ARKI: Taman Hiburan di Indonesia Sudah Jauh Tertinggal

ARKI: Taman Hiburan di Indonesia Sudah Jauh Tertinggal
Dunia Fantasi (Dufan). ( Foto: Istimewa / )
/ YUD Kamis, 11 September 2014 | 16:02 WIB

Jakarta - Pembina Asosiasi Rekreasi Keluarga Indonesia (ARKI) Rachmat Sutiono mengatakan taman rekreasi hiburan atau theme park dan atraksi di Indonesia sudah jauh ketinggalan dibandingkan negara tetangga terutama Singapura dan Malaysia.

"Kalau dibandingkan dengan taman-taman hiburan di luar negeri, kita ketinggalan jauh," kata Rachmat yang juga Ketua Asia Pacific Chaptep International Association of Amusement Park & Attraction (IAAPA) di Jakarta, Kamis (11/9).

Menurut dia fakta itu memprihatinkan mengingat sekitar dua hingga tiga dekade lalu, Indonesia adalah pemimpin bisnis theme park dengan hadirnya Dunia Fantasi (Dufan) Ancol yang merupakan salah satu theme park pertama di Asia.

Dufan bahkan ketika itu kerap kali diiklankan di negara tetangga Malaysia dan Singapura hingga mampu menjaring banyak wisatawan dari dua negara itu ke Indonesia.

"Tapi sekarang yang justru banyak diiklankan di Indonesia adalah Sentosa, Universal Studio Singapura, Legoland dan Hello Kitty di Malaysia," katanya.

Padahal bisnis theme park sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan di tanah air mengingat populasi penduduk yang besar.

Pihaknya menganalisis berbagai penyebab yang mendorong ketertinggalan perkembangan theme park di Tanah Air di antaranya lantaran adanya bea masuk bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di bisnis tersebut.

"Pengusaha harus membayar pajak hiburan yang bahkan di Malaysia dan Singapura sudah dinolkan," katanya.

Menurut dia menanamkan modal untuk bisnis theme park di Indonesia tercatat lebih mahal sekitar 30 persen ketimbang di Malaysia dan Singapura.

Pihaknya memantau pajak hiburan yang besarnya berkisar 15-20 persen cukup memberatkan operator.

"Selain itu perizinan juga relatif menghambat, di samping retribusi yang lumayan besar harus di-renew setiap tahunnya," katanya.

Industri juga menghadapi persoalan penurunan nilai mata uang rupiah karena hampir seluruh alat permainan berasal dari impor.

"Kami berharap ada keberpihakan pemerintah mengingat industri ini menyerap banyak tenaga kerja dan mendatangkan banyak wisatawan," katanya.

Sumber: Antara