Jentera, suku yang berkedudukan sebagai panglima perang Kerajaan Larantuka. Usai mengaji, Suku Kapitan Jentera melapor kepada Raja Larantuka, bahwa ritus mengaji semana telah selesai dan siap dilanjutkan dengan prosesi Jumat Agung.

Pada malam mengaji semana berakhir, diadakan pula liturgi lamentasi (nyanyian ratapan Yeremia). Setelah selesai lamentasi, umat membunyikan benda-benda seperti kaleng, seng ataupun benda lain, sambil berteriak "Trewa... trewa..!", sebagai tanda bagi seluruh umat untuk tidak melakukan aktivitas berat. Umat Katolik di Larantuka dilarang bepergian ke luar wilayah Larantuka, agar sama-sama memasuki masa perkabungan agung.

Padam malam Rabu Trewa, di Istana Raja Larantuka dilaksanakan pula upacara untuk menentukan siapa yang membawakan ovos (nyanyian ratapan) pada salah satu armida. Di Istana Raja itu juga dilakukan persiapan terakhir di mana para confreria melatih koor yang akan dinyanyikan pada prosesi Jumat Agung.

Keesokan harinya, Kamis, dalam liturgi Gereja Katolik disebut sebagai hari Kamis Putih. Di hari itu, semua umat Katolik Larantuka melakukan "tikam turo", yaitu memancang tiang-tiang kecil di sisi kiri dan kanan jalan yang akan dilalui saat prosesi Jumat Agung keesokan harinya. Pada tiang-tiang kayu itu dipasang pula belahan kecil bambu yang akan dipakai sebagai tempat untuk menjejerkan lilin-lilin yang dinyalakan pada malam Jumat Agung.

Tidak sembarang kayu yang dipakai untuk "tikam turo" tersebut, melainkan harus kayu "kukung". Pihak yang mengambil peran dalam tradisi "tikam turo" disebut Mardomu. Kata "mardomu" sendiri berasal dari bahasa Latin, "maior" dan "domus", yang berarti rumah besar. Mardomu disebut juga tuan pesta. Mardomu atau nazar agung (permesa) ini, dilakukan oleh seseorang atau sebuah keluarga yang dengan segala wujudnya, menanggung tanpa pamrih segala kebutuhan untuk keperluan prosesi sebagai wujud melayani Tuhan.

 

Sumber: Suara Pembaruan